Rabu, 29 April 2015

Setelah Ujian Nasional Berlalu

Image result for ujian nasionalAlhamdulillah, akhirnya pecah juga tuh bisul ya? Hehehe… iya kita anggap aja Ujian Nasional (UN) sebagai ‘penyakit bisul’. Sebab, rasa-rasanya persiapan sebelum UN udah bikin otak kita nggak bisa kerja nyantai, pikiran dibuat pusing, perasaan nggak tenang, emosi nggak stabil. Kadang semangat, kadang melempem. Ditambah lagi suasana tegang pas hari H Ujian Nasional SMA yang baru aja lewat pekan kemarin. Wuih, selama ujian tiga hari itu kamu pasti berkecamuk dengan banyak pikiran dan perasaan. Maka, setelah UN berlalu, rasanya lega dan plong. Kayak pecah bisul tuh (baksound: bagi yang udah pernah ngerasain bisul, apalagi tuh bisul di pantat. Wah!)
Guyz, kita semua berdoa semoga saja apa yang kamu harapkan dan inginkan terkabul ya. Tentu saja keinginan yang baik-baik: kamu semua lulus UN. Insya Allah. Namun, perlu diingat juga lho bahwa lulus UN tuh bukan akhir dari segalanya. Sehingga kamu nggak bisa bebas gitu aja. Masih ada babak baru kehidupan yang bakal kamu jalani. Bisa nerusin kuliah, dan itu berarti kudu ikut seleksi lagi. Bisa pula terjun ke dunia kerja atau wirausaha. Begitu juga buat kamu yang kebetulan belum berhasil lulus, tetap sabar dan ambil hikmahnya aja. Selama langit belum runtuh dan bumi belum terbelah, kamu masih punya kesempatan untuk maju, agar hidup kamu tetap memiliki harga dan bermakna. Setuju kan?
Sobat muda muslim, tulisan gaulislam kali ini sekadar ingin mengajak kamu evaluasi diri sekaligus menggali potensi yang kamu miliki agar terus termotivasi untuk maju dan bangkit dengan kemampuan yang kamu miliki. Mudah-mudah ini membantu kamu untuk bisa mengubah cara pandang kamu tentang masa depan dan juga tentang pendidikan dan agar tradisi belajar menjadi lebih progresif.
Maklumlah, banyak cara pandang di tengah masyarakat yang mengukur kesuksesan seseorang semata dari tingkat pendidikannya, dari nilai akademiknya, dari status sosialnya. Padahal, nggak selalu dan nggak otomatis kalo ada yang nilai akademiknya pasti sukses hidupnya. Belum tentu. Wong, bertebaran alias pabalatak sarjana yang baru lulus tapi nggak punya pekerjaan, sementara di antara mereka banyak yang nilai akademiknya bagus dan dari kalangan berada. Jadi, tingkat pendidikan dan nilai akademik serta status sosial bukan jaminan mutlak hidup bisa sukses.
Oya, saya nulis gini bukan nakut-nakutin atau mengabaikan tingkat pendidikan dan nilai akademik. Nggak juga. Hanya saja ini bicara dalam konteks kesuksesan. Tentu aja, yang ideal tuh menurut ukuran logika kita adalah pendidikan tinggi, nilai akademiknya bagus, status sosialnya di level atas dan hidupnya sukses. Dunia dan akhirat pula. Wah, itu keren banget. Tapi sekali lagi, nggak selalu begitu kenyataannya.

Geber terus motivasi dan kreativitasmu
Sobat, setelah Ujian Nasional tingkat SMA kamu ikutin, tentu saja kamu semua berharap untuk lulus. Itu wajar dan sah-sah saja. Manusiawi kok. Pengen dapet nilai bagus juga wajar karena dengan begitu kita jadi bisa ngukur kemampuan diri dari angka-angka yang didapat itu. Namun, nilai ujian yang bagus dan kelulusan kamu nggak bisa ngejamin juga untuk kemudian bisa menikmati pendidikan di perguruan tinggi, yang—selain harus ikut seleksi masuk lagi, juga bakal tambah biaya untuk nerusin pendidikan di tempat tersebut.
Maka, kini saatnya kamu dan kita semua berpikir lebih realistis dan pandai mencari peluang untuk bisa tetap esksis meskipun kenyataan pahit—tidak lulus UN atau nggak bisa nerusin studi, plus nggak dapet kerjaan dengan background pendidikan yang kamu miliki—tidak menjadikan kamu putus asa dan bahkan buntu berpikir. Padahal, dunia tak selebar daun telinga, Bro. So, di sinilah perlunya motivasi dan kreativitas yang kuat untuk tetap bisa bertahan hidup dan menghasilkan karya dan prestasi demi kemaslahatan diri dan orang lain. Bisa kok. Insya Allah.
Bro, kadang dalam hidup ini tak selamanya kita bisa memilih. Kalo bisa milih sih, pasti yang baik-baik inginnya semua diraih. Tapi, sayangnya hidup nggak selalu begitu. Kadang, atau bahkan seringkali kenyataan pahit yang kita terima. So, sepahit apapun, kenyataan itu harus kita telan sambil berusaha untuk bangkit agar tak dijajah oleh kenyataan pahit tersebut. Di sinilah perlunya motivasi dan kreativitas kita untuk bisa terus bertahan sambil berusaha mengubah kenyataan hidup menjadi lebih baik.
Banyak kok, mereka yang tetap bisa berjalan dengan kepala tegak meski tingkat pendidikannya paling tinggi mentok di sekolah lanjutan tingkat atas atau malah cuma finish di tingkat SD dan SMP. Tapi soal kemampuan di bidang tertentu yang dimiliki, mereka bisa bersaing kok dengan orang yang ngenyam pendidikan tinggi. Nah, jadi yang penting adalah semangat belajar dan kreatif. Dan, yang namanya belajar dan berkreativitas tak harus mengenyam pendidikan tinggi dan “makan” bangku sekolahan. Tidak selalu. Betul itu.
Buktinya? Sekadar contoh aja ya. Saya pernah bekerjasama dalam sebuah tim untuk mengelola media massa, dan salah seorang di antara kami yang mengerti tentang komputer dan teknologi informasi kalo nggak salah pendidikan SMP-nya aja nggak kelar, gitu. Boleh percaya boleh tidak, tapi itu kenyataannya.
Sebabnya apa dia bisa memiliki kemampuan itu? Karena ia banyak belajar dari siapa pun secara informal dan motivasinya untuk belajar sangat tinggi ditambah kreatif sehingga ilmu yang didapat itu langsung dipraktikkan. Bahkan lucunya, dia mahir bahasa Inggris tanpa belajar di sekolah dan tempat kursus khusus, doi hanya sekadar nonton film berbahasa Inggris dan mencoba mencocokkan teks terjemahan yang ada dengan gerak mulut pemain film tersebut dalam berbicara. Unik juga ya? Itulah belajar yang mudah dan murah.
Oya, kalo boleh sedikit berbagi sih, saya juga termasuk yang “anomali” menurut sebagian orang. Katanya sih begitu. Setidaknya kalo saya ngisi acara jurnalistik atau kepenulisan, padahal menurut mereka latar belakang pendidikan saya nggak match dengan kemampuan menulis saya yang lebih banyak menyoroti dunia remaja dari sudut pandang Islam. Yup, memang waktu pertama menulis beberapa buku itu, pendidikan yang saya cantumin di biodata adalah alumnus sekolah kejuruan kimia. So, nggak nyambung banget kata mereka. Tapi, saya sih merasa biasa-biasa aja (ciee.. kagak maksud nyombong, Bro!).
Adapun kemampuan menulis dan mengkaji Islam yang saya miliki karena saya belajar sendiri secara informal, dari siapa pun dan dari buku siapa pun. Inspirasi yang saya dapatkan langsung saya praktikkan. Motivasi saya untuk bisa menulis cukup kuat dan saya berusaha untuk kian kreatif dengan setiap ilmu atau keterampilan baru yang saya dapatkan.
So, kamu semua bisa melakukan hal sama atau bahkan lebih baik lagi dari saya dan teman saya itu. Kuncinya di motivasi dan kreativitas. Oya jangan lupa, kita harus ikhlas dalam belajar dan semata mengharap ridho Allah. Tiada kesuksesan tanpa izin dari Allah Swt. Oke?

