Jumat, 31 Oktober 2014

Akal dan Hati

Sahabat...
Allah menganugerahi kita dengan akal dan hati.

Akal berfungsi untuk memilih dan memilah, sehingga dengannya kita bisa menilai sebuah kebenaran.
Sedangkan hati berfungsi untuk menerima dan menyimpan kebenaran.

Karena akal tanpa hati adalah kesombongan. Adapun hati tanpa akal adalah keterpaksaan.

Setelah kita menilai sebuah informasi/pemikiran masuk akal, baru hati kita memproses, maukah hati kita mnerima informasi/pemikiran tersebut?

Pencarian kebenaran adalah dengan akal, tetapi penerimaan dan penyimpanan kebenaran adalah dengan hati.

Karena itu, ketika hati seseorang sdh tidak mau menerima kebenaran. Selogis apapun sebuah informasi dan pemikiran, ia tetap akan menggunakan akalnya untuk berpikir bagaimana menolak informasi dan pemikiran tersebut.

Begitupun ketika hati seseorang sdh terbuka pada suatu informasi dan pemikiran, ia akan menempatkan akalnya bagaimana supaya menerima informasi dan pemikiran tersebut.

Banyak kisah yg dapat kita jadikan contoh. Kisah penerimaan Abu Bakar terhadap Isra Mi'raj adalah masalah pembenaran hati, karena itu beliau tempatkan akalnya untuk membela apa yang ia yakini dalam hati, yaitu kebenaran bahwa Muhammad adalah utusan Allah swt.

Adapun semisal Abu Lahab, meskipun berjuta-juta bukti yang logis ditampakkan di hadapannya, karena hatinya sudah diliputi kesombongan, tetap ia tidak mau beriman. Ia gunakan akalnya untuk menyusun berjuta-juta alasan untuk menolaknya.

Karena itu, penting bagi kita untuk selalu menjaga hati. Karena bila hati sudah berpenyakit, maka akan susah untuk menerima kebenaran.

Menjaga hati dapat dilakukan dengan membiasakan diri untuk ikhlash menerima setiap perintah dan larangan Allah. Seberat apapun perasaan kita. Karena bila kita sdh terbiasa melenceng dari perintah dan larangan Allah swt, maka hati pun akan menjadi keras dan menjauh dari hidayah.

Wallohu a'lam bishshowwaab.
(ary.attasiky. 1/11/2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar