Kamis, 25 September 2014

Bangsa Indonesia, di Tengah Pusaran Ideologi

Penolakan terhadap suatu ide atau gagasan tidaklah dapat dinilai dari lokal ataukah importnya ide tersebut. Tetapi dari kebenaran ide dasar yang menjadi ideologi atau aqidahnya. Karena ideologi adalah jawaban atas mendasar pertanyaan manusia. Yakni pertanyaan mengenai dari manakah semua kehidupan ini berasal, untuk apakah kita hidup dan akan kemanakah kita setelah semua kehidupan ini berakhir.
Jawaban atas pertanyaan mendasar tersebut harus selaras dengan fithrah manusia, menenteramkan hati dan memuaskan akal. Bila jawaban atas pertanyaan mendasar ini selaras dengan fithrