Minggu, 09 November 2014

ISLAM ANTIDISINTEGRASI DAN ANTISEPARATISME

Pengumuman kabinet kerja Jokowi beberapa waktu lalu telah menuai berbagai kega­du­han tersendiri di tengah masya­ra­kat. Termasuk munculnya gertakan disintegrasi dan separatisme dari berbagai daerah. Mulai dari Kalimantan, Sulawesi Tenggara dan Maluku. Bahkan ancaman tersebut terucap dari seorang ketua DPRD, “Kalau memang tidak diperhatikan seperti ini, apakah kami lebih baik memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apa gunanya, kalau tidak diperhatikan,” ujar Jhon Krisli, sebagaimana dikutip www.sampitonline.com. Selain itu, ratusan pemuda Maluku melakukan aksi demo menyatakan sikap keluar dari NKRI dan menyatakan Maluku merdeka. Begitupun dengan kaum muda Sulawesi Tenggara yang dua hari setelah pengumuman kabinet kerja langsung mengancam akan melumpuhkan kantor-kantor pemerintahan lokal, mengembalikan kantor vertikal di Jakarta dan melumpuhkan bandara. Berbagai kejadian ini menambah daftar ancaman disintegrasi dan gerakan separatis di Indonesia, padahal sebelumnya sudah ada Aceh, Papua, Sumatera Utara, Riau dan NTT. 

Liberalisme Kapitalis Biang Masalah
Munculnya ancaman disintegrasi dan gerakan separatis di Indonesia seperti GAM di Aceh, RMS di Maluku dan OPM di Papua lebih disebabkan oleh ketidakadilan ekonomi yang dirasakan oleh rakyat di wilayah-wilayah tersebut akibat kegagalan Pemerintah dalam menyejahterakan mereka. Padahal, seperti di Aceh dan Papua, kekayaan sumberdaya alam sangat melimpah-ruah. Sayang, kekayaan itu lebih banyak dinikmati oleh segelintir orang dan perusahaan-perusahaan asing.
Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) melaporkan, berdasarkan catatan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dominasi asing di sektor Migas sebesar 70%; batu bara, bauksit, nikel dan timah 75%; tembaga dan emas sebesar 85% serta diperkebunan sawit sebesar 50%. Jumlah ini menunjukkan bahwa betapa lemahnya posisi pemerintah untuk melindungi aset Negara. Selain itu peran pemerintah untuk mencegah terjadinya konflik agraria di sektor pertambangan juga sangat lemah. Pada tahun 2013 Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat ada 38 konflik di sektor pertambangan dengan luas konflik 197.365,90 ha.
Pertambangan di daerah pun tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan daerah tersebut. Sebagai contoh, Direktur Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara dalam www.tambang.co.id mengatakan bahwa keuntungan yang didapat PT Freeport Indonesia dari hasil tambangnya di Papua mencapai Rp 4.000 triliun. Hal ini dihitung dari hasil laporan cadangan mineral PT FI di tahun 2010. Selanjutnya, data tahun 2005 mengungkapkan, potensi Grasberg (yang dieksploitasi sejak 1988) sekitar 2,822 juta ton metrik bijih. Ini belum termasuk potensi Ertsberg yang diperkirakan mencapai 50 juta ton bijih, dan ini sudah dieksploitasi dari 1967-1988. Akan tetapi kita dapat saksikan bahwa pada saat yang sama, orang-orang Papua di sekitarnya banyak yang miskin, bahkan sebagiannya mengalami kelaparan. 
Itulah hasil ketidakadilan yang diciptakan oleh sistem ekonomi kapitalisme liberal. Ironisnya, sistem ini justru tetap diterapkan oleh Pemerintah. Contohnya adalah kebijakan Pemerintah yang semakin proaktif dalam melakukan privatisasi (menjual) BUMN yang notabene milik rakyat dan menjadi sumber pemasukan negara. Sehingga, keberadaan menteri yang berasal dari daerah tertentu sebenarnya tidak akan berbanding positif terhadap kesejahteraan daerah tersebut. Karena masalahnya bukan pada orang yang mengurusinya, tetapi cenderung karena liberalisasi pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang dijalankan.
Dalam pandangan syariah Islam, SDA yang menguasai hajat hidup orang banyak seperti minyak bumi, emas, perak tambaga dan lainya dalam jumlah besar adalah milik rakyat. SDA tersebut tidak boleh diserahkan kepada pihak swasta, apalagi pihak asing. Negara juga hanya berhak mengelolanya bukan untuk memilikinya, karena seluruh hasilnya harus diserahkan kepada rakyat. Rasulullah saw. bersabda: “Manusia bersekutu (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: hutan, air dan energi.” (HR Abu Dawud, Ibn Majah dan Ahmad).
Syaikh Abdul Qadim Zallum dalam kitab Nidzomul Hukmi fil Islam menjelaskan bahwa keuangan seluruh wilayah negara dalam Islam akan dianggap satu. Begitu pula anggaran belanjanya akan diberikan secara sama untuk kepentingan seluruh rakyat, tanpa melihat daerahnya. Seandainya ada wilayah yang memiliki pendapatan besar, sementara kebutuhannya kecil, maka wilayah tersebut akan diberi anggaran sesuai dengan kebutuhannya, bukan berdasarkan besarnya pendapatan. Seandainya ada wilayah yang pendapatan daerahnya tidak bisa mencukupi kebutuhannya, maka negara Islam tidak akan memaksanya untuk mengirimkan pendapatannya ke pusat. Tetapi wilayah tersebut tetap akan diberi anggaran belanja dari belanja negara, sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Baik pendapatannya cukup untuk memenuhi kebutuhannya, ataupun tidak. 

Kesatuan Wilayah
Munculnya berbagai gerakan separatis di Indonesia pun tidak terlepas dari campur tangan asing. Sebagaimana yang terjadi pada gerakan separatisme Aceh, Papua, Maluku dan Timor Timur (yang sudah terlepas lebih dulu). Direktur Eksekutif Global Future Institute, Hendrajit menyampaikan bahwa pembukaan kantor Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Inggris pada Mei setahun yang lalu dihadiri oleh Wali Kota Oxford Mohammaed Niaz Abbasi, anggota Parlemen Inggris, Andrew Smith, dan mantan Wali Kota Oxford, Elise Benjamin. “Kami akan bekerja sama dengan orang-orang di kantor baru kami di Port Moresby, PNG pada strategi menuju tujuan penentuan nasib sendiri bagi Papua Barat,” ujar Andrew Smith pada acara pembukaan kantor OPM tersebut. Kemudian sejak pertengahan 2000-an, US House of Representatives, telah mengagendakan agar DPR Amerika tersebut mengeluarkan rancangan Foreign Relation Authorization Act (FRAA) yahg secara spesifik memuat referensi khusus mengenai Papua. Referensi ini pun telah menyusun goal setting sampai pada referendum Papua.
Adapun Islam telah mewajibkan kaum muslim untuk bersatu sebagai satu umat. Allah swt berfirman dalam Q.S. Al-Anbiya' [21]: 92 yang artinya: “Sesungguhnya umat kalian adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhan kalian, maka sembahlah Aku”. Kemudian dalam Q.S. Ali Imran [3]: 103, yang artinya : “Dan berpegangteguhlah kalian semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai.” Karena itu, meski mempunyai latar belakang etnis, bangsa dan bahasa yang berbeda, umat Islam adalah umat yang satu. Karena mereka mempunyai Tuhan yang sama (Allah swt.), kitab suci yang sama (Al Quran), Nabi yang sama (Muhammad saw), kiblat yang sama (Ka'bah) dan agama yang sama (Islam).
Islam bukan hanya menetapkan umatnya sebagai satu umat, bahkan mewajibkan mereka bersatu di bawah naungan satu kepemimpinan, yaitu Khilafah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw, yang artinya: “Berpegang teguhlah pada jamaah kaum Muslim dan imam/khalifah mereka) (HR Ibn Majjah). Islam juga menetapkan bahwa mati untuk membela harta, termasuk wilayah kaum muslim adalah mati syahid. Ini dinyatakan dalam hadits Nabi, “Siapa saja yang terbunuh karena membela hartanya, maka dia mati syahid.” (THR Muslim, Ibn Hibban, Ahmad). 
Harta kekayaan pribadi, umum maupun negara, merupakan harta kaum muslim. Termasuk wilayah negeri-negeri Islam, semuanya merupakan harta kaum muslim. Karena itu, mempertahankan harta tersebut, termasuk keutuhannya agar tidak pecah, dan dicaplok pihak lain, hukumnya wajib. Mati karenanya pun dinyatakan oleh Islam sebagai mati syahid. Karena itu menurut Islam, persatuan dan kesatuan negeri kaum muslim –termasuk kesatuan wilayah Indonesia- merupakan harga mati yang tak bisa ditawar lagi. 
Walhasil, kapitalisme liberal dan imperialisme asing-lah yang sebenarnya menjadi biang disintegrasi dan separatisme di Indonesia. Adapun penerapan Syariah dan Khilafah justru menawarkan pemerataan kesejahteraan rakyat dan kesatuan wilayah negeri ini. Wallohu a’lamu bishshowwaab.***

Ary Herawan, ST, M.Pd

sumber : http://www.kabar-priangan.com/news/detail/15398

Senin, 03 November 2014

Jaminan Pluralitas dalam Islam (2-Habis)

Oleh: Ary Herawan (Guru SMP Terpadu Fajrul Islam Kota Tasikmalaya)
sumber : http://www.islampos.com/jaminan-pluralitas-dalam-islam-2-habis-142557/
SEBAGAIMANA yang dilakukan Rasulullah saw tatkala membebaskan Yaman, beliau membiarkan orang non muslim memeluk agamanya. Beliau saw pun membiarkan kebiasaan orang-orang non muslim Yaman yang gemar meminum khamr (bukan peredaran dan jual beli, pen.). Beliau saw tidak memaksa mereka untuk meninggalkan khamr. Mereka juga tidak dikenai sanksi minum khamr. Karena dalam ketentuan syariah, larangan meminum khamr hanya berlaku untuk muslim saja.
Adapun mengenai ketentuan syariah yang berlaku umum atau yang tidak mensyaratkan keislaman terlebih dahulu. Maka negara Islam akan menerapkan ketentuan tersebut kepada seluruh warga negara, baik muslim dan non muslim. Rasulullah saw. pernah merajam dan menjalankan hukum qishah kepada orang Yahudi. Karena dalam ketentuan syariah, hukum-hukum tersebut berlaku umum dan tidak dikhususkan untuk kaum muslim saja. Begitu pula mengenai larangan riba, itu berlaku untuk semua warga negara. Sebagaimana Rasulullah saw pernah mengirim surat kepada penduduk Najran yang beragama Nashrani, “Siapapun di antara kalian yang melakukan jual beli dengan riba, maka tidak ada perlindungan baginya.”
Kedua, setiap warga negara -muslim dan non muslim- memiliki hak yang sama terhadap berbagai pelayanan pokok yang diberikan negara. Misal dalam masalah kesehatan, Rasulullah saw. pernah mendapat hadiah seorang dokter dari Raja Muqauqis. Beliau saw menjadikannya sebagai dokter umum untuk seluruh rakyat. Begitu pun Rasulullah saw pernah merawat serombongan orang dari Urairah yang terserang penyakit. Beliau memerintahkan mereka untuk beristirahat di penggembalaan ternak kaum muslim milik baitul maal, di Zhi Jadr (sebelah Quba). Mereka diijinkan tinggal dan minum susu di sana, sampai sembuh dan menjadi gemuk.
Pada abad XV, orang-orang Yahudi Spanyol terusir secara politis akibat inkuisisi pasukan Kristen. Mereka dipersilahkan untuk mendirikan tempat tinggal, beribadah dan mendapatkan ajaran Yahudi di wilayah daulah Khilafah. Dalam bidang kedokteran, dokter-dokter Yahudi dipekerjakan oleh Daulah Khilafah di rumah sakit negara. Selain itu, mereka pun mendominasi industri kerajinan logam dan kaca.
Kebutuhan akan rasa aman pun dijamin Islam. Ibnu Mas’ud berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, yang artinya :”Barangsiapa yang menyakiti kafir dzimmi, maka aku berperkara dengannya. Dan barangsiapa berperkara denganku, maka aku akan memperkarakannya pada Hari Kiamat.” (H.R. Al Khatib). Bahkan ketika kaum muslim tidak bisa lagi melindungi orang-orang Kristen Syam dari serangan pasukan Romawi, Umar bin Al Khaththab r.a. mengatakan kepada mereka bahwa jizyah mereka akan dikembalikan. Namun orang-orang Kristen malah menolaknya seraya menyampaikan bahwa mereka akan berdo’a untuk kemenangan pasukan kaum muslim.
Ketiga, semua warga negara memiliki posisi yang sama di hadapan hukum. Kesamaan hukum di dalam pengadilan Islam nampak sekali dalam kasus baju besi Ali bin Abi Thalib r.a. Khalifah Ali merasa kehilangan baju besi dan ia menemukan baju besi tersebut di toko seorang Yahudi ahlu dzimmah. Saling klaim terhadap baju besi itu membawa mereka berdua ke pengadilan. Qadhi Syuraih yang menjadi hakim dalam perkara tersebut akhirnya meminta Ali r.a. supaya menghadirkan saksi atas bukti kepemilikannya. Khalifah Ali r.a. menyebutkan Hasan, putranya, dan Qonbar, pembantunya. Akan tetapi Qadhi Syuraih menolaknya, karena kesaksian seorang anak dan pembantu tidak dapat diterima. Walhasil, khalifah Ali kalah dalam perkara tersebut.
Beliau pun menerima kekalahan itu dengan lapang dada. Lalu Yahudi itu berkata, “Duhai khalifah Ali, Amirul Mukminin, anda berperkara denganku tentang baju besi milikmu. Akan tetapi, hakim yang engkau angkat ternyata memenangkan aku atasmu. Sungguh, aku bersaksi bahwa ini adalah kebenaran dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah.” Allohu Akbar, Yahudi itu masuk Islam setelah merasakan sendiri keadilan hukum Islam.
Keempat, semua warga negara berhak mengajukan keberatan terhadap penyimpangan pelaksanaan hukum Islam atas mereka, atau terhadap kezaliman yang dilakukan penguasa atas mereka. Khalifah Umar bin Al Khaththab pernah memanggil gubernur ‘Amr bin ‘Ash dan putranya karena mencambuk anak Qibthi yang beragama Nashrani. Di hadapan Khalifah, putra gubernur pun mengakui perbuatannya. Umar memberikan pilihan kepada anak Qibthi tersebut, antara qishash ataukah diyat (ganti rugi).
Anak Qibthi tersebut memilih qishash. Setelah hukuman dilaksanakan, Umar r.a. kemudian menawarkan kepada anak Qibthi tersebut untuk mencambuk Sang Gubernur, Seraya berkata, “Hai anak Qibthi, orang itu berani mencambukmu karena dia anak gubernur. Oleh karena itu, cambuk saja gubernur itu sekalian!”. Namun anak Qibthi itu pun menolaknya dan menyatakan puas dengan keadilan hukum Islam. Umar r.a. kemudia berkata, “Hai ‘Amr, sejak kapan engkau memperbudak anak manusia yang dilahirkan ibunya dalam keadaan merdeka?”
Itulah beberapa contoh jaminan pluralitas dalam Islam. Karena itulah, syariah Islam yang diterapkan secara kaffah dalam sistem Khilafah pasti akan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallohu a’lamu bishshowwaab. []
HABIS

Nasihat Asy Syaikh Al 'Alim 'Atha bin Khalil Abu Ar-Rasytah

Wahai para ikhwah, bahwasanya ketika merenungkan firman Allah swt :

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا () إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”
(TQS. Al insyirah[94] : 5-6)

dan

حَتَّى إِذَا اسْتَيْئَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشَاءُ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

“Sehingga ketika para Rasul tiada mempunyai harapan lagi dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka pertolongan Kami. Lalu diselamatkanlah orang yang Kami kehendaki. Dan siksa Kami tidak dapat ditolak oleh orang-orang yang berdosa.”
(TQS. Yusuf[12]: 110)

Lalu ketika merenungkan sambutan penduduk Madinah, para penolong Allah dan Rasul-Nya. Penerimaan mereka terhadap Rasulullah saw, (terjadi) setelah kondisi-kondisi sulit yang mendahului tahun tersebut.

Ada Amul Huzni (Tahun Kesedihan), yakni pada saat wafat Khadijah ummul mukminin r.a.. Juga kematian Abu Thalib yang terbukti sering membantu Rasulullah saw. Ada pula penolakan yang kasar dari penduduk Thaif yang telah melukai Rasulullah saw. Pada tahun-tahun yang menyakitkan bagi Rasulullah saw terbukti ada penerimaan kaum Anshar, lalu bai’at pertama dan kedua, kemudian hijrah Rasulullah saw dan penegakan Daulah Islam.

Bahwa dalam perenungan ini, sungguh ada harapan sesudah kepedihan, ada kegembiraan yang membahagiakan setelah peristiwa yang menyedihkan serta kemudahan setelah kesulitan.

Ada keselamatan yang mendekat setelah kepedihan yang sangat panjang. Ada keberkahan dan rahmat Allah yang tercurah setelah  “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”, kemudian kebaikan dan pertolongan...., lalu kebaikan dan pertolongan..., lalu kebaikan dan pertolongan...

وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ () بِنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

“Dan pada hari itu berbahagialah orang-orang yang beriman. Karena pertolongan Allah, Dia menolong siapa yang Dia kehendaki dan Dia Maha Perkasa, Maha Penyayang.”                                        (Q.S. Ar Ruum[30]: 4-5).

Al ‘Alim ‘Atha bin Khalil Abu Ar-Rasytah

(Mukhtaaraat Minal Maktabil I’lami li Hizbit Tahrir. 75. Muharram 1436 H)

Minggu, 02 November 2014

Jaminan Pluralitas dalam Islam (1)

Oleh: Ary Herawan (Guru SMP Terpadu Fajrul Islam Kota Tasikmalaya)
sumber : http://www.islampos.com/jaminan-pluralitas-dalam-islam-1-142554/
SAAT ini tidak sedikit orang yang keliru dalam memahami ide penerapan Syariah dan Khilafah. Sehingga tidak jarang muncul penolakan karena kekeliruan tersebut. Salah satunya adalah pemahaman bahwa Syariah hanya berlaku untuk masyarakat Islam dan masyarakat Islam adalah masyarakat yang semuanya terdiri dari orang-orang Islam (homogen).
Karena itu, untuk menerapkan Syariah harus mengislamkan dahulu semua orang yang ada di negeri tersebut, atau mengusir orang-orang non muslim yang ada di negeri tersebut. Sungguh kekeliruan yang perlu untuk diluruskan.
Manusia adalah makhluk yang beragam. Keberagaman manusia adalah fitrah yang tidak bisa dihilangkan. Konsep masyarakat homogen adalah suatu bentuk kegagalan berpikir. Ia tidak akan pernah terwujud menjadi realitas. Semisal konsep masyarakat komunis yang utopia.
Walaupun negara sosialis USSR (Union of Soviet Socialist Republik) berusaha mewujudkan konsep masyarakat tanpa kelas dan negara itu selama lebih dari 80 tahun, impian tersebut tak kunjung terwujud, bahkan USSR akhirnya pecah berkeping-keping. Karena itulah, sebuah pandangan hidup yang benar pasti akan sesuai dengan fitrah manusia, pasti akan cocok dengan keberagaman (pluralitas) manusia.
Islam adalah sebuah pandangan hidup yang khas. Islam membangun masyarakat di atas dasar aqidah Islam. Aqidah Islam menjadi pondasi berbagai peraturan hidup dalam Islam (syariah Islam). Namun, bukan berarti Islam menolak keberagaman. Allah swt meniscayakan keberagaman manusia ini dalam Q.S. Al Hujurat [49]:13. Allah swt pun menjadikan keberagaman manusia itu sebagai bagian dari ujian ketaatan manusia. (lih. Q.S. Al Maidah[5]:48).
Jadi, jelaslah bahwa Islam mengakui keberagaman (pluralitas) manusia. Sehingga tuduhan bahwa ketika syariah Islam diterapkan akan mengancam keberagaman adalah anggapan yang keliru. Justru penerapan syariah dalam bingkai khilafah akan menjadi rahmat bagi seluruh alam, baik muslim maupun non muslim.
Kerahmatan Islam nampak melalui kemampuan syariah Islam dalam memecahkan berbagai persoalan hidup manusia, tanpa membeda-bedakan agama, madzhab, suku, bangsa, ras, golongan maupun jenis kelamin. Dalam negara Islam, seluruh warga negara terlindungi harta, jiwa dan kehormatannya.
Islam membiarkan non muslim hidup berdampingan secara harmonis dengan kaum muslim, selama mereka tidak memusuhi dan memerangi kaum muslim. Orang-orang non muslim yang hidup di negara Islam disebut sebagai ahlu dzimmah. Harta dan darah mereka terjaga sebagaimana harta dan darah kaum muslim.
Tidak seperti kaum muslim yang mengeluarkan zakat, infaq dan shadaqoh, kaum non muslim yang hidup di negara Islam hanya dipungut jizyah, itu pun hanya dikenakan kepada laki-laki yang telah baligh saja. Sebagaimana yang disampaikan oleh Nafi’ bahwa Umar r.a. pernah menulis surat kepada para pemimpin pasukan agar memungut jizyah. Tetapi mereka tidak boleh memungutnya dari wanita dan anak-anak. Selain itu, jizyah pun tidak dipungut dari orang yang miskin, lemah dan butuh sedekah.
Berbeda dengan sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini, semua warga negara dikenai berbagai macam jenis pajak, baik kaya maupun miskin.
Berikut beberapa bukti penerapan syariah Islam yang menunjukkan adanya jaminan pluralitas tersebut :
Pertama, Islam akan memperlakukan orang-orang muslim dan non muslim sesuai ketentuan-ketentuan syariah. Perlakuan terhadap warga negara bukan berdasarkan keinginan kaum mayoritas dan bukan pula demi pembelaan terhadap kaum minoritas. Apabila ketentuan syariah dikhususkan hanya untuk muslim atau mensyaratkan keislaman terlebih dahulu. Maka ketentuan tersebut tidak boleh diberlakukan kepada non Muslim. Allah swt menegaskan dalam Q.S. Al Baqarah[2]:256, yang artinya: “Tidak ada paksaan dalam agama.”.

Jumat, 31 Oktober 2014

Akal dan Hati

Sahabat...
Allah menganugerahi kita dengan akal dan hati.

Akal berfungsi untuk memilih dan memilah, sehingga dengannya kita bisa menilai sebuah kebenaran.
Sedangkan hati berfungsi untuk menerima dan menyimpan kebenaran.

Karena akal tanpa hati adalah kesombongan. Adapun hati tanpa akal adalah keterpaksaan.

Setelah kita menilai sebuah informasi/pemikiran masuk akal, baru hati kita memproses, maukah hati kita mnerima informasi/pemikiran tersebut?

Pencarian kebenaran adalah dengan akal, tetapi penerimaan dan penyimpanan kebenaran adalah dengan hati.

Karena itu, ketika hati seseorang sdh tidak mau menerima kebenaran. Selogis apapun sebuah informasi dan pemikiran, ia tetap akan menggunakan akalnya untuk berpikir bagaimana menolak informasi dan pemikiran tersebut.

Begitupun ketika hati seseorang sdh terbuka pada suatu informasi dan pemikiran, ia akan menempatkan akalnya bagaimana supaya menerima informasi dan pemikiran tersebut.

Banyak kisah yg dapat kita jadikan contoh. Kisah penerimaan Abu Bakar terhadap Isra Mi'raj adalah masalah pembenaran hati, karena itu beliau tempatkan akalnya untuk membela apa yang ia yakini dalam hati, yaitu kebenaran bahwa Muhammad adalah utusan Allah swt.

Adapun semisal Abu Lahab, meskipun berjuta-juta bukti yang logis ditampakkan di hadapannya, karena hatinya sudah diliputi kesombongan, tetap ia tidak mau beriman. Ia gunakan akalnya untuk menyusun berjuta-juta alasan untuk menolaknya.

Karena itu, penting bagi kita untuk selalu menjaga hati. Karena bila hati sudah berpenyakit, maka akan susah untuk menerima kebenaran.

Menjaga hati dapat dilakukan dengan membiasakan diri untuk ikhlash menerima setiap perintah dan larangan Allah. Seberat apapun perasaan kita. Karena bila kita sdh terbiasa melenceng dari perintah dan larangan Allah swt, maka hati pun akan menjadi keras dan menjauh dari hidayah.

Wallohu a'lam bishshowwaab.
(ary.attasiky. 1/11/2014)

Inspirasi dari Celoteh Seorang Bocah

Ba’da Shubuh tadi, sepulang dari masjid saya biasanya langsung menuju kamar Aufa (9 th) dan Izza (6 th), anak pertama dan kedua saya untuk membangunkan mereka berdua. Namun karena anak ketiga saya sudah bangun, saya pun mengajaknya untuk membangunkan kedua kakaknya.
“Ayo de, kita bangunkan kakak dan teteh!”Ajak saya.
Saya mengajaknya berbicara dengan menggunakan panggilan kesayangan saya dan istri untuk mereka bertiga. Panggilan kakak untuk Aufa, teteh untuk Izza dan ade atau de untuk Watsiq.
“Egh...egh” Jawab de Watsiq. Lalu dengan wajah ceria, ia beranjak dari tempat tidurnya. Maklum, ia baru berusia 21 bulan, tapi ia sudah mengerti apa yang saya ucapkan.
Saya pun menyambutnya dengan tangan kanan saya, lalu memegangnya. Ade watsiq nampak bersemangat. Ia langsung menghampiri kedua kakaknya yang masih tertidur pulas dengan impian yang indah.
Singkat cerita, De Watsiq berhasil membangunkan kedua kakaknya. Walaupun terjadi sedikit insiden. Karena tanpa saya duga, ia membangunkan kakak pertamanya dengan gigitan kecil di lengan.
“Disayang dong kakaknya ya !” Kata saya. Ia pun lalu mengusap-ngusap kakaknya. Kemudian setelah itu mengulurkan tangannya, lalu mencium tangan kakaknya sebagai tanda permohonan maaf.
Serasa mendengar petir di siang hari, kaget bukan kepalang. Tiba-tiba De Watsiq berceloteh, “Jing..jing...” Begitulah saya mendengar celotehan De Watsiq berkali-kali. Pikir saya, yang ia maksud adalah sebuah kata-kata kasar, yakni anjing. Karena memang ia masih mengucapkan beberapa kata hanya dengan suku kata akhirnya saja.
“Bilang apa sayang? Tanya saya. Ia pun mengulanginya berkali-kali, “Jing...jing” Katanya sambil sesekali mengarahkan tangannya ke sebuah photo orang di kalender yang ada di kamar kedua kakaknya. 
 “Yang, dengar ga? kenapa Ade Watsiq bisa ngobrol seperti itu?” Tanya saya kepada istri yang sedang di depan layar notebook mungilnya. Saya memang biasa memanggilnya dengan panggilan Yang. “Iya, dengar dari luar mungkin.” Ujar istri saya.
Sebenarnya saya akan memakluminya bila itu diucapkan sambil menunjuk gambar atau wujud binatang yang dimaksud. Tapi ini kan celotehan, dan itu adalah hal yang tidak baik, pikir saya.
“Jing..., jing...” Ia pun terus mengulanginya, bahkan kali ini pun ia berkali-kali menunjuk kalender yang ada photo pak AG (mohon maaf bila saya menuliskannya dengan inisial) yang sedang mencalonkan diri jadi caleg. Aufa sendiri yang memasang kalender tersebut di kamarnya. “Ini kalender kakak, karena ngasihnya juga ke kakak” katanya. Kata-kata itu seolah pertanda bahwa siapapun tidak boleh mengganggu gugat pemasangan kalender tersebut di kamarnya.
“Ade, ga boleh bilang gitu, meng saja ya..!” Rayu saya, seraya mengingatkannya pada binatang kesukaannya. Meng adalah bahasa anak-anak Sunda untuk menyebut kucing. Ade Watsiq sangat suka sekali dengan kucing. Bahkan bila ia melihat photo kucing ia menciumnya dengan gemas.
“Meng...meng!” Ia pun lalu mengganti ucapannya.
Alhamdulillah! Berhasil ! Yes ! Mungkin itulah ekspresi dalam hati saya jika diungkapkan saat itu.
Namun, bagaikan mendengar petir yang kedua kalinya. Izza yang dari tadi menyaksikan dialog kami berdua, tiba-tiba berkata, ”Yang dimaksud Ade Watsiq itu mungkin Om Dije”, sambil tiduran dengan memeluk guling kesayangannya. “Karena kan bibi suka bilang ke Ade Watsiq kalau photo yang di kalender itu adalah Om Dije.” Lanjutnya seraya menjelaskan.
Gubrak! ekspresi saya pun berubah seketika. “Oh iya ya...mungkin yang Ade ucapkan dari tadi itu bukanlah jing, tapi jey untuk menyebut akhir suku kata Dije!” Ucap saya. Nada bicara saya agak dinaikkan supaya terdengar oleh istri yang sedang di ruang tengah. “Waduh, salah paham deh abi Nak” Kata saya ke Ade Watsiq.
Entah paham atau tidak yang saya ucapkan, ia pun langsung menunjuk photo pak AG, lalu berkata,”Meng, meng...” sambil melihat ke arah saya.
“Bukan nak, Ade tadi betul, itu om Dije Nak...” Ralat saya.
Mungkin sebagai tanda protes atas ketidakpahaman saya dari tadi, ia pun menunjuk photo pak AG lagi kemudian menatap saya dan berkata,”Meng..meng?”
“Maafkan abimu Nak, abi tidak mencermati dulu apa yang Ade ucapkan.”Ucap saya dengan nada penyesalan.
Mungkin jika Ade Watsiq sudah lancar berbicara, ia mungkin akan bilang kepada saya.”Makanya Abi, pahamilah dulu apa yang Ade ucapkan!”
Kemudian ia akan menjelaskan maksudnya,”Sebetulnya tadi Ade hanya ingin bilang kepada Abi bahwa Ade sudah tahu siapa nama orang yang di kalender tersebut. Masak namanya meng?”
Semoga kejadian ini bisa menjadi ibroh bagi saya khususnya dan kita umumnya. Memahami apa yang disampaikan lawan bicara itu adalah sesuatu yang sangat penting sebelum kita memberikan tanggapan atasnya. Seperti kejadian yang saya alami, maksud hati menasihati namun yang terjadi adalah mengajarkan yang salah.
Jazakumullohu khoiron anak-anakku, dari interaksi dengan kalian pula Abi menggali ilmu setiap harinya. Semoga kalian menjadi anak-anak shalih dan shalihah yang selalu mendo’akan abi dan ummimu. aamiiin.

https://www.facebook.com/notes/769184376442694/

Senin, 13 Oktober 2014

Berpacu Melawan Waktu

Buletin Remaja gaulislam edisi 002/tahun I

Ngomongin soal waktu sebenarnya udah sering banget dibahas ya? Sebab, setiap dari diri kita masing-masing pasti udah punya sistem management sendiri dalam mengatur kebiasaan hidup kita. Jadi sebenarnya kalo mau disamakan modelnya agak susah. Tapi yang terpenting dalam mengatur waktu adalah pastikan sesuai dengan tujuan dan tak ada waktu yang disia-siakan begitu saja. Sebab, waktu ini akan terus berjalan. Sang waktu nggak perlu minta ijin sama kita yang lagi bengong, main gaple, main gim, ngobrol nggak jelas, dan aktivitas miskin manfaat lainnya atau malah yang maksiat. 
Waktu bakalan terus berlari meninggalkan kita yang aktif maupun yang nggak pernah bergerak sedikit pun. Sering tak terasa, waktu seminggu sangat cepat, itu kita tahu setelah kita melewatinya. Bagi kita yang melewatinya dengan banyak amal baik insya Allah menjadi tabungan pahala kita kelak. Tapi bagi kita yang melewati hari demi hari dalam seminggu itu hanya dengan bengong dan bertopang dagu saja, rasa-rasanya sangat rugi, apalagi kalo melakukan maksiat, ruginya berlipat-lipat.
Allah berfirman dalam al-Quran:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-‘Ashr [103]: 1-3)

Waktu tak akan kembali
Masih ingat nggak lagunya Raihan yang terinspirasi dari hadis Rasulullah saw. tentang waktu? Yup, gini nih penggalan syairnya: “Gunakan kesempatan yang masih diberi moga kita tak akan menyesal/Masa usia kita jangan disiakan, kerana ia tak ‘kan kembali/Ingat lima perkara sebelum lima perkara/sehat sebelum sakit/muda sebelum tua/kaya sebelum miskin/lapang sebelum sempit/hidup sebelum mati.”
Yup, benar banget. Waktu punya karakter nggak bisa dikembalikan. Terus aja berlalu nggak peduli sama kita. Apa pernah kepikiran kita ingin meng-UNDO seperti pada program komputer? Waktu nggak bisa dikembalikan seperti ketika kita main internet dengan cara mengklik tombol BACK agar bisa mengulangi mengeksekusi sebuah situs web misalnya. Nggak. Waktu itu boleh dibilang hanya sekali jadi. Itu sebabnya, tugas kitalah yang kudu pandai memilih dan memilah dalam memanfaatkan waktu.
Memang waktu adalah semacam ukuran yang kita sepakati bersama. 1 detik, 1 menit, 1 jam, 1 hari, 1 minggu, 1 bulan, 1 tahun, 1 windu, 1 dasawarsa, 1 abad, dan seterusnya. Itu adalah ukuran-ukuran untuk memudahkan kita mengerjakan segala urusan kita. Adanya batasan waktu adalah agar kita mau mengaturnya dengan baik. Percuma banget kan kalo kita udah dikasih jadwal, udah sepakat dengan waktu yang dibuat, ternyata kita melanggar sendiri kesepakatan tersebut dengan tidak mentaatinya sesuai urutan waktu dan target.
Kalo bicara untung-rugi, tentu bagi kita yang nggak bisa memenuhi semua aturan itu akan rugi karena bisa jadi malah nggak melakukan apa-apa selama waktu yang sudah ditentukan kecuali melakukan kesia-siaan saja yang memang bukan sesuatu yang seharusnya dilakukan.
Nah, pada saat inilah kita udah kehilangan banyak waktu. Tentu saja waktu tak akan pernah balik lagi ngasih kesempatan buat kita untuk melakukan yang telah kita tinggalkan tersebut. Yang bisa dilakukan kita paling banter adalah memperbaiki pada kesempatan berikutnya. Tapi tetap tidak mengubah kondisi balik ke belakang. Karena yang terjadi adalah kita memperbaiki pada waktu yang lain dan selama itu pula kita udah kehilangan banyak kesempatan. Aduh, nggak banget deh!
Nggak percaya? Bayangannya gini nih. Bagi kita yang nggak naik kelas tahun ini karena malas belajar, maka itu kondisi saat ini yang nggak bisa berubah. Tetep nggak naik kelas. Status kita tetap tinggal di kelas sementara teman yang lain udah di kelas berikutnya. Padahal itu terjadi dalam satu waktu, yakni pada kesempatan yang sama. Ya, sekarang ini. Kita insya Allah bisa naik kelas tapi itu terjadi nanti pada tahun depan. Beda kan? Jadi jangan main-main dengan waktu ya. Waktu nggak bakalan kembali lagi. Sekali jadi. So, jangan sampe kita merugikan diri kita sendiri gara-gara nggak bisa memanfaatkan waktu. Sumpah!
Guys, seringkali kita merasa bahwa waktu begitu cepat berlalu. Kayaknya singkat banget. Apa karena kita saking asyiknya menikmati hidup? Hmm.. bisa jadi itu emang faktor perasaan kita. Karena terlalu nikmat hidup di dunia. Tapi ingat juga lho, bahwa ada juga di antara teman kita yang sangat boleh jadi waktu berjalan sangat lambat. Misalnya, bagi orang yang berada di penjara, yang aktivitasnya nggak banyak dan muter di situ terus, waktu terasa berjalan lambat kayak keong.
Waktu yang berjalan terasa cepat selain menunjukkan betapa nikmatnya hidup di dunia, juga menunjukkan bahwa kita semangat menjalani hidup. Banyak kegiatan kita lakukan, banyak janji kita buat, banyak prestasi yang terus kita raih, sehingga tak ada waktu untuk melamun ngeliatin jam berputar. Karena justru kita seolah sedang berlari melangkahi hari-hari berpacu dengan putaran jarum jam atau hentakan detik penanda waktu digital. Barangkali ini yang membuat kita merasakan waktu berlalu begitu cepat.
Hikmahnya, jangan sia-siakan waktu yang terus berjalan cepat ini dengan kegiatan yang miskin manfaat, atau malah bertabur maksiat. Kita nggak bisa balik lagi ke waktu tersebut. Yang bisa adalah memperbaiki dan itu butuh waktu lagi. Sementara mereka yang taat mengatur waktu dengan baik, akan menuai hasil yang bagus pada waktu yang sama dengan yang kita gunakan untuk kegiatan percuma.
Oya, karakter waktu yang cukup unik lainnya adalah bahwa waktu geraknya berbanding lurus. Semakin banyak waktu yang disediakan untuk hidup kita, maka sebanyak itu pula waktu yang diberikan. Itu sebabnya, setiap orang yang berbeda usia nggak bisa balapan soal umur. Jatahnya udah jelas dan dikasih sama. Tapi tetap sesuai start saat memulai hidup di dunia. Nah, karena nggak bisa balapan soal umur, pernah ada anekdot ketika seorang pemuda yang hendak menikahi seorang gadis pujaannya yang berusia lebih muda 3 tahun darinya. Tapi ayah si gadis nggak setuju lalu memberi alasan: “Boleh kamu menikah dengan anak saya, tapi nanti saat umur kamu dan anak saya sama”. Gubrak!
Sobat, waktu terus berjalan seiring dengan bertambahnya usia kita. Itu sebabnya, kita nggak bisa minta ijin, misalnya mo cuti dulu dari bertambahnya usia ketika kita lagi tidur atau ngobrol dan main gim. Usia kita dari detik ke detik terus bertambah. Meskipun kita lagi nggak beraktivitas. Itu sebabnya, jangan mentang-mentang masih muda terus kita merasa masih banyak waktu untuk nanti. Sehingga merasa waktu tersebut harus kita habiskan untuk aktivitas yang kita sukai dan senangi saat ini namun dalam pandangan Islam miskin manfaat. Itu artinya kita menghamburkan kesempatan yang diberikan hanya untuk hal-hal yang remeh-temeh, gitu. Nggak banget deh. Sebab, seharusnya yang kita upayakan dalam setiap detik itu harus bernilai ibadah di hadapan Allah Swt. Setuju kan?

Memanfaatkan waktu
Waktu itu sebenarnya nggak bisa dijinakkan. Kalo kuda liar kita latih jadi baik insya Allah bisa. Tapi soal waktu, kita berbuat baik atau nggak, tetap aja jalan. Nggak peduli sama kita dan lurus-lurus saja. Nah, mungkin yang diperlukan itu adalah bagaimana kita memanfaatkan waktu dengan efektif.
Bagaimana caranya? Pertama, biasakan kita membuat agenda harian. Diurut prioritasnya dari yang sangat penting, kemudian penting, dan biasa. Misalnya sekolah/kuliah tentu menjadi prioritas utama, kemudian ke warnet, barangkali dianggap penting karena misalnya mencari bahan untuk tukul alias tugas kuliah, kemudian yang terkategori biasa misalnya pergi main ke rumah teman. Nah, utamakan yang sangat penting terlebih dahulu baru kemudian yang terakhir yang terkategori biasa.
Kedua, kita harus komitmen dengan apa yang udah kita buatkan jadwalnya. Karena kebiasaan banyak dari kita adalah menulis semua agenda, tapi nggak dikerjakan. Akhirnya malah keleleran. Ketiga, buat target. Ini penting. Apalagi jika yang akan dilakukan adalah “proyek besar” untuk masa depan kita. Jadi harus dibuat batasan waktunya, sehingga rencana yang sudah dibuat itu akan direalisasikan sesuai urutan waktu dan ukuran tahapan tingkat pencapaiannya. Jangan lupa, pastikan selalu ada evaluasi, agar dari waktu ke waktu lebih baik lagi.
Gimana kalo kita lagi malas ngapa-ngapain, apa malas bisa dikategorkan sebagai pembunuh kesempatan? Hmm… rasa malas itu saya pikir manusiawi kali ya. Soalnya semua orang kayaknya pasti pernah merasakan malas. Itu sebabnya, Rasulullah saw. juga mengajarkan doa agar kita meminta kepada Allah Swt. untuk dihilangkan dari penyakit malas. Maka, kalo pun rasa malas itu mendera kita, pastikan kita bisa mengendalikan diri.
Caranya? Jangan terlena dan jangan mengampuni diri sendiri bahwa rasa malasnya itu adalah manusiawi. Nggak gitu. Tapi cari akibatnya, mungkin malas karena capek, maka kita bisa atur waktu dan kegiatan lainnya supaya nggak kecapekan. Ketika malas ngapa-ngapain dan akhirnya malah main gim dengan tujuan untuk refreshing silakan saja. Tapi jangan keterusan. Ingat waktu terus berjalan meninggalkan kita. Kalo udah hilang penat dan stresnya segera berhenti main gim. Setelah itu, ya kembali kepada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Oya, sekadar berbagi aja, kebiasaan saya dalam mengatur dan memanfaatkan waktu sejujurnya memang masih banyak kekurangannya. Tapi setidaknya saya berusaha menekan diri sendiri untuk terus komitmen pada setiap kegiatan yang waktunya sudah dialokasikan. Jadi saya biasanya membuat jadwal yang saya tulis di buku agenda, di ponsel saya, di organizer program komputer, atau di kertas styrofoam yang ditempel di dinding. Agenda harian, mingguan atau bulanan. Baik yang rutin maupun yang tertentu pas ada momen spesial aja. Untuk kegiatan menulis buku, saya biasanya pake target, sehingga ada alat ukur tingkat pencapaiannya. Itu aja sih yang biasa saya lakukan. Mungkin bisa menjadi inspirasi teman-teman yang sempat baca artikel ini.
Sobat, di dunia ini kita berpacu dengan waktu, maka tingkatkan kualitas perbuatan kita, syukur-syukur bisa lebih banyak kita lakukan. Tentu perbuatan yang benar dan baik sesuai tuntunan Allah dan RasulNya. Untuk apa? Ya, untuk masa depan kita di dunia dan di akhirat. Insya Allah. Sebab, jangan sampe umur kita habis, tapi kita banyak maksiatnya. Kematian itu nggak bisa kita ketahui kapan datangnya. Jadi, harap diingat, Malaikat Izrail nggak bakal kirim “pesan kematian” kepada kita melalui SMS dengan bunyi: “Maaf, masa aktif hidup Anda akan segera habis. Sudah terlalu banyak dosa Anda di buku catatan akhirat. Sehingga saldo iman berkurang. Segera isi ulang iman Anda sebelum nyawa Anda diblokir.” Hehehe.. kalo dikasih tahu gitu sih enak dong.
Yuk, mumpung masih diberikan waktu, kita manfaatkan untuk beramal baik. Kita sama-sama berusaha menjadi yang terbaik di hadapan Allah Swt. Keep istiqamah dan tetap semangat! [solihin: sholihin@gmx.net]


Kamis, 09 Oktober 2014

MEA: Desain Baru Penjajahan AS di ASEAN

sumber : http://www.kabar-priangan.com/news/detail/15092

Friday, 10 Oct 2014
Ai Oke
Pengajar SMK Informatika Sumedang;
Tinggal di Jl Angkrek No. 80 Sumedang

MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) yang diterapkan awal tahun 2015 nanti, akan menjadikan ASEAN seperti sebuah negara besar. Penduduk di kawasan ASEAN akan mempunyai kebebasan untuk melanglang buana, masuk ke suatu negara dan keluar dari suatu negara di kawasan ASEAN tanpa hambatan berarti. Penduduk mempunyai kebebasan dan kemudahan untuk memilih lokasi pekerjaan yang dianggap memberikan kepuasan bagi dirinya. Pun demikian dengan perusahaan. Perusahaan mempunyai kebebasan untuk memilih lokasi pendirian pabrik dan kantor perusahaan di kawasan ASEAN. Gambaran ini sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai MEA, yakni menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi dengan ciri adanya aliran bebas barang, jasa, dan tenaga kerja terlatih, modal, serta aliran investasi yang lebih bebas.
Arahan Barat
Secara politik, negara-negara di kawasan ASEAN banyak menarik minat negara-negara maju. Tidak saja karena potensi ekonominya yang luar biasa, tapi juga didukung dengan kondisi kesadaran politik penguasanya yang lemah dan cenderung mengikuti cara pandang Barat. Dan ASEAN yang merupakan satu-satunya organisasi regional di kawasan ini menjadi sarana tersendiri bagi negara-negara Barat untuk mencapai kepentingannya masing-masing.
Meskipun regionalisme ASEAN pada awalnya lebih ditujukan untuk mendorong negara-negara di kawasan ASEAN melakukan usaha kerjasama di bidang ekonomi dan kesejahteraan, namun dalam perkembangannya, dinamika kerjasama kawasan ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh arus besar globalisasi, terutama globalisasi ekonomi yang begitu kuat memaksakan integrasi ekonomi. Maka munculnya deklarasi ASEAN yang termaktup dalam Bali Concord II, yang kelak membidani lahirnya MEA, menjadi cermin bagaimana kerjasama kawasan ini merespons arus globalisasi ekonomi yang semakin hari terpaannya semakin kuat. Dari sini jelaslah bahwa desain MEA adalah bagian dari globalisasi ekonomi yang diaruskan oleh negara pengembannya (dalam hal ini adalah negara-negara Barat, khususnya AS) untuk memastikan bahwa ASEAN siap dieksploitasi sumber dayanya.
Nilai Strategis
Secara geografis, negara-negara di Asia Tenggara memiliki karakteristik wilayah fisik yang beranekaragam. Negara-negara ASEAN terdiri dari negara kepulauan yang luas, semenanjung, daratan-benua, tidak-berpantai (landlocked), sampai negara kota.
Ditinjau berdasarkan luas wilayah, negara-negara di kawasan tersebut mempunyai rentang dari negara kepulauan seperti Indonesia, sampai negara-kota seperti Singapura. Terdapat sekitar 32.000 pulau yang terbentang seluas 4 juta km2 lebih, serta dihuni oleh sekitar 600 juta penduduk dengan 900 bahasa dan dialek berbeda dalam kehidupan sehari-hari.
Secara ekonomi, potensi pembangunan ekonomi di kawasan ini sangat menjanjikan, dengan besaran GDP secara keseluruhan mencapai $ 2 triliun AS. Dari segi perekonomian, negara-negara di Asia Tenggara memiliki profil ekonomi yang beragam, dengan pendapatan per-kapita masing-masing negara yang bervariasi, dari negara dengan pendapatan tertinggi mencapai 60.000 dollar AS dalam satu tahun, hingga negara dengan tingkat pendapatan terendah mencapai 1.000 dolar AS; serta persentase rata-rata tingkat pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen setiap tahunnya.
Dari segi pembangunan sosial kemasyarakatan, angka Indeks Pembangunan Manusia/IPM (Human Development Index/HDI) di negara-negara Asia Tenggara bervariasi dari very high, high, medium, sampai low human development.
Potensi ekonomi ini sungguh sangat menggiurkan negara-negara Barat, khususnya AS yang saat ini berada diambang krisis ekonomi. Sebab pertumbuhan ekonomi global saat ini memiliki tren yang cenderung terus menurun dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di wilayah negara-negara berkembang di kawasan Timur Asia.
Karena itu tak heran jika AS dan negara-negara Barat lainnya terus berupaya untuk memperebutkan “sepotong kue” bernama ASEAN ini. Kondisi ini diperparah dengan sangat lemahnya kesadaran politik para stakeholders di kawasan ini. Sehingga banyak yang tidak memahami bahwa MEA sebenarnya adalah skenario Barat untuk mengeksploitasi kekayaan alamnya.
Pandangan Islam
Sejak isu globalisasi dihembuskan oleh negara-negara maju, liberalisasi baik perdagangan dan investasi, telah menjadi spirit berbagai perjanjian dan kesepakatan ekonomi baik bilateral seperti Japan Indonesia Economic Aggrement (JIEPA), maupun multilateral seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), APEC, NAFTA dan WTO. Ciri yang paling menonjol dari perjanjian-perjanjian tersebut adalah menghilangkan secara bertahap berbagai tarif dan hambatan perdagangan dan investasi.
Liberalisasi perdagangan yang digawangi WTO, IMF dan Bank Dunia ini sejatinya hanyalah kendaraan bagi negara-negara maju untuk memperluas pasar mereka demi memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya di negara-negara berkembang dan negara-negara miskin. Di sisi lain mereka enggan menerapkan aturan yang sama jika mengancam perekonomian domestik mereka.
Menurut Syekh Abdul Qadim Zallum bahwa tujuan utama dari kebijakan liberalisasi perdagangan tidak lain agar negara-negara berkembang di seluruh dunia dapat membuka pasar mereka terhadap barang dan investasi AS dan negara-negara maju yang memiliki superioritas atas negara-negara berkembang. Akibatnya negara-negara berkembang akan terus menjadi konsumen utama dari komoditas dan investasi negara-negara maju. Di sisi lain kebijakan tersebut membuat negara-negara berkembang semakin sulit dalam membangun pondasi ekonomi yang tangguh sebab mereka terus bergantung kepada negara-negara industri. Dengan demikian mereka tidak akan pernah bergeser menjadi negara industri yang kuat dan berpengaruh. (Abdul Qadim Zallum, The American Campaign to Suppress Islam, hal. 29).
Oleh karena itu Islam mengharamkan konsep pasar bebas yang dipropagandakan oleh Amerika dan negara-negara barat. Di samping secara faktual jelas-jelas merugikan, sejatinya kebijakan tersebut tidak lain merupakan implementasi dari konsep kebebasan memiliki (freedom of ownership) yakni kebebasan untuk memiliki dan menguasai berbagai jenis komoditas. Padahal di dalam Islam konsep kepemilikan telah diatur dengan jelas. Seseorang individu hanya berhak menguasai barang-barang yang masuk dalam kategori milkiyyah fardiyyah. Sementara untuk kepemilikan umum (milikiyyah ‘ammah) dan negara (milikiyyatu ad daulah) berada di tangan pemerintah yang dikelola untuk kemaslahatan rakyat.
Di samping itu, pasar bebas pada faktanya merupakan alat bagi negara-negara kufur mampu mencengkram dan mengontrol perekonomian negeri-negeri Islam.
Padahal hal tersebut secara tegas dilarang dalam Islam sebagaimana firman Allah SWT: “Dan Allah tidak memperkenankan orang-orang Kafir menguasai orang-orang beriman.” (QS al-Nisa [4]: 141) Hal ini juga dikemukakan oleh Syekh Taqiuddin An-Nabhany. Menurutnya perdagangan luar negeri yang berbasis teori free market (hurriyatu al-mubadalah) yakni perdagangan luar negeri antara negara dilakukan tanpa hambatan seperti tarif bertentangan dengan Islam. Alasannya perdagangan luar negeri merupakan hubungan antara negara Islam dengan negara lain berada dalam tanggungjawab negara.
Sebagaimana difahami bahwa negara memiliki otoritas untuk mengatur berbagai hubungan dan interaksi dengan negara lain termasuk hubungan antara rakyatnya dengan rakyat negara lain, baik dalam bidang ekonomi, perdagangan ataupun yang lainnya. Oleh karena itu perdagangan luar negeri tidak dibiarkan bebas tanpa kontrol. Di samping itu negara Islam memiliki otoritas untuk mengizinkan atau melarang komoditas tertentu untuk diekspor.
Syara’ juga telah memberikan tanggangjawab kepada negara untuk mengatur pedagang ahlu al-harb dan mu’ahid. Termasuk dalam hal ini memberikan pelayanan kepada rakyatnya yang berdagang baik di dalam maupun di luar negeri. (Taqiuddin An-Nabhany, Nidzam Al Iqtishady fi Al Islam).
Walhasil, dalam membuat berbagai perjanjian kerjasama perdagangan dengan negara lain negara Khilafah Islamiyyah—yang Insya Allah akan tegak dalam waktu yang tidak lama lagi–wajib terikat pada syariat Islam dan sedikitpun tidak boleh menyimpang darinya. Berbeda dengan negara ini yang telah menyimpang jauh dari syariah Islam.
Wallahu a’lam.****



Selasa, 07 Oktober 2014

Pergaulan yang Baik dan Santun

Di tengah-tengah masyarakat setidaknya ada tiga golongan manusia. Pertama: orang yang bergaul dengan baik di masyarakat dan sabar menghadapi keburukan mereka sehingga dia cenderung disukai oleh mereka. Kedua: orang yang buruk pergaulannya di masyarakat sehingga cenderung tidak disukai oleh mereka. Ketiga: orang yang enggan bergaul dengan masyarakat, baik karena niat baik (misal: menghindari ragam keburukan yang muncul di masyarakat), karena tak sabar menghadapi keburukan masyarakat ataupun sekadar karena rasa malas saja.
Terkait dengan itu, Ibn Umar ra menuturkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Seorang Muslim yang bergaul dengan baik di tengah masyarakat serta bersabar atas keburukan mereka adalah lebih baik daripada orang yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak sabar dengan keburukan mereka.” (HR at-Tirmidzi).
Dengan redaksi berbeda Rasul SAW juga bersabda, “Seorang Mukmin yang bergaul dengan baik di tengah masyarakat dan bersabar atas keburukan mereka adalah lebih besar pahalanya daripada seorang Mukmin yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak sabar atas keburukan mereka.” (HR Ibn Majah).
Tentang pentingnya bergaul secara baik dengan masyarakat, Sayyid al-Musayyab ra menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Puncak akal setelah keimanan kepada Allah SWT adalah bergaul dengan baik di masyarakat. Seseorang tidak akan pernah merugi selama dia sering bermusyawarah dengan orang lain. Pelaku kebaikan di dunia adalah pemilik kebaikan di akhirat.” (HR Ibn Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
Bahkan bergaul baik dengan masyarakat dipandang sebagai sedekah. Jabir bin Abdillah ra menuturkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Bergaul baik dengan masyarakat adalah sedekah.” (HR Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam al-Awsath dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
Dalam sebuah hadits marfu’ dari Zaid bin Rafi’ dituturkan bahwa Rasul SAW pun bersabda, “Aku diperintahkan untuk bergaul secara baik dengan masyarakat sebagaimana aku diperintahkan shalat fardhu.” (HR Ibn Abi Syaibah).
Nazzal bin Sabrah pun menuturkan hadits marfu’ bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga perkara yang jika ketiganya ada pada diri seseorang, ia berada dalam kedamaian: ilmu, yang dengan ilmu itu kebodohan orang bodoh bisa dihilangkan; akal, yang dengan akal itu orang bergaul secara baik dengan masyarakat; sikap wara’ yang bisa mencegah seseorang dari bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Salah satu pergaulan yang baik di tengah masyarakat adalah dengan selalu menunjukkan sikap santun dan lembut. Siapakah orang yang santun atau lembut? Kata Amr bin al-‘Ash ra, “Orang yang santun (lembut) bukanlah orang yang santun (lembut) terhadap orang yang santun (lembut) kepada dirinya. Akan tetapi, orang yang santun (lembut) adalah orang yang santun (lembut) baik terhadap orang yang santun (lembut) kepada dirinya ataupun yang bersikap kasar terhadap dirinya.” (HR Ibn Abi Syaibah).
Terkait sikap santun dan lembut ini Rasulullah SAW bersabda, “Manakala Allah SWT mengumpulkan seluruh makhluk pada Hari Kiamat, seseorang menyeru, ‘Dimana pelaku keutamaan?’ Rasul bersabda, “Tiba-tiba sekelompok orang berdiri. Mereka lalu berjalan dan bergegas menuju surga. Malaikat lalu menyambut mereka. Mereka kemudian ditanya, ‘Siapa kalian ini?’ Mereka menjawab, ‘Kami adalah pelaku keutamaan itu.’ Mereka ditanya lagi, ‘Apa keutamaan kalian?’ Mereka menjawab, ‘Jika kami dizalimi, kami berusaha bersabar. Jika kami diperlakukan buruk, kami memohonkan ampunan bagi pelaku keburukan tersebut. Jika kami dikasari, kami berusaha tetap bersikap lembut terhadap orang yang mengasari kami.’ Selanjutnya dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian ke dalam surga sebagai balasan terbaik bagi para pelaku kebaikan.’” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Sebaliknya, Islam mencela sikap buruk atau kasar hingga membuat orang-orang tidak suka. Rasul SAW bersabda kepada Aisyah ra, “Wahai Aisyah, sesungguhnya orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada Hari Kiamat kelak adalah orang yang cenderung dijauhi atau ditinggalkan oleh manusia karena mereka khawatir terhadap keburukannya.”(HR Ahmad dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
Dalam redaksi lain Rasul SAW bersabda, “Sesungguhnya manusia terburuk pada Hari Kiamat kelak adalah orang yang (di dunia) paling dikhawatirkan lisannya atau keburukannya oleh manusia.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Nabi SAW juga bersabda kepada Aisyah ra, “Manusia terburuk adalah siapa saja yang menjadikan orang takut berkumpul dengan dia karena keburukannya.” (HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Karena itulah Salim bin Abdillah berkata, “Di antara kebaikan adalah takut melakukan keburukan (terhadap orang lain).”(HR Ibn Abi ad-Dunya’).
Wa ma tawfiqi illa bilLah. [] abi
*) sumber tulisan : http://hizbut-tahrir.or.id/2014/09/18/pergaulan-yang-baik-dan-santun/

Jangan Jadi Bunglon

gaulislam edisi 001/ tahun I (17 Syawal 1428 H/ 29 oktober 2007)

Jangan Jadi Bunglon

Hilang sudah kesan islami sepanjang hari. Lenyap sudah suasana “kota santri” dadakan. Kesan islami sepanjang hari selama Ramadhan akhirnya harus hilang sesaat setelah Lebaran. Suasana “kota santri” pun yang sering kita pertunjukkan di saat Ramadhan, kini kembali ke selera asal setelah Idul Fitri. Lenyap sudah suasana tersebut dan berganti suasana kehidupan bebas tanpa batas seperti sediakala (adegan: merenung, geleng-geleng kepala dan menunjukkan sikap prihatin, terus berdesis: hmm…)
Sobat muda muslim, waktu Ramadhan lalu, banyak di antara kita yang megenakan busana muslim/muslimah. Kita yang tergolong orang biasa dan mereka yang masuk kalangan seleb, semuanya punya pikiran dan perasaan: harus tampil islami. Meski hanya ditonjolkan lewat busana namun justru itulah cara termudah untuk ‘mengelabui’ orang. Percaya atau nggak masih bisa diperdebatkan. Tapi yang jelas, aksi tampil beda saat Ramadhan bagi yang sebelumnya memang rada-rada “okem”, ya memang mencurigakan. Apalagi jika kemudian setelah Ramadahan berlalu kembali “okem”. Tul nggak sih?
Okelah, soal niat dan motivasi cuma pelakunya yang tahu dan tentu Allah Swt. Tapi yang pasti perubahan “dadakan” di bulan Ramadhan itu bisa berdampak positif dan negatif sekaligus. Positifnya jelas. Tampilnya sebagian dari kita mengenakan busana muslim/muslimah dan maraknya syiar Islam di bulan suci yang lalu memberi kesan bahwa kita sadar betul dengan apa yang harus kita lakukan, yakni menghormati bulan Ramadhan sekaligus nunjukkin bahwa diri kita serius menghargainya dengan cara menjaga imej diri dan menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Apalagi jika kemudian hijrah total dari kegelapan menuju cahaya Islam meski Ramadhan telah berlalu. Bukti riilnya ditunjukkan dengan tetap berbusana menutup aurat sesuai tuntunan syariat, juga perilaku yang ber-akhlaqul karimah selepas Ramadhan. Hmm.. semoga ya.
Namun, selain berbuah sisi positif, ternyata juga dalam “perubahan dadakan” itu memunculkan sisi negatif. Apalagi jika kemudian setelah Ramadhan berlalu, kita balik lagi ke selera asal. Jadinya, kesan bahwa kita itu memanfaatkan situasi jadi kentara banget. Yup, memanfaatkan momen Ramadhan hanya untuk kepentingan sesaat. Motivasinya lebih karena ingin dianggap baik di hadapan manusia: berbusana yang sopan, bertutur kata yang baik, berperilaku yang sesuai ajaran Islam, bahkan para musisi juga rame-rame bikin album religi di bulan suci. But, selepas Lebaran hilang semua itu. Nggak ada bekasnya sama sekali. So, jangan salahkan orang lain yang risih dengan perilaku “bunglon” seperti ini, karena agama kayaknya dianggap sebagai komoditas untuk menjaga atau memoles citra diri. Duile… teganya… teganya… teganya…

Busana sebagai alat komunikasi
Dulu, tahun 1891, seorang antropolog Jerman bernama Eugene Dubois melakukan perjalanan menelusuri jejak manusia purba di kawasan Jawa. Di buku sejarah ditulis kalo doi menemukan fosil manusia purba yang kemudian dinamai dengan Pithecanthropus Erectus or “erect-ape man” alias manusia kera yang berjalan tegak. Nah, tentu aja digambarkan tanpa busana. Karena jaman tersebut belum ada pakaian. Pada masa tersebut, busana belum menjadi alat komunikasi. Karena apa yang mau dikomunikasikan dan kepada siapa pesan itu ditujukan, iya nggak sih? Kalo pun ada pesan yang ingin disampaikan, tapi bukan dalam bentuk busana.
Nah, waktu terus berjalan dan perkembangan manusia purba juga terus mengarah menuju kemajuan. Misalnya dalam berbusana. Bahkan ada film kartun yang dikemas dengan lucu yang menceritakan kehidupan “modern stone age”. Yup, film televisi yang diudarakan di Amrik antara tahun 1960-1966 besutan William Hanna dan Joseph Barbera itu diberi judul The Flintstones. Kamu pasti udah pada hapal kan dengan tokoh-tokohnya? Ada Fred, Wilma, dan tetangga mereka Barney Rubble.
Di film itu, ‘manusia purba’ udah ‘dipakaikan’ busana. Busananya tentu bukan seperti jaman kita sekarang. Tapi busana yang dicocokkan dengan jaman batu tersebut. Meski itu sebagai hiburan yang kocak banget, tapi penataan setting cerita itu cukup detil, khususnya dalam busana. Busana yang ditampilkan di film kartun (dan juga di film layar lebar garapan Steven Spielberg tahun 1994) ingin mengkomunikasikan kepada penonton bahwa itulah busana di “modern stone age”.
Sobat, pakaian memang bukan sekadar alat untuk menutup bagian tubuh tertentu yang harus dilindungi dari sengatan sinar matahari, dinginnya musim salju, dan menghindari goresan pada kulit akibat gesekan dengan benda lain, tapi juga sebagai alat komunikasi.
Ketika pakaian digunakan untuk mengkomunikasikan status sosial, maka ada pakaian kerajaan, ada pakaian yang khusus dikenakan para bangsawan, juga pakaian kaum proletar bin rakyak jelata. Di Eropa, kalo kamu baca buku-buku sejarah atau nonton film-film macam The Man in the Iron Mask yang dibintangi Leonardo Di Caprio atau dalam serial film Robin Hood, kita bisa bedain status sosial antara kaum proletar dengan kaum bangsawan adalah dari busana yang dikenakannnya.
Busana juga kemudian berperan dalam membedakan profesi seseorang. Misalnya nih, kalo ada orang yang berpakaian jas putih, apalagi dilengkapi stetoskop, berdasarkan kesepakatan selama ini orang tersebut ‘dicap’ berprofesi sebagai dokter.
Terus, pakaian juga bisa nunjukkin pesan untuk mengkomunikasi identitas. Misalnya pakaian untuk cowok dan cewek juga beda. Pakaian dari komunitas atau etnis tertentu juga pasti punya ciri khas. Bahkan pakaian berupa simbol-simbol keagamaan pun yang dikenakan oleh pemakainya adalah untuk mengkomunikasikan identitas mereka.
Nah, kaitannya dengan busana yang sopan dan rapi yang dikenakan banyak orang saat Ramadhan, tentunya mereka punya tujuan untuk mengkomunikasikan pesan kepada khalayak--tanpa harus ngomong dan menuliskan dengan huruf gede-gede di spanduk--bahwa “ini lho saya!”, “Seperti inilah kepribadian saya!”. Jadi, busana memang sebagai alat komunikasi, gitu lho.

Jangan (mudah) tertipu
Sobat muda muslim, dunia ini boleh dibilang kayak panggung sandiwara. Semua orang ingin memerankan apa yang disukainya dan tampak menarik di hadapan orang lain. Menarik di sini bisa sisi positif, bisa juga negatif. Sebab, kita harus ngakuin juga dong kalo ada orang yang tertarik dan sangat berminat di dunia kejahatan, maka ia akan ‘memerankan’ apa pun yang identik dengan ikon kejahatan. Begitu juga sebaliknya, jika seseorang tertarik di dunia kebaikan, maka ia akan memerankan apa pun yang identik dengan ikon kebaikan, sesuai dengan kesepakatan umum manusia maupun agama. Itu sebabnya barangkali orang ingin tampil bukan sekadar apa adanya, tapi harus ada apa-apanya agar bisa dilihat orang lain dan membuat orang lain tertarik dengan apa yang kita perankan.
Maka, kalo kita menganggap bahwa bertutur kata santun, berpakaian sopan dan menjadi ikon kebaikan dalam pandangan masyarakat dan agama, maka kita akan melakukan semua hal itu. Harapannya, tentu agar orang lain menganggap dan menilai bahwa diri kita seperti yang ditampilkannya kepada khalayak ramai tersebut.
Nah, ini pula yang menjadi kajian sosiolog kelahiran Manville, Kanada, bernama Erving Goffman. Kajiannya yang terkenal adalah tentang Self (Self Presentation). Bukunya yang sangat terkenal dan melambungkan namanya ditulis pada tahun 1956 dan tahun 1959 berjudul The Presentation of Self in Everyday Life. Menurut Goffman, interaksi (di antara manusia) dalam hidup ini dapat dibandingkan dengan drama. Ia menilai bahwa manusia itu suka berpura-pura dan munafik, atau setidak-tidaknya ia bertindak untuk mendukung kesan kewenangan serta gengsinya bila ia sedang menampilkan perannya yang sah (misalnya sebagai dokter). Bahkan jika seseorang memang dokter yang berwenang pada aspek penampilannya yang ekspresif, dan bukan semata-mata aspek fungsionalnya. (Ensiklopedi Psikologi, hlm. 132)
Sobat, kalo pernyataan Erving Goffman ini kita simak dengan seksama maka kita bisa terapkan tuh untuk mengamati, mengkritisi dan menilai prilaku kita dan semua manusia yang bisa kita jumpai dalam kehidupan ini. Misalnya dalam kasus “berubahnya” penampilan kita pada momen-momen tertentu karena ingin memberikan kesan kepada orang lain bahwa “inilah kita” yang diinginkan oleh orang lain dengan standar norma masyarakat dan norma agama. Meskipun hakikatnya apa yang kita tampilkan ke hadapan semua orang sebenarnya bukan jatidiri kita. Halah, nipu dong?
Hmm.. bisa jadi. Maka Erving Goffman pun pernah tertarik pada penggunaan status simbol yang penuh “tipu daya”. Ia berdalih bahwa: “simbol lebih cocok dengan persyaratan komunikasi daripada hak dan kewajibannya yang diartikan oleh simbol itu.” Tuh benar banget kan, bahwa sebenarnya kita menampilkan diri di hadapan orang lain lebih karena ingin mengkomunikasikan bahwa diri kita begini dan begitu melalui simbol yang kita kenakan. Bukan asli diri kita.
Eiit.. jangan cemberut dulu. Kalo kamu nggak merasa niatannya tampil beda bukan karena ingin “memanfaatkan” simbol untuk menipu orang lain tentang kesan mereka terhadap diri kita ngapain musti ragu tampil beda. Iya nggak sih? Apalagi tampil beda kita punya standar, yakni Islam.
Sobat, setelah kamu tahu soal ini, maka jangan lagi mudah tertipu dengan penampilan luar dari orang lain ya. Sebab, penampilan seringkali berbeda (meski tidak selalu) dengan aslinya. Percayalah.

Kepribadian Islam
Boyz and galz,  nggak seru tentunya kalo kita nggak nengok cara Islam ngatur umatnya. Benar. Islam emang punya konsep tentang kepribadian manusia. Menurut Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab al-Fikru al-Islamiy, dalam pandangan Islam, akidah Islamlah yang akan membentuk akliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) seorang muslim. Artinya, jika akidah islamnya kokoh, pastinya akan mampu membentuk akliyah dan nafsiyah yang oke juga. Kalo pun ada seorang muslim yang akliyah dan nafsiyahnya kedodoran, atau seenggaknya berkualitas rendah, maka bisa dinilai bahwa itu berbanding lurus dengan kualitas or level akidah islamnya.
So, jangan terlalu kaget kalo ada seorang muslim yang udah punya nama islami, sering mengenakan simbol-simbol Islam untuk ditampilkan kepada orang-orang di sekitarnya, tapi ternyata masih gemar melakukan perbuatan yang dilarang ajaran Islam. Ini terjadi karena kurangnya pemahaman doi terhadap ajaran Islam. Tentu, sikapnya tersebut belum bisa dikatakan bahwa dirinya memiliki kepribadian yang islami. Sebab, Islam nggak menjadikan “penampilan” sebagai standar utama kepribadian seseorang, tapi ukuran kepribadian dalam Islam adalah apakah ia berpikir islami atau berperasaan islami. Itu aja.
Oya, meski demikian, bukan berarti penampilan yang mencirikan jatidiri Islam dari seorang muslim nggak diperhatikan sama Islam, lho. Ada bagian di mana Islam ngasih konsekuensi, euy. Contohnya, kalo kita udah ngaku muslim, maka harus dong pikiran kita tuh Islam dan perasaan kita juga Islam. Terus dalam pengamalannya juga harus islami. Misalnya, mengenakan busana menutup aurat ketika keluar rumah sesuai dengan ketentuan yang diajarkan dalam Islam.
Singkat kata nih. Nggak nyambung banget kalo kita sebagai muslim hanya mengambil Islam sekadar simbol-simbolnya aja, sementara yang pokok seperti pikiran dan perasaan kita dibiarkan dijajah ide sekularisme, demokrasi, sosialisme, dan isme-isme lain di luar Islam.
Jadi, nggak perlulah menipu diri sendiri dan juga orang lain dengan menampilkan kesan dari simbol yang kita kenakan untuk mengkomunikasikan bahwa diri kita begini dan begitu sesuai standar kebaikan manusia, padahal sejatinya kita tidaklah seperti gambaran yang kita buat. So, jangan jadi bunglon deh. Ingat, mungkin kita bisa menipu sebagian besar manusia, tapi tidak semua manusia bisa tertipu, apalagi menipu Allah Swt. Lagian, semua perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. kelak. Waspadalah!
Firman Allah Swt.:
 “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Israa’ [17]: 36)


Yuk, biar nggak jadi bunglon, kita kaji Islam dengan benar dan baik. Jadikan Islam sebagai akidah dan syariat. Amalkan dalam kehidupan sehari-hari sembari terus mengkampanyekan dalam dakwah kita tentang wajibnya menjadikan Islam sebagai the way of life bagi kita dan seluruh kaum muslimin. Biar mantatap, gitu lho![solihin: sholihin@gmx.net]