Guyz, kita
semua berdoa semoga saja apa yang kamu harapkan dan inginkan terkabul ya. Tentu
saja keinginan yang baik-baik: kamu semua lulus UN. Insya Allah. Namun, perlu
diingat juga lho bahwa lulus UN tuh bukan akhir dari segalanya. Sehingga kamu
nggak bisa bebas gitu aja. Masih ada babak baru kehidupan yang bakal kamu
jalani. Bisa nerusin kuliah, dan itu berarti kudu ikut seleksi lagi. Bisa pula
terjun ke dunia kerja atau wirausaha. Begitu juga buat kamu yang kebetulan
belum berhasil lulus, tetap sabar dan ambil hikmahnya aja. Selama langit belum
runtuh dan bumi belum terbelah, kamu masih punya kesempatan untuk maju, agar
hidup kamu tetap memiliki harga dan bermakna. Setuju kan?
Sobat muda
muslim, tulisan gaulislam kali ini sekadar ingin mengajak
kamu evaluasi diri sekaligus menggali potensi yang kamu miliki agar terus
termotivasi untuk maju dan bangkit dengan kemampuan yang kamu miliki.
Mudah-mudah ini membantu kamu untuk bisa mengubah cara pandang kamu tentang
masa depan dan juga tentang pendidikan dan agar tradisi belajar menjadi lebih
progresif.
Maklumlah,
banyak cara pandang di tengah masyarakat yang mengukur kesuksesan seseorang
semata dari tingkat pendidikannya, dari nilai akademiknya, dari status
sosialnya. Padahal, nggak selalu dan nggak otomatis kalo ada yang nilai
akademiknya pasti sukses hidupnya. Belum tentu. Wong,
bertebaran alias pabalatak
sarjana yang baru lulus tapi nggak punya pekerjaan, sementara di antara mereka
banyak yang nilai akademiknya bagus dan dari kalangan berada. Jadi, tingkat
pendidikan dan nilai akademik serta status sosial bukan jaminan mutlak hidup
bisa sukses.
Oya, saya nulis
gini bukan nakut-nakutin atau mengabaikan tingkat pendidikan dan nilai
akademik. Nggak juga. Hanya saja ini bicara dalam konteks kesuksesan. Tentu
aja, yang ideal tuh menurut ukuran logika kita adalah pendidikan tinggi, nilai
akademiknya bagus, status sosialnya di level atas dan hidupnya sukses. Dunia
dan akhirat pula. Wah, itu keren banget. Tapi sekali lagi, nggak selalu begitu
kenyataannya.
Geber terus
motivasi dan kreativitasmu
Sobat, setelah
Ujian Nasional tingkat SMA kamu ikutin, tentu saja kamu semua berharap untuk
lulus. Itu wajar dan sah-sah saja. Manusiawi kok. Pengen dapet nilai bagus juga
wajar karena dengan begitu kita jadi bisa ngukur kemampuan diri dari
angka-angka yang didapat itu. Namun, nilai ujian yang bagus dan kelulusan kamu
nggak bisa ngejamin juga untuk kemudian bisa menikmati pendidikan di perguruan
tinggi, yang—selain harus ikut seleksi masuk lagi, juga bakal tambah biaya untuk
nerusin pendidikan di tempat tersebut.
Maka, kini
saatnya kamu dan kita semua berpikir lebih realistis dan pandai mencari peluang
untuk bisa tetap esksis meskipun kenyataan pahit—tidak
lulus UN atau nggak bisa nerusin studi, plus nggak dapet kerjaan dengan
background pendidikan yang kamu miliki—tidak
menjadikan kamu putus asa dan bahkan buntu berpikir. Padahal, dunia tak selebar
daun telinga, Bro. So, di sinilah
perlunya motivasi dan kreativitas yang kuat untuk tetap bisa bertahan hidup dan
menghasilkan karya dan prestasi demi kemaslahatan diri dan orang lain. Bisa
kok. Insya Allah.
Bro, kadang
dalam hidup ini tak selamanya kita bisa memilih. Kalo bisa milih sih, pasti
yang baik-baik inginnya semua diraih. Tapi, sayangnya hidup nggak selalu
begitu. Kadang, atau bahkan seringkali kenyataan pahit yang kita terima. So,
sepahit apapun, kenyataan itu harus kita telan sambil berusaha untuk bangkit
agar tak dijajah oleh kenyataan pahit tersebut. Di sinilah perlunya motivasi
dan kreativitas kita untuk bisa terus bertahan sambil berusaha mengubah
kenyataan hidup menjadi lebih baik.
Banyak kok,
mereka yang tetap bisa berjalan dengan kepala tegak meski tingkat pendidikannya
paling tinggi mentok di sekolah lanjutan tingkat atas atau malah cuma finish di
tingkat SD dan SMP. Tapi soal kemampuan di bidang tertentu yang dimiliki,
mereka bisa bersaing kok dengan orang yang ngenyam pendidikan tinggi. Nah, jadi
yang penting adalah semangat belajar dan kreatif. Dan, yang namanya belajar dan
berkreativitas tak harus mengenyam pendidikan tinggi dan “makan” bangku
sekolahan. Tidak selalu. Betul itu.
Buktinya?
Sekadar contoh aja ya. Saya pernah bekerjasama dalam sebuah tim untuk mengelola
media massa, dan salah seorang di antara kami yang mengerti tentang komputer
dan teknologi informasi kalo nggak salah pendidikan SMP-nya aja nggak kelar,
gitu. Boleh percaya boleh tidak, tapi itu kenyataannya.
Sebabnya apa
dia bisa memiliki kemampuan itu? Karena ia banyak belajar dari siapa pun secara
informal dan motivasinya untuk belajar sangat tinggi ditambah kreatif sehingga
ilmu yang didapat itu langsung dipraktikkan. Bahkan lucunya, dia mahir bahasa
Inggris tanpa belajar di sekolah dan tempat kursus khusus, doi hanya sekadar
nonton film berbahasa Inggris dan mencoba mencocokkan teks terjemahan yang ada
dengan gerak mulut pemain film tersebut dalam berbicara. Unik juga ya? Itulah
belajar yang mudah dan murah.
Oya, kalo boleh
sedikit berbagi sih, saya juga termasuk yang “anomali” menurut sebagian orang.
Katanya sih begitu. Setidaknya kalo saya ngisi acara jurnalistik atau
kepenulisan, padahal menurut mereka latar belakang pendidikan saya nggak match
dengan kemampuan menulis saya yang lebih banyak menyoroti dunia remaja dari
sudut pandang Islam. Yup, memang waktu pertama menulis beberapa buku itu,
pendidikan yang saya cantumin di biodata adalah alumnus sekolah kejuruan kimia.
So, nggak nyambung banget kata mereka. Tapi, saya sih merasa
biasa-biasa aja (ciee.. kagak maksud nyombong, Bro!).
Adapun
kemampuan menulis dan mengkaji Islam yang saya miliki karena saya belajar
sendiri secara informal, dari siapa pun dan dari buku siapa pun. Inspirasi yang
saya dapatkan langsung saya praktikkan. Motivasi saya untuk bisa menulis cukup
kuat dan saya berusaha untuk kian kreatif dengan setiap ilmu atau keterampilan
baru yang saya dapatkan.
So,
kamu semua bisa melakukan hal sama atau bahkan lebih baik lagi dari saya dan
teman saya itu. Kuncinya di motivasi dan kreativitas. Oya jangan lupa, kita
harus ikhlas dalam belajar dan semata mengharap ridho Allah. Tiada kesuksesan
tanpa izin dari Allah Swt. Oke?
Tentukan tujuan
hidup, Bro
Menentukan
tujuan hidup untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat sebenarnya bisa sejak
kecil ketika kita sudah mulai ngerti. Prinsip dan pemahaman itu ditanamkan kuat
dalam benak kita. Namun, insya Allah belum terlambat jauh kalo sekarang kamu
mulai berpikir ke arah sana. Sebab, kamu pasti butuh pijakan dan arah jalan
hidup. Setelah lulus sekolah tingkat lanjutan atas umumnya cuma dua pilihan.