Tentukan tujuan hidup, Bro
Menentukan tujuan hidup untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat sebenarnya bisa sejak kecil ketika kita sudah mulai ngerti. Prinsip dan pemahaman itu ditanamkan kuat dalam benak kita. Namun, insya Allah belum terlambat jauh kalo sekarang kamu mulai berpikir ke arah sana. Sebab, kamu pasti butuh pijakan dan arah jalan hidup. Setelah lulus sekolah tingkat lanjutan atas umumnya cuma dua pilihan. Nerusin studi sampe ke jenjang pendidikan tinggi atau langsung terjun ke dunia kerja. Meski banyak pula yang akhirnya cuma nongkrong nggak punya aktivitas yang bermanfaat banyak untuk diri dan orang lain.
Boys and gals, semangat belajar harus tetap ada di jiwamu, sebab dalam hidup ini memang senantiasa belajar. Pilih bidang keahlian yang kamu sukai dan minati dengan sangat kuat. Mulailah memoles diri dengan banyak belajar agar kemampuanmu makin mahir. Sambil tentunya mempraktikannya dengan benar dan baik. Kalo kamu ingin terjun ke dunia usaha dengan berjualan kecil-kecilan, silakan nikmati dan terus berusaha untuk mengembangkannya. Jika kamu berminat terhadap dunia tulis-menulis, belajarlah dengan tekun karena kemahiran—apalagi kesuksesan tidak ditempuh dengan instan.
Oya, jangan lupakan juga kehidupan masa depanmu yang abadi, yakni di akhirat. Maka, cari deh peluang usaha dan keterampilan yang halal dan bisa mendatangkan berkah. Kalo bisnis ya jangan curang, jangan menipu. Jika menulis, menulis untuk syiar kebenaran Islam. Kalo punya minat mempelajari komputer dan internet, hasilnya dipraktikkan untuk mendakwahkan keagungan Islam. Hmm… insya Allah itu akan mendatangkan pahala dan manfaatnya bisa dirasakan banyak orang. Sip kan?
Lagi pula, hidup di dunia ini cuma sementara dan cuma diberi kesempatan sekali. Manusia nggak ada yang abadi hidup di dunia dan nggak ada yang udah mati balik lagi. Maka, mumpung masih diberi waktu untuk hidup, kita selalu bergerak untuk belajar tentang kebenaran dan kebaikan dalam menempuh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kamu pasti bisa deh. Dunia dan seisinya bukanlah tujuan akhir. Ya, sebatas tempat istirahat saja. Tapi tentu harus nyaman dan bisa membuat kita bahagia. Sementara akhirat adalah tujuan abadi dan harus nyaman dan bahagia juga di sana. Amalan kita saat ini yang menentukannya.
So, cobalah beberapa tips berikut. Pertama, luruskan niat dalam beramal, yakni ikhlas karena Allah Swt. memang mewajibkan kita beramal dengan benar dan baik. Kedua, pelihara terus semangat belajar meski udah lulus sekolah dan nggak mengenyam lagi pendidikan formal. Belajar tiada henti deh untuk mengetahui bidang keahlian apa pun. Siapa tahu bisa digunakan kelak dan membantu kehidupan kita. Ketiga, kuatkan motivasi dan asah terus kreativitas agar kemampuan kita makin hebat. Keempat, belajarlah dengan keras dan sabar. Kelima, teruslah berinovasi untuk mencoba hal-hal baru. Siapa tahu berguna pada esok hari.
Ayo, tetap semangat belajar meski ujian nasional udah berlalu. Dan, jangan bengong aja kalo pun kemudian kamu nggak nerusin kuliah atau bagi kamu yang dari sekolah kejuruan belum juga dapetin pekerjaan yang cocok dengan bidang keahlian yang kamu pelajari di sekolah. Jangan putus asa. Insya Allah masih banyak peluang usaha untuk bisa sukses. Siapa tahu ‘pintu’ rejeki kamu memang ada di bidang keahlian lain yang bertolak-belakang dengan keahlian yang kamu pelajari di sekolah atau kuliah. Jadi, teruslah belajar tak pernah henti. Semangat! [osolihin: sholihin@gmx.net]

Sumber : gaulislam edisi 027/tahun I (21 Rabiul Akhir 1429 H/28 April 2008

Senin, 27 April 2015

Istiqomah dalam Idealisme Dakwah

Image result for istiqomah dakwah khilafah
Pada tahun 2000-an Penulis pernah berkesempatan menjadi panitia sebuah kegiatan keagamaan. Saat itu Penulis bersama beberapa teman masih aktif di Lembaga Dakwah Kampus (LDK) pada salah satu PTS di Jogjakarta. Masih terngiang sampai saat ini, ketika itu salah satu pembicara mengatakan bahwa dunia mahasiswa adalah dunia yang sangat idealis. Dunia mahasiswa bukanlah dunia nyata. Dunia nyata adalah saat kita sudah keluar dari kampus. Kita yang sekarang, bisa jadi bukanlah kita yang nanti. Begitulah kurang lebih ia menuturkan pada awal penyampaian materinya. Pada saat itu Penulis berpikir, apa maksudnya? masa iya seperti itu dunia di luar kampus? Tapi, apa yang disampaikan Sang Pemateri tersebut kini menjadi kenyataan. Sekitar 15 tahun telah berlalu, kami yang dulu aktif di LDK pun sekarang sudah tersebar di berbagai tempat. Saat ini, berbagai profesi pun telah kami sandang. Namun, hanya segelintir saja di antara kami yang masih menjadi aktifis dakwah. Bahkan, para senior pun banyak yang berguguran. Ternyata, istiqomah itu tidaklah mudah.

Berjalan dengan penuh keistiqomahan memang akan menghadapi banyak godaan. Apalagi istiqomah dalam hal yang bersifat prinsip dan kebenaran. Ada orang yang pada saat mudanya, teguh sekali memegang aturan Islam. Jangankan pacaran, ketemu lawan jenis saja ia langsung memalingkan muka. Tapi ketika sudah beristri dan bekerja, ia malah menjadi berani untuk boncengan dengan rekan kerjanya yang bukan mahrom, kerap yang menjadi alasannya adalah tuntutan pekerjaan.

Kita mungkin masih ingat peristiwa reformasi 1998. Saat itu para aktifis pemuda dan mahasiswa gencar sekali menentang korupsi. Saat ini tidak sedikit di antara mereka yang memegang jabatan di pemerintahan, tapi semua idealisme anti korupsinya telah luntur, malahan tak jarang justru menjadi biangnya korupsi.  Atau bahkan ada aktifis Islam yang bertahun-tahun menyuarakan Islam sebagai satu-satunya ideologi yang benar. Ia pun mengajarkan ke banyak orang bahwa memisahkan Islam dengan ideologi adalah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan), dan sekulerisme adalah ide kufur yang haram untuk diperjuangkan. Namun, saat ini ia malahan jor-joran menolak Islam sebagai ideologi. Islam hanyalah aqidah, namun untuk ideologi kita bisa mengambil yang lain, katanya. Kemudian, berbagai alasan lainnya pun ia lontarkan, asal menegaskan bahwa Islam bukanlah ideologi. Padahal alasan-alasan tersebutlah yang dahulu sering ia bantah saat ia menjelaskan Islam sebagai ideologi. Ada pula para aktifis yang ketika di masa muda membela Islam, namun ketika dewasa ia malah menjadi aktifis proyek anti terorisme. Padahal, proyek tersebut penuh rekayasa Barat dalam memerangi kebangkitan Islam.

Istiqomah atau konsisten memang bukanlah kata yang bisa berdiri sendiri, yang ketika kita menjalaninya maka akan dijamin mendapat pujian dari Allah SWT. Hanya istiqomah dalam kebenaranlah yang akan mendapat pahala dari Allah SWT, sebagaimana firman Allah :
“Sesungguhnya orang-orang yang mereka berkata:”Tuhan kami adalah Allah.” Lalu mereka istiqomah, para malaikat akan turun atas mereka (dengan berkata):”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (TQS. Fushilat[41]:30)
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah”, lalu mereka tetap istiqomah, tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”(TQS. Al-Ahqof[46]:13).
Adanya do’a dari para malaikat, surga dan kepastian hilangnya rasa khawatir dan kesedihan merupakan janji Allah kepada orang-orang yang istiqomah dalam hal keimanan.

Rasulullah SAW pun memberikan penegasan kemestian istiqomah  dalam hal  pengamalan syariah. Tatkala ada yang meminta supaya hukum potong tangan tidak diberlakukan kepada pencuri dari kalangan bangsawan, Rasulullah SAW menolaknya dengan mengatakan bahwa seandainya putrinya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya beliau pun akan memotong tangan putrinya tersebut.

Sikap Rasulullah SAW dalam berdakwah pun sama. Tatkala Utbah bin Rabi’ah menawarkan harta, kemuliaan dan jabatan supaya Rasulullah SAW meninggalkan dakwahnya, beliau dengan tegas menolaknya. Kemudian saat beliau dirayu pamannya (Abu Thalib) untuk menghentikan dakwahnya, beliau menegaskan : “Wahai paman, demi Allah, kalaupun mereka menaruh matahari di sebelah kananku dan bulan di sebelah kiriku supaya aku meninggalkan urusan (agama) ini, niscaya sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya, sampai Allah memenangkan agamanya atau aku binasa karenanya.”1)

Sikap yang sama pula ditunjukkan oleh beliau SAW ketika didatangi perwakilan tokoh kafir Quraisy. Mereka yang terdiri dari Aswad bin Al Muthallib bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, Al Walid bin Al Mughirah, Umayah bin Khalaf dan Al ‘Ash bin Wa’il As Sahmi mendatangi beliau SAW pada saat thawaf di Ka’bah. Mereka berkata :
“Wahai Muhammad, Biarkanlah kami menyembah apa yang engkau sembah dan engkau juga menyembah apa yang kami sembah sehingga kami dan engkau dapat bekerja sama dalam menjalankan urusan ini.”
“Jika yang engkau sembah itu lebih baik daripada apa yang kami sembah, berarti kami telah mengambil bagian kami darinya. Demikian pula jika apa yang kami sembah lebih baik daripada yang engkau sembah, berarti engkau telah mendapatkan bagianmu darinya,” lanjut mereka.2)
Rasulullah menjawabnya dengan wahyu Allah SWT, yang artinya :
“Katakanlah! Hai orang-orang kafir ! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu juga tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.”(TQS. Al Kafirun[109]: 1-6).

Sebetulnya masih banyak lagi contoh keistiqomahan sikap Rasulullah SAW dalam memegang prinsip kebenaran, mungkin perlu bab tersendiri untuk membahasnya. Namun yang mesti menjadi panduan bagi kita adalah bahwasanya ancaman dan godaan memang selalu berputar merayu-rayu keistiqomahan kita. Berbagai keburukan dari mulai hinaan, ejekan, propaganda sampai hilangnya nyawa senantiasa mengancam orang-orang yang istiqomah. Begitu pula berbagai kebaikan berupa pujian, materi, tahta bahkan wanita pun selalu menggoda orang-orang yang istiqomah.

Tulisan ini memang tidak menafikan adanya perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin, yang bisa jadi seseorang berpindah dari satu pendapat mujtahid kepada pendapat mujtahid yang lain. Namun penulis berharap, semoga kita dan semua yang telah berkomitmen menjadi para pembela Islam, senantiasa dikuatkan untuk selalu istiqomah dalam keimanan dan amal. Cukuplah firman Allah SWT berikut menjadi bahan renungan bagi kita semua :
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (TQS. At Taubah[9]:16).

Sebagaimana kutipan sebuah lagu “aku yang dulu bukanlah yang sekarang”. Maka, tidak menutup kemungkinan pula terjadi pada diri kita “aku yang nanti bukanlah yang sekarang”. Bila itu terjadi tentunya kita berharap pada tataran yang mubah (boleh) bukan pada degradasi idealisme dakwah. Walhasil, hanya Allah swt yang Maha Membolak-balikan hati, marilah kita bermunajat kepada Allah, “Ya Allah, yang Maha Membolak-balikkan hati teguhkanlah hati-hati kami di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu. aamiin.” Wallohu a’lamu bishshowwaab. (Ary Herawan)

Daftar Pustaka :
1) Muhammad Rawwas Qol’ahji. 2007. Sirah Nabawiyah. Al Azhar Press.

2) Ahmad Hatta, dkk. 2011. The Great Story of Muhammad SAW. Maghfirah Pustaka.

Rabu, 22 April 2015

Menerima Bantuan Militer Orang Kafir

Image result for militer         Image result for militer

Mengenai tawaran dan bantuan militer dari orang kafir, Dr. Abdurrahman Al Baghdady mengutip beberapa pendapat fuqoha sebagai berikut :1)
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa boleh saja meminta pertolongan kepada orang-orang kafir dan fasik, selama mereka beristiqomah dalam menjalankan perintah dan larangan Allah Swt. Imam Asy-Syaukani  (Naylul Authaar, jilid VII hal. 254), beliau menuturkan :
“Mereka mengambil dalil dari tindakan Rasulullah saw yang meminta pertolongan kepada seorang Yahudi dan kepada Shafwan bin Umayyah dalam perang Hunain, dan berdasarkan berita dari Rasulullah saw bahwasanya akan terjadi perjanjian gencatan senjata antara kaum muslim dengan bangsa Romawi. Juga mereka akan bersama-sama memerangi musuh yang menguntit kaum muslim.”
Kemudian beliau menyatakan pula :  
“Hal yang membolehkan meminta pertolongan kepada orang-orang musyrik adalah bahwasanya Quzman keluar bersama para shahabat Rasulullah saw pada waktu perang Uhud, padahal ia adalah seorang musyrik. Ia berhasil membunuh tiga orang dari Bani Abdi Ad Daar yang membawa panji-panji kaum musyrikin, hingga Rasulullah saw berkata : “Sesungguhnya Allah Swt menolong agama ini melalui orang yang kafir, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para ahli sejarah Islam. Kabilah Khaza’ah juga telah keluar bersama Nabi saw untuk memerangi Quraisy pada futuh Makkah.”
Al ‘Allamah Muhammad bin Abdurrahman Asy-Syafi’i Ad-Dimasyqy (Rahmatul Ummah fii ikhtilaafil Aimmah hal. 302) menjelaskan :
“Imam Malik dan Ahmad berkata :”Tidak boleh menerima atau meminta pertolongan dan saling bantu membantu kepada orang-orang musyrik.”
Kemudian Imam Malik menyampaikan :
“Kecuali jika mereka adalah pelayan kaum muslim, maka hal itu boleh dilakukan.”
Imam Abu Hanifah mengatakan :
“Boleh menerima atau meminta pertolongan dan bantu membantu dalam bentuk apapun, selama hukum Islam yang berkuasa dan berlaku atas mereka. Jika hukum kufur yang berlaku, maka hal itu dilarang.”
Imam Syafi’i mengatakan :
“Hal itu boleh dilakukan dengan dua syarat. Pertama, kaum muslim dalam jumlah yang sedikit, sedangkan kaum musyrik banyak. Kedua, dapat diketahui bahwa kaum musyrik tersebut memiliki sikap yang baik terhadap Islam, dan ada kecenderungan demikian. Tatkala mereka dimintai pertolongan, maka diberi imbalan tanpa memperoleh bagian dari ghanimah.”
Syaikh Muhammad Ali Ash-Shabuni (Rawaai’ul Bayaan Tafsiir Ayaatil Ahkaam min Al Qur-aan Jilid I hal. 402) mengungkapkan :
“Para fuqoha berbeda pendapat tentang kebolehan menerima atau meminta pertolongan kepada orang-orang kafir dalam peperangan.”
Syaikh Atha’ Ibnu Khalil menyatakan bahwa apabila Rasulullah saw mengerjakan suatu pekerjaan kemudian pada kesempatan lain Rasul mengerjakan pekerjaan lain yang berlawanan dengannya. Kasus seperti ini menunjukan bahwa aktifitas tersebut hukumnya ibahah (boleh dilakukan, boleh ditinggalkan). Beliau menjelaskan sebagai berikut :2)
Diriwayatkan dari al-Zuhri bahwa Nabi saw pernah meminta pertolongan kepada sekelompok orang Yahudi pada saat perang Khaibar. Kemudian beliau  memberikan harta rampasan perang kepada mereka. (At Tirmidzi : 4/127 no 1558)
Diriwayatkan dari Aisyah bahwa a Rasulullah saw keluar menuju arah Badar, ketika Rasulullah telah sampai di Hurrah al-Wabrah, beliau ditemui oleh seorang lelaki yang dikenal pemberani dan ahli perang. Sehingga sahabat Rasulullah saw merasa gembira ketika melihatnya. Ketika laki-laki itu menyusul Rasulullah saw, dia berkata: “Aku datang untuk mengikutimu dan berperang bersamamu”. Kemudian beliau bersabda kepadanya: “Apakah engkau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya? Dia berkata: “Tidak”. Beliau bersabda: “Kembalilah kamu aku tidak akan meminta pertolongan kepada orang musyrik“. Aisyah berkata: kemudian Rasululllah saw melanjutkan perjalanannya. Ketika beliu sampai di suatu pohon, beliau disusul kembali oleh laki-laki tadi dan berkata sebagaimana perkataannya yang pertama. Rasulullah saw pun menjawab seperti jawabannya sebelumnya. Kemudian Rasulullah saw kembali dan si laki-laki tadi menyusul beliau di al-Baida. Beliau pun bertanya kepada laki-laki itu, “Apakah engkau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?” Laki-laki itu menjawab : “Benar”. Kemudian beliau bersabda, “Berangkatlah engkau berperang bersama kami”. (Muslim:1817, Al Tirmidzi:1558.)
Dalam salah satu hadits di atas, Rasulullah saw menerima orang kafir untuk berperang dalam barisan kaum muslimin di bawah bendera Islam. Dalam hadits yang lain Rasulullah menolaknya.
Maka dari kedua hadits tersebut dapat dipahami bahwa meminta pertolongan kepada orang-prang kafir untuk berperang di dalam barisan kaum muslimin di bawah panji islam, hukumnya mubah.
Ini berbeda dengan meminta pertolongan kepada orang kafir di bawah bendera mereka. Yaitu bendera kafir. Maka hal ini tidak boleh. Hal ini disadarkan kepada sabda Rasululllah saw:
لَا تَسْتَضِيئُوا بِنَارِ الْمُشْرِكِينَ
“Janganlah kalian meminta penerangan dengan apinya orang-orang musyrik.” (An Nasaai : 5114, Ahmad: 11516.)
Kata al-nâr (api) di sini adalah kinâyah dari al-kiyân (institusi). Suatu kabilah akan menyalakan api sebagai isyarat pengumuman atas peperangan. Meminta penerangan dengan api orang-orang musyrik berarti berperang di bawah bendera mereka. Inilah yang diharamkan.
Hal ini dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hamid Al Saaidi, dia berkata bahwa Rasulullah saw keluar menuju peperangan. Ketika beliau meninggalkan Tsaniyyah al-Wadâ’ tiba-tiba ada sekelompok orang. Beliau bertanya, “Siapa mereka ?” Para sahabat menjawab, “Mereka adalah Yahudi Banu Qainuqa. Yaitu kelompok Abdullah bin Salam”. Rasul bertanya lagi: “Apakah mereka sudah masuk Islam?” Para Sahabat berkata, “Belum.” Kemudian Rasulullah saw memerintahkan mereka supaya kembali seraya bersabda: “Sesungguhnya kami tidak akan meminta pertolongan kepada orang-orang musyrik, maka masuk Islamlah kalian.” (Abu Daud : 2356, Ibnu Majah : 2822, Ad Darimi : 2385, Ahmad : 15203, 23250.)
Bani Qainuqa  tersebut mau keluar untuk berperang di bawah bendera mereka. Adapun permintaan tolong Rasulullah kepada sekelompok Yahudi pada saat perang Khaibar, maka kelompok Yahudi tersebut mau berperang di bawah bendera kaum muslim sebagaimana telah ditetapkan di dalam sirah.
Atas dasar inilah, menerima bantuan orang kafir itu dibolehkan jika bersifat perorangan dan mereka berperang di bawah bendera kaum muslim. Adapun jika mereka adalah suatu kekuatan tersendiri (institusi yang terpisah), berperang atas nama kelompok/negara tertentu, atau berperang sebagai tentara kafir yang berada di bawah bendera negara kafir, maka hal itu tidak dibolehkan.
Adapun pendapat yang menyebutkan tentang bolehnya kerjasama militer dengan dalil perkataan Rasulullah SAW :
“Kalian akan membuat  shulh (perjanjian damai) dengan Romawi dengan aman, kemudian kalian akan memerangi mereka sebagai musuh.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dengan lafadz Ahmad: Al Musnad, jilid V/372).
Begitu pula Rasulullah SAW telah mengikat perjanjian damai dengan bani Khuza’ah. Maka Syaikh Iyad Hilal menjelaskan sebagai berikut :3)           
Pendapat seperti itu salah karena hadits yang mulia tidak menunjukkah bolehnya membuat perjanjian dengan orang-orang kafir, tetapi menunjukkan bolehnya meminta bantuan kepada mereka secara individu bukan sebagai institusi, yaitu dengan cara mereka mengikuti perintah-perintah Imam dan meninggalkan larangan-larangannya.
Perjanjian damai yang disebutkan di dalam hadits adalah bahwa Romawi mau membayar jizyah dan mereka masuk ke dalam perlindungan kaum muslim. Sebab perjanjian yang terjadi adalah shulh (perjanjian damai) bukan hudnah (gencatan senjata).
Beliau kemudian menjelaskan tentang bagian akhir hadits sebagai berikut :4)
“Kemudian mereka kembali hingga tiba di Maradz Dzi Talul. Salah seorang dari kalangan Nasrani meninggikan salib seraya berkata :”Salib telah menang!”. Hal itu membuat marah seorang laki-laki dari kaum muslim dan dia meremukannya. Saat itu juga orang-orang Romawi marah dan mengumpulkan potongan-potongan (salib)”.
Hal ini menunjukkan bahwa salib (bendera orang-orang kafir) ketika itu belum dinaikkan di dalam peperangan, dan kaum kafir (Romawi) ketika itu berperang di bawah bendera Islam, bukan di bawah bendera mereka. Mengenai perkara ini tidak ada perbedaan pendapat mengenai kebolehannya.
Adapun mengenai Bani Khuza’ah, mereka telah masuk di dalam bagian perjanjian bersama Rasulullah SAW . Oleh karena itu, Khuza’ah termasuk di dalam institusi kaum muslim, bukan pakta militer yang terpisah dari mereka. Bahwa sikap Rasulullah SAW yang meminta bantuan kepada Bani Khuza’ah, bukanlah meminta bantuan kepada institusi yang bebas dan terpisah. Akan tetapi, meminta bantuan kepada kekuatan yang menjadi bagian dari kekuatan negara Islam, bukan meminta bantuan dari pihak luar. 5) Wallohu a’lam.

