Kamis, 30 Maret 2017
Islam, Solusi atas Maraknya Pencurian
Rabu, 29 Maret 2017
Bendera Rasulullah
Teringat akan Rasulullah
Manusia mulia tercinta
Rahmat bagi sekalian alam
Teringat akan para shahabat
Panglima Mush'ab di medan Uhud
Panglima Zaid bin Haritsah,
Ja'far bin Abu Thalib,
Dan Abdullah bin Rawahah di medan Mu'tah
Teringat Khalid Sang Pedang Allah
menggedor keangkuhan Persia dan Romawi,
menggetarkan kesombongan kaum musyrik,
menghinakan kaum murtad dan nabi palsu,
dan membuat musuh Allah gelisah tanpa nyenyak
Mengangkatnya penuh kemuliaan
Di hadapan syirik dan kekufuran
Menancapkannya di seluruh bagian bumi Allah
Ialah bendera Islam
Bendera Rasulullah
Selasa, 28 Maret 2017
Bendera Islam
Bendera Islam
Mengharap ridla Allah
Dibiasi air yang tersinari mentari
Mengibar bendera Islam
Menyubur ukhuwwah
Mengubur ashobiyyah
Menjunjung bendera Islam
Segagah Zaid bin Haritsah
Di padang pasir Balqa'
Menjemput taman-taman surga
Di hadapan Romawi terhina
Menunjuklah ke langit
Simbol persatuan umat
Satu Islam
Satu bendera
Satu perjuangan
Hanya Allah sebagai tujuan
Panji Rasulullah
Setegar syuhada Badar
Seteguh mujahid Uhud
Sekokoh para panglima Mu'tah
La ilaha illallah
Muhammadurrasulullah
Dalam ketegasan hitam dan putih
Setegas Bilal bin Rabah
Di hadapan pongah Umayah
Sarat keistiqomahan iman
Kibarkan panji kita
Panji Rasulullah
Liwa Muhammad
Dua syahadah utama
La ilaha illa Allah
Muhammadun Rasulullah
Mush'ab al-Khair
Sang bintang mahkota dakwah
Dalam sebuah ghazwah Rasulillah
Duta Islam pertama maju menerjang
Mengangkat liwa Muhammad
Ia berseru, "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, telah didahului sebelumnya oleh para Rasul."
Hingga menjemput syahid dengan seyuman
Di medan Uhud fi sabilillah
Lapuk
Sekulerisme
Selasa, 21 Maret 2017
Krisis Tokoh Idola
Seringkali mengabaikan tentang apa yang dijadikan pijakan oleh para pemimpin Islam yang adil tersebut, yakni Islam.
Jumat, 17 Maret 2017
Sejengkal Demi Sejengkal
Rabu, 15 Maret 2017
Ijmak Shahabat (bag. 1)
Ijmak (kesepakatan) shahabat bukanlah kesepakatan biasa, namun kesepakatan yang diridhai oleh Allah Swt. Syaikh Muhammad Husain Abdullah menjelaskan dalam al-Wadhih fi Ushuli al-Fiqhi bahwa dalil ijmak shahabat disandarkan pada :
(TQS. Al Fath[48] : 29)
(TQS. At Taubah[9] : 100)
Selasa, 14 Maret 2017
Meraih Nilai Materi
(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,
dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi."
(TQS. al-Muthaffifin : 1-3)
Wallahu a'lamu bishshawwaab.
#IslamRahmatanLilAlamin
#MudahNulis
Senin, 13 Maret 2017
Syariah dan Khilafah adalah Solusi, bukanlah Ancaman
“Kita sudah berikrar bahwa inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin (sesungguhnya sholatku, perbuatanku, hidup dan matiku untuk Allah Rabb semesta alam, pen.),” tegas Juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia, Ust. M. Ismail Yusanto, di Masjid Al Mujahidin Kota Tasikmalaya (13/03/2017). Beliau pun melanjutkan pernyataannya dengan sebuah pertanyaan, “Mendakwahkan Syariah dan Khilafah itu lillah (untuk Allah) atau lighairillah (untuk selain Allah)? menghambat penegakkan Syariah dan Khilafah itu lillah atau lighairillah? Jadi, pilihannya hanyalah lillah atau lighairillah.”
Pernyataan tersebut merupakan pernyataan penutup Ust. Ismail dalam sebuah forum yang digagas oleh DPD II Hizbut Tahrir Kota Tasikmalaya. Pengajian umum yang bertema “3 jam lebih dekat bersama Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia” ditujukan untuk menjelaskan bahwa Syariah dan Khilafah merupakan solusi dan bukanlah ancaman.
Beliau menyampaikan bahwa tidak hanya terhadap Syariah dan Khilafah, belakangan ini terjadi peningkatan islamophobia di dunia. Kebanyakan alasannya tidak bisa dijelaskan oleh akal. Misalnya, ada larangan shalat dan berwudlu bagi siswa muslim di Jerman, pelarangan niqab (cadar) dan burqini di Perancis, pelarangan pembangunan menara mesjid di Swiss, larangan penyembelihan hewan sesuai syariah Islam di Belanda. Apakah dengan berwudlu dan memakai niqab akan mengakibatkan ledakan dan gedung-gedung hancur? tanya beliau secara retoris. Pertanyaan ini pun langsung mengundang riuh tawa para hadirin. Malahan syariah berwudlu itu justru sejalan dengan anjuran medis dan baik dari sisi kesehatan.
Apalagi Perancis yang menganut slogan liberte (kebebasan), egalite (kesamaan) dan fraternite (persaudaraan). Di manakah liberte kalau burqah saja dilarang? di manakah egalite ketika terjadi pengusiran kaum muslim pemakai burqini di pantai? Di manakah fraternite jika kaum muslim yang diperlakukan sedemikian itu nyata-nyata warga negara Perancis itu sendiri. Inilah islamophobia yang telah menabrak ide-ide yang telah mereka kembangkan sendiri, jelasnya.
Jubir HTI mengajak para hadirin untuk membandingkan dengan apa yang telah dilakukan oleh Islam. Islam itu rahmatan lil ‘alamin, Islam membawa kebaikan untuk muslim dan non muslim, tandasnya. Ketika Syariah Islam diterapkan, non muslim tidak akan dipaksa untuk masuk Islam, tempat ibadah mereka pun tidak akan diganggu.
Jangankan di masa damai, di masa perang pun hal itu (merusak tempat ibadah non muslim, pen.) dilarang.
Heterogenitas dan pluralitas bukanlah sesuatu yang asing dalam Islam. Masyarakat Islam yang dibangun oleh Rasulullah di Madinah merupakan masyarakat yang heterogen. Begitu pula Spanyol yang selama 700 tahun dalam kekuasaan Islam, non muslim hidup dengan aman dan tentram. Para ahli sejarah Barat menyebutnya Spanyol in Three Religion; Islam, Yahudi dan Nashrani. Jika kaum muslim tak boleh dibunuh tanpa haq atau legal reason, begitu pula terhadap non muslim. Bahkan, tatkala terjadi pengusiran terhadap Yahudi, Muhammad Al Fatih menampungnya di bukit Galata. Kaum Yahudi beranak pinak di sana hingga membuat sinagog. Komunitas Yahudi dan sinagog tersebut masih ada sampai saat ini. Bukit Galata merupakan monumen bagaimana rahmatan lil ‘alamin-nya Islam.
M. Ismail Yusanto pun menjelaskan bahwa metode dakwah Hizbut Tahrir adalah pemikiran dan tanpa kekerasan. Karena tidak mungkin kita mengubah perilaku seseorang dengan kekerasan. Tentunya orang bisa berubah perilakunya kalau berubah pemikirannya. Dakwah pemikiran inilah yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir selama ini, termasuk di Indonesia. Dakwah pemikiran seperti apa? tentunya menyampaikan Islam dan menentang selain Islam, tegasnya.
Ketika ditanya tentang bendera hitam dan putih yang sering dibawa oleh para aktifis Hizbut Tahrir Indonesia, beliau menjelaskan bahwa itu merupakan bendera Rasulullah. Beliau membacakan sebuah hadits dari Ibnu Abbas r.a. yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim, Baihaqi al-Baghawi dan ath-Thabrani.
“Rayatuhu aswad[un] wa Liwauhu abyadh[un], panji Rasulullah berwarna hitam dan bendera beliau berwarna putih,” jelasnya. Begitu pula tulisan yang tertera pada bendera tersebut sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Bendera Rasulullah bertuliskan La ilaha illallah muhammadurrasulullah.” (THR. ath-Thabrani).
Beliau menolak kriminalisasi terhadap panji Rasulullah dengan alasan ada kemiripan dengan bendera ISIS. Khat (tulisan)-nya saja berbeda, pun sedari awal Hizbut Tahrir sudah menolak klaim khilafah ala ISIS. Bahkan salah salah seorang aktifis Hizbut Tahrir di Suriah, Musthafa Ghayal, dieksekusi oleh ISIS karena menolak berbaiat kepada Al Baghdadi. Jadi, bendera hitam dan putih yang sering dibawa oleh aktifis Hizbut Tahrir adalah Al Liwa dan Ar Rayah yang merupakan panji Rasulullah Saw.
(Ary H.)
Senin, 06 Maret 2017
Naluri Melestarikan Jenis; Agar Tak Sekedar Cinta dan Sayang
Manusia diamanahi oleh Allah Swt sebagai pengurus bumi. Karena itu, penting baginya untuk dapat hidup lestari. Beranak pinak dan berkembang, sehingga berada di setiap tempat dan masa. Untuk itulah manusia diberi potensi melestarikan jenis. Naluri yang membuat pria suka terhadap wanita dan sebaliknya, orang tua sayang terhadap anak-anak, anak cinta terhadap orang tua, kakak sayang terhadap adiknya begitu pun sebaliknya. Atau, kita pun sering tumbuh rasa gemas dan suka terhadap bayi. Itulah beberapa penampakan naluri melestarikan jenis.
Allah Swt menumbuhkan naluri ini pada setiap manusia. Jika ada manusia yang tidak merasa memiliki naluri tersebut, bisa jadi ia telah silap karena memenuhi naluri yang lain. Sebagaimana kaum Nabi Luth yang lebih mementingkan naluri eksistensi diri dibandingkan dengan naluri melestarikan jenis. Mereka lebih mementingkan ego dan kesombongan meskipun hal tersebut pada hakikatnya mengancam kelestarian kaumnya.
Mukmin maupun kafir, ahli taat atau maksiat, keduanya dianugerahi naluri ini. Karena itulah, orang kafir pun sayang kepada anak-anaknya, suami atau istrinya serta terhadap orang tuanya. Oleh karena itu, kasih sayang antara orang tua dan anak merupakan sesuatu yang alami, tak ada yang 'istimewa' dalam hal tersebut.
Islam telah mengarahkan pemenuhan naluri melestarikan jenis ini dengan cara yang khas, sehingga Islam bisa membuat pemenuhan naluri ini menjadi sangat istimewa. Ia tak hanya membuat manusia bisa berkasih-kasih di dunia namun tembus hingga setelah dunia tiada.
Supaya jelas nasab manusia serta tak terjaga kelestariannya, Islam telah mensyariatkan nikah. Bahkan Rasulullah Saw menegaskan bahwa nikah tersebut merupakan sunnah (jalan) beliau dan barang siapa yang tidak suka dengan sunnah menikah (lebih memilih berzina, pen) maka bukan golongan Rasulullah. Islam mengarahkan rasa suka terhadap lawan jenis sesuai fitrahnya, sehingga tidak menghilangkannya seperti ajaran kerahiban dan tidak pula mengumbarnya secara bebas laksana hewan, sebagaimana ajaran kebebasan (liberalisme).
Islam telah mengarahkan rasa sayang orang tua terhadap anaknya. Bukan dengan memenuhi setiap keinginan anak, tetapi mendidiknya supaya keinginan anaknya terpenuhi sesuai dengan perintah Allah. Peran orang tua dalam hal ini sangatlah penting, hingga Rasulullah Saw menegaskan bahwa orang tua-lah yang bakal meng-yahudi-kan atau me-nashrani-kan anaknya. Allah Swt pun mengingatkan kita dalam QS. at-Tahrim : 6, yang artinya :
"Wahai sekalian orang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari siksa api neraka."
Begitu pula sebaliknya, rasa sayang anak terhadap orang tua. Islam mengaturnya hingga setelah orang tua kita tiada. Islam menegaskan bahwa keridloan Allah terletak pada keridloan orang tua. Islam mewajibkan anak untuk taat dan berbakti kepada orang tuanya, terkecuali jika keduanya mengajak untuk bermaksiat kepada Allah Swt. Islam menjadikan anak shalih yang selalu mendo'akan kedua orang tua sebagai amal jariyah, sebuah amal yang pahalanya terus mengalir hingga orang tua tiada.
Kita tak hanya membutuhkan naluri melestarikan jenis berupa cinta dan sayang, tapi lebih dari itu kita membutuhkan ajaran Islam, agar naluri ini bisa berjalan sesuai fitrah. Sehingga pemenuhannya membawa ketenangan dan kebahagian untuk seluruh manusia, serta berkah di dunia dan di akhirat. Wallahu a'lamu bishshawwaab.
(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)
#MudahNulis