Nerusin studi sampe ke jenjang pendidikan tinggi atau langsung terjun ke dunia
kerja. Meski banyak pula yang akhirnya cuma nongkrong nggak punya aktivitas yang
bermanfaat banyak untuk diri dan orang lain.
Boys and gals,
semangat belajar harus tetap ada di jiwamu, sebab dalam hidup ini memang
senantiasa belajar. Pilih bidang keahlian yang kamu sukai dan minati dengan
sangat kuat. Mulailah memoles diri dengan banyak belajar agar kemampuanmu makin
mahir. Sambil tentunya mempraktikannya dengan benar dan baik. Kalo kamu ingin
terjun ke dunia usaha dengan berjualan kecil-kecilan, silakan nikmati dan terus
berusaha untuk mengembangkannya. Jika kamu berminat terhadap dunia
tulis-menulis, belajarlah dengan tekun karena kemahiran—apalagi
kesuksesan tidak ditempuh dengan instan.
Oya, jangan
lupakan juga kehidupan masa depanmu yang abadi, yakni di akhirat. Maka, cari
deh peluang usaha dan keterampilan yang halal dan bisa mendatangkan berkah.
Kalo bisnis ya jangan curang, jangan menipu. Jika menulis, menulis untuk syiar
kebenaran Islam. Kalo punya minat mempelajari komputer dan internet, hasilnya
dipraktikkan untuk mendakwahkan keagungan Islam. Hmm… insya Allah itu akan
mendatangkan pahala dan manfaatnya bisa dirasakan banyak orang. Sip kan?
Lagi pula,
hidup di dunia ini cuma sementara dan cuma diberi kesempatan sekali. Manusia
nggak ada yang abadi hidup di dunia dan nggak ada yang udah mati balik lagi.
Maka, mumpung masih diberi waktu untuk hidup, kita selalu bergerak untuk
belajar tentang kebenaran dan kebaikan dalam menempuh kebahagiaan di dunia dan
di akhirat. Kamu pasti bisa deh. Dunia dan seisinya bukanlah tujuan akhir. Ya,
sebatas tempat istirahat saja. Tapi tentu harus nyaman dan bisa membuat kita
bahagia. Sementara akhirat adalah tujuan abadi dan harus nyaman dan bahagia
juga di sana. Amalan kita saat ini yang menentukannya.
So,
cobalah beberapa tips berikut. Pertama, luruskan niat dalam beramal, yakni
ikhlas karena Allah Swt. memang mewajibkan kita beramal dengan benar dan baik.
Kedua, pelihara terus semangat belajar meski udah lulus sekolah dan nggak
mengenyam lagi pendidikan formal. Belajar tiada henti deh untuk mengetahui
bidang keahlian apa pun. Siapa tahu bisa digunakan kelak dan membantu kehidupan
kita. Ketiga, kuatkan motivasi dan asah terus kreativitas agar kemampuan kita
makin hebat. Keempat, belajarlah dengan keras dan sabar. Kelima, teruslah
berinovasi untuk mencoba hal-hal baru. Siapa tahu berguna pada esok hari.
Ayo, tetap
semangat belajar meski ujian nasional udah berlalu. Dan, jangan bengong aja
kalo pun kemudian kamu nggak nerusin kuliah atau bagi kamu yang dari sekolah
kejuruan belum juga dapetin pekerjaan yang cocok dengan bidang keahlian yang
kamu pelajari di sekolah. Jangan putus asa. Insya Allah masih banyak peluang
usaha untuk bisa sukses. Siapa tahu ‘pintu’
rejeki kamu memang ada di bidang keahlian lain yang bertolak-belakang dengan
keahlian yang kamu pelajari di sekolah atau kuliah. Jadi, teruslah belajar tak
pernah henti. Semangat! [osolihin:
sholihin@gmx.net]
Sumber : gaulislam edisi 027/tahun I (21 Rabiul Akhir 1429 H/28
April 2008