Daftar Bacaan :
1)    Islam Menolak Bantuan Militer Negara Kafir, 1990.
2)    Taysiir al-wushuul ila al-ushuul, 2000.
3)    Al Mu’aahadaat Ad-Dauliyyah fii sy-Syarii’atil Islaamiyyah, 1991. (Terj. Perjanjian-perjanjian Internasional dalam Islam, 2002)
4)    idem.
5)    idem.

Kamis, 16 April 2015

Simpul Besar Manusia dalam Surat Al-Infithar (Sebuah Renungan Tatkala Lalai)

Image result for al quranKita sebagai manusia seringkali lalai. Saking asyiknya dunia, kita sampai lupa akan permasalahan (simpul) besar hakiki yang kita hadapi dalam hidup ini. Simpul besar itu tiada lain adalah tentang dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup di dunia ini dan kemanakah kita setelah semua kehidupan ini berakhir. Inilah permasalahan hakiki yang mesti dipecahkan setiap insan, sebelum terjun mengarungi kancah kehidupan.

Bila kita menelaah surah ke-82 dalam Al Quran, yakni Surah Al Infithar, sungguh kita akan tergugah untuk mengingat kembali semua jawaban atas simpul besar tersebut. Surah yang terdiri dari 19 ayat ini dimulai dengan dahsyatnya hari kiamat. Pengingat bagi kita, bahwa sesungguhnya semua kenikmatan maupun kepedihan dunia akan ada akhirnya. “Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan menjadikan meluap.”

Tidak sedikit dari kita yang beranggapan bahwa sesungguhnya masalah akan muncul hanya tatkala harta tiada. Manusia pun berlomba-lomba mengejar harta. Ketenaran, kedudukan, jabatan dan keterampilan pun ujung-ujungnya mengincar harta. Sehingga, berbagai cara dihalalkan hanya demi harta. Padahal, masalah sebenarnya justru akan muncul tatkala nyawa tiada. Karena setelah kita terkubur, akan ada masalah besar akan kita hadapi nanti. Yakni “tatkala kuburan-kuburan dibongkar, tiap-tiap jiwa pun akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan apa yang ia lalaikan.” Karena itulah, sebelum kita menikmati berbagai fasilitas di dunia, sebaiknya kita renungkan kembali jawaban akan simpul besar manusia.

Simpul yang pertama, mengenai dari mana kita berasal. Allah swt mengingatkan, bahwa “(Allah) Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang. dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.”

Simpul yang kedua, mengenai untuk apa kita hidup di dunia. Allah swt mengingatkan dengan sebuah  pertanyaan,  “Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah”. Sehingga tiada tugas utama bagi kita di dunia ini, selain hanya tunduk dan patuh kepada Allah swt. Karena tatkala durhaka kepada-Nya, kita akan menjadi orang-orang yang terperdaya.

Simpul yang ketiga, kemanakah kita setelah kehidupan ini berakhir. Allah swt mengingatkan, bahwa tatkala kehidupan berakhir, kita akan kembali kepada Allah swt. “(Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.”

Dengan menelaah surah ini, kita bisa membentuk kepemimpinan berpikir yang Islami dalam diri kita. Yakni, menjadikan Syariah Islam sebagai satu-satunya panduan dalam setiap perbuatan. Juga halal dan haram sebagai patokan. Karena, Allah swt mengingatkan bahwa “sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Catatan para malaikat tak bisa direkayasa. Bukti-buktinya pun tak bisa dimanipulasi. Semua yang kita kerjakan di dunia tidak akan ada yang terlewatkan. Semua tercatat rapih untuk dipertanggungjawabkan.

Manusia taat pasti akan mendapat nikmat, yang durhaka pasti mendapat siksa. Karena “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.”

Walhasil, setiap perbuatan kita di dunia akan ada konsekuensinya di akhirat kelak. Sungguh tak pantas, bila kita masih saja berpaling dari syariah-Nya. Karena dunia ini hanyalah sebuah persinggahan. Masa depan kita menanti di hadapan. Yaitu, keridlaan Allah swt dengan berbagai kenikmatan, ataukah kemurkaan Allah swt dengan berbagai kepedihan. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(Ary Herawan, hamba yang selalu berharap diberkahi keistiqomahan oleh Allah swt. aamiiin)

Senin, 30 Maret 2015

Problem Kehidupan dan Solusinya Menurut Al Quran

Sejak lepas dari penjajahan fisik 69 tahun lalu, negeri ini menerapkan sistem demokrasi terpimpin ala Orde Lama, demokrasi kapitalisme ala Orde Baru, lalu demokrasi kapitalisme neoliberal sejak Reformasi hingga sekarang. Namun, negeri ini masih dililit segudang problem di berbagai bidang.
Orang miskin 27,73 juta (10,96%) orang (BPS September 2014). Pengangguran terbuka 7.244.905 orang (BPS Agustus 2014). Utang Pemerintah Pusat hingga Februari 2015 Rp 2.744,36 triliun. (Profil Utang Pemerintah Pusat Maret 2015). Artinya, (BPS September 2014), negeri berpenduduk 253 juta ini terbebani utang Rp 10,85 juta/orang. Subsidi BBM dihapus. Subsidi listrik juga dicabut (kecuali gol. 450 VA dan 900 VA). Rakyat menanggung sendiri pengobatan mereka. Negara mengalihkan kewajibannya ke pundak rakyat melalui BPJS. Jutaan anak mengalami malnutrisi. Jutaan anak putus sekolah.
Lebih dari 2,5 juta aborsi pertahun. Pengguna narkoba 4 juta lebih. HIV-AIDS tersebar di 381 (76%) kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Hingga September 2014, total kasus HIV-AIDS mencapai 206.095 kasus. (Sistem Informasi HIV-AIDS & IMS [SIHA]-Ditjen P2PL Kemenkes). Kriminalitas tinggi. Korupsi makin parah dan sistemik. Ratusan pejabat, penguasa dan anggota legislatif terjerat kasus korupsi.
Pembiayaan APBN bertumpu pada pajak dan utang. Target pajak di RAPBN-P 2015 dinaikkan menjadi Rp 1.489,3 triliun. Untuk mencapai itu, obyek pajak baik orang atau barang dan jasa akan diperluas. Pajak juga akan makin tinggi. Beban rakyat pun akan makin berat.
Di sisi lain, SDA berlimpah negeri ini justru diserahkan kepada swasta dan asing. Migas sekitar 80% dikuasai asing. Pertambangan 75,39% dikuasai asing. Sekitar 60% industri penting dan strategis juga telah dikuasai investor asing seperti perbankan, telekomunikasi, elektronika, asuransi dan pasar modal.
Berbagai problem di pelbagai bidang itu menunjukkan problem sistemik-ideologis. Semua itu merupakan fasad (kerusakan). Allah SWT berfirman, yang artinya :
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (TQS ar-Rum [30]: 41).
Ali ash-Shabuni dalam Shafwah at-Tafâsîr menjelaskan, “bima kasabat aydi an-nas, yakni disebabkan oleh berbagai kemaksiatan dan dosa-dosa mereka.” Kemaksiataan itu bermuara pada penerapan sistem ideologi yang menyalahi sistem-ideologi Islam.
Solusinya dijelaskan dalam ayat tersebut. Asy-Syaukani dalam Fathu al-Qadîr menjelaskan, liyudzîqahum ba’dha al-ladzî ‘amilû, yakni agar Allah menimpakan sanksi sebagian perbuatan mereka atau balasan sebagian perbuatan mereka; la’allahum yarji’ûn, yakni agar mereka kembali dari berbagai kemaksiatan mereka dan bertobat kepada Allah SWT.”
Bertobat dari kemaksiatan sistemik-ideologis tidak lain adalah dengan kembali pada system-ideologi Islam, yakni dengan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan di bawah sistem Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an-Nubuwwah.


WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Minggu, 29 Maret 2015

Indonesia Kita Terancam Neoliberalisme dan Neoimperialisme

Seorang filosof abad ke-18, John Locke pernah menyatakan bahwa kaum liberal adalah orang-orang yang memiliki hak untuk hidup, merdeka, dan sejahtera. Mereka bebas bekerja, bebas mengambil kesempatan apapun, bebas mengambil keuntungan apapun, termasuk bebas untuk hancur, bebas hidup tanpa tempat tinggal dan bebas hidup tanpa pekerjaan. Sehingga, wajar bila paham liberalisme menguasai dunia, akan ada manusia yang sangat sejahtera, ada pula yang sangat terpuruk. Ada negara penjajah dan ada pula negara terjajah.
Liberalisme terlahir dari aqidah sekulerisme (pemisahan agama dari kehidupan). Ide tersebut menolak pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah dan agama. Ide liberalisme merasuk ke dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam ‘mazhab’ ekonomi dunia.
Setelah depressi hebat yang mengguncang Wall Street pada tahun 70-an. Liberalisme di bidang ekonomi sempat dianggap gagal. Namun hanya selang beberapa tahun, ia menjelma menjadi neoliberalisme. Menurut neoliberalisme, intervensi negara harus dikurangi supaya individu menjadi lebih bebas berusaha. Pada prinsipnya, neoliberalisme tidaklah berbeda dengan liberalisme klasik yang disampaikan oleh John Locke. Yakni, kebebasan usaha dan kepemilikan secara mutlak.
Berbagai agenda ekonomi neoliberal di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1980-an. Bahkan semakin massif setelah Indonesia dijebak krisis moneter pada tahun 1997. Seolah tak ada pilihan lain, Pemerintah Republik Indonesia (RI) mengundang International Monetary Fund (IMF) untuk memulihkan perekonomian Indonesia. RI pun dijerat untuk melaksanakan paket kebijakan Konsensus Washington melalui penandatanganan Letter of Intent (LoI) IMF.
Di antara kesepakatan yang tertuang dalam LoI IMF adalah penghapusan subsidi BBM, yang sekaligus memberi peluang masuknya perusahaan multinasional dalam usaha hilir BBM seperti Shell, Total dan sebagainya. Kemudian kebijakan privatisasi beberapa BUMN, seperti Indosat, Telkom, Pertamina, PT. Tambang Bukit Asam, Kimia Farma, dan beberapa Bank milik pemerintah. Secara langsung ataupun tidak, kesepakatan ini telah membiarkan aset RI dikuras oleh negara-negara besar. Sungguh sebuah pengkhianatan penguasa terhadap rakyat.
Dampak liberalisasi energi bisa kita rasakan saat ini. Subsidi premium sudah dicabut total pada awal tahun ini, harganya sudah mengikuti keinginan pasar. Tak terasa, serasa baru kemarin harga premium turun ke Rp 6.500/liter, sekarang sudah menjadi Rp 7.400/liter. Saat ini solar masih disubsidi, namun pencabutan subsidinya hanya tinggal menunggu waktu. Begitu pula dengan         gas 3 kg. Dengan dalih banyak pengguna gas 12 kg yang beralih ke gas 3 kg ketika gas 12 kg naik, gas 3 kg pun perlu dinaikkan, dengan cara mengurangi bahkan mencabut subsidinya. Tarif listrik pun sama, jatah subsidi 1,3 triliun untuk penundaan tarif pelanggan 1300 VA dan 2200 VA akan habis pada April 2015. Dengan demikian, dipastikan dipastikan pada Mei 2015, tarif pelanggan rumah tangga 1300 VA dan 2200 VA akan disesuaikan (baca: dinaikkan). Adapun pelanggan listrik rumah tangga 450 VA dan 950 VA, hanya tinggal menunggu waktu. Karena pada intinya, semua jenis subsidi harus dihapuskan.
Inilah bukti bahwa rezim Jokowi-Jk yang mengklaim pro rakyat, tidaklah berbeda dengan rezim sebelumnya. Rezim neoliberal yang rela menzalimi rakyatnya hanya demi kepentingan negara-negara besar. Akibatnya, rakyat Indonesia bagaikan numpang dan bekerja di rumah sendiri tetapi untuk kesejahteraan negara lain (asing). Bila seperti ini, apalah namanya jika bukan penjajahan gaya baru (Neoimperialisme). Jika dulu Belanda menjajah dengan pendudukan, kini negara maju menjajah melalui  intervensi regulasi dan legislasi. Jika dulu ada upeti yang harus disetorkan, kini ada pajak yang dibebankan kepada rakyat untuk membayar cicilan utang yang terus membengkak. Jika dulu ada kerja paksa, kini generasi muda disiapkan menjadi buruh terampil dengan upah murah. Para pekerja kita mengeksploitasi sumber daya alam hanya untuk keuntungan negara-negara besar. Tidak cukup sampai disana, rakyat pun membiayai sendiri biaya kesehatan dan jaminan hari tuanya.  
Selama manusia dibiarkan mengatur dirinya sendiri, serta melepaskan diri dari aturan Sang Pencipta, neoliberalisme dan neoimperialisme akan terus mengancam Indonesia. Karena dalam sistem liberal, sebagian manusia akan memangsa sebagian yang lain. Oleh karena itu, dunia (termasuk Indonesia) sungguh membutuhkan tatanan kehidupan yang tegak di atas aqidah Islam. Penerapan syariah Islam dalam berbagai bidang kehidupan. Penerapan sistem ekonomi Islam di bawah naungan sistem khilafah di atas manhaj kenabian.
Doktrin neoliberalisme yang mengharuskan pengurangan intervensi dan hak pemerintah, jelas bertentangan dengan syariah Islam. Rasulullah SAW mengingatkan : “almuslimuuna syurokaa-u fi tsalaatsin fil kalaa-i wal maa-i wan naari“ (Kaum muslim berserikat dalam tiga hal, padang rumput, air dan api.”). (THR. Abu Dawud dan Ahmad). Kata an naari (api) dalam hadits tersebut bermakna sumber energi, baik minyak bumi, gas, listrik dan sebagainya. Syariah Islam pun menetapkan bahwa SDA yang bersifat melimpah adalah milik seluruh rakyat serta haram dikuasai swasta. Sehingga, negaralah yang mengelolanya, lalu mengembalikan seluruh hasilnya untuk kesejahteraan rakyat, tanpa memandang suku, ras maupun agamanya.
Pengelolaan SDA secara syariah dalam sistem khilafah, tentu akan meningkatkan pemasukan negara. Negara akan memiliki banyak kesempatan untuk mengembangkan berbagai proyek energi lainnya. Sehingga Negara tidak akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan energi rakyatnya, seperti yang terjadi saat ini. PLN seringkali kesulitan memasok listrik karena keterbatasan pasokan gas dan batubara yang sudah dikuasai swasta.

Inilah ancaman nyata neoliberalisme dan neoimperialisme yang dihadapi Indonesia saat ini. Untuk membebaskan Indonesia kita yang terancam, tak ada pilihan lain bagi kita selain penerapan syariah Islam dalam berbagai sektor kehidupan. Dengan penerapan sistem ekonomi Islam oleh negara khilafah, para kapitalis neoliberal tidak akan memiliki kesempatan untuk mengeruk kekayaan negeri ini. Bahkan, negara akan mengelolanya dengan amanah, dan tentunya akan menyejahterakan seluruh rakyat, baik muslim maupun non muslim. “Andai penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (TQS. Al A’raf[7]: 96). Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(Ary Herawan)

Senin, 16 Maret 2015

Membaca dan Menulis, Aktifitas Kaum Muslim

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013  menyebutkan bahwa orang baca di Indonesia hanya 20 persen. Sementara hampir 80 persen orang lebih suka nonton TV (televisi) dan mendengarkan radio. Bahkan indeks minat baca Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu yang mempunyai minat baca. Rendahnya minat baca tersebut, tentu berdampak terhadap minat menulis, hasil-hasil karya tulis ilmiah mahasiswa Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN sangat berbeda jauh.
Berdasarkan data Indonesian Scientific Journal Database terdata sekitar 13.047 buah jurnal di Indonesia yang berkategori ilmiah yang masih aktif, sangat tertinggal jauh dari Malaysia yang sudah 55.211 dan Thailand 58.931. Kepala Balai Bahasa Bandung, Abdul Khak menuturkan, tradisi menulis di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan tradisi membaca, terlebih di kalangan anak muda. (republika.co.id)
Sesungguhnya membaca dan menulis adalah aktifitas yang tidak asing bagi kaum muslim. “Bacalah! dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan” adalah terjemah ayat pertama dari wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Bahkan, Allah SWT menjanjikan pahala yang sangat besar bagi orang yang membaca Al Quran dan mengajarkan Al Quran, tentunya termasuk mengajarkan cara membacanya. Begitupun dengan aktifitas menulis, setiap kali Rasulullah saw menyampaikan wahyu yang diterimanya, para shahabat langsung menjaganya dengan hafalan dan tulisan.  
Menuliskan Al Quran tentu berbeda dengan menulis karya. Menuliskan Al Quran adalah mencatat apa adanya wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Para shahabat hanya mencatat apa adanya, semua isi dan urutannya sudah merupakan ketetapan Allah SWT. Jadi menuliskan Al Quran adalah mencatatnya sebagai input pemahaman, sedangkan menulis karya adalah menyampaikan informasi melalui media tulisan, atau output pemahaman. Akan tetapi, yang Penulis soroti adalah aktifitas menulisnya. Baik yang berupa input pemahaman maupun outputnya.
Dalam buku Pengantar Ilmu-ilmu Al Quran (Terj. Al Manar fi ‘Ulumil Quran), Dr. Muhammad Ali Al Hasan menjelaskan tentang peristiwa Jam’ul Quran (pengumpulan Al Quran). Beliau mengutip perkataan Zaid bin Tsabit r.a. yang mengatakan bahwa ia (Zaid) mengumpulkan Al Quran dari tulisan-tulisan yang terdapat pada tulang-tulang ekor, batu-batuan yang tipis dan dari hafalan para shahabat. Selain itu, para ulama menjelaskan bahwa fase pertama dari Jam’ul Quran adalah pengumpulan pada masa Rasulullah saw, yang berarti menghafalkan dan menuliskan setiap kali ada ayat yang turun.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., Utsman bin Affan berkata: Jika turun ayat, Nabi saw. memanggil beberapa orang penulis lalu beliau bersabda, “Letakkan ini di surat yang di dalamnya disebutkan begini dan begini.” (HR. Abu Ubaid di Fadhâil, Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai dalam Al-Kubrâ, Ibn al-Mundzir, Ibn Hibban, al-Hakim, al-Baihaqi, dll). Pada masa Nabi Muhammad saw, Al Quran telah berhasil dikumpulkan dengan jalan dihafal dan ditulis. Muhammad bin al-Hanafiyah ditanya tentang peninggalan Nabi SAW, maka dia berkata: “Beliau tidak meninggalkan apa-apa kecuali maa baina ad-diffatain (apa-apa yang ada di antara dua sampul), yaitu al-Quran.” Selain menjelaskan tentang keterjagaan Al Quran, beberapa riwayat tersebut membuktikan adanya aktifitas menulis generasi awal kaum muslim.
Begitu pula generasi emas kaum muslimin selanjutnya, Imam Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami'al-Shahil yang dikenal sebagai Shahih Bukhari. Imam Abu Dawud telah menulis 35 kitab, 1.871 bab, dan 4.800 hadis. Ulama pencetus madzhab Syafi’i, Imam Syafi’i, telah menulis ratusan kitab. Menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 kitab, sedangkan menurut Al-Marwaziy sebanyak 113 kitab. Sementara Yaqut Al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu An-Nadim dalam Al-Fahrasat.
Selain yang telah disebutkan penulis, masih ada jutaan penulis muslim yang terdiri dari para shahabat, tabi’in, muhaddits, serta para ulama lainnya dengan hasil yang istimewa. Selain daya hafal yang luar biasa, aktifitas membaca dan menulis mereka, tentunya menjadi pendukung utama tersusunnya karya-karya monumental tersebut.
Dalam masalah sains dan teknologi, salah satu ilmuwan muslim terkenal adalah Ibnu Sina. Nama lengkapnya adalah Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdullah Ibn Sina, ia telah menulis dalam berbagai bidang termasuk teologi, filologi, matematika, astronomi, dan fisika. Karya-karyanya berjumlah hampir 450 volume dari  berbagai mata pelajaran, 240 volume di antaranya terselamatkan. Secara khusus, 150 karya berkonsentrasi pada filsafat dan 40 lainnya berkonsentrasi pada obat-obatan. Karyanya yang paling masyhur adalah Al Qanun fi al-Tibb ("Kanun"). Buku tersebut telah diterbitkan di Roma pada tahun 1593 sebelum dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Precepts of Medicine. Dalam jangka masa tidak sampai 100 tahun, buku itu telah dicetak ke dalam 15 buah bahasa. Pada abad ke-17, buku tersebut telah dijadikan sebagai bahan rujukan pokok di beberapa universitas Italia dan Perancis. Malahan sampai abad ke-19, bukunya masih diulang cetak dan digunakan oleh para mahasiswa kedokteran.
Seutama-utamanya membaca, tentu membaca Al Quran, karena merupakan petunjuk bagi umat manusia. Rasulullah saw bersabda, yang artinya “Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” (THR. Imam Al-Bukhari, Muslim). Akan tetapi, bukan berarti tidak ada peluang pahala pada aktifitas membaca selainnya. Bila aktifitas membaca yang kita lakukan merupakan bagian dari proses belajar, dan yang kita pelajari adalah tsaqofah Islam dan ilmu yang berguna, tentu kita akan berpeluang mendapatkan pahala dari kewajiban belajar.
Aktifitas menulis juga merupakan bagian dari proses belajar. Imam Syafi’i mengatakan dalam syairnya  Al ‘ilmu kash-shoidi wa- kitabatu qoyyiduhu, qoyyid shuyudaka bil hibali watsiqoh (Ilmu itu bagaikan binatang buruan dan tulisan itu bagaikan pengikatnya, ikatlah binatang-binatang buruanmu itu dengan tali yang kokoh). Meskipun banyak orang yang memiliki daya hafal luar biasa, namun tidak sedikit yang mudah lupa karena berbagai urusan. Oleh karena itu, tulisan bisa menjadi pengingatnya.
Selain merupakan bagian dari proses belajar, menulis pun berpeluang menjadi ladang amal jariah. Pahalanya akan terus mengalir kepada Sang Penulis, hatta ketika ia sudah wafat sekalipun. Bila kita menuliskan ilmu yang bermanfaat, sebagaimana yang dilakukan generasi emas kaum muslim, tentu akan menjadi tabungan pahala yang sangat banyak. Rasulullah saw bersabda, yang artinya : “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (THR. Muslim). Bisa kita bayangkan, berapa banyak pahala yang mengalir dari setiap ilmu bermanfaat, yang telah dituliskan oleh para pendahulu kita. Sungguh merupakan nikmat Allah SWT yang sangat luar biasa.
Membaca dan menulis merupakan aktifitas kaum muslim. Akan tetapi bukan berarti semua hal menjadi bebas untuk dibaca dan ditulis, hanya tsaqofah Islam serta ilmu (sains dan teknologi) yang bermanfaat semata, akan berpeluang menjadi ladang pahala bagi kaum muslim. Adapun untuk tsaqofah di luar Islam, kita diperbolehkan membaca hanya untuk mengkritisinya, bukan untuk menyebarkannya. Walhasil, mari pelajari dan sebarkan ilmu dan tsaqofah Islam dengan aktifitas membaca dan menulis. InsyaAllah, pahala menanti kita di hadapan. aamiiin.

(Ary H. - Pengelola FP Mudah Nulis dan Mentor Kelas Opini di Akademi Menulis Kreatif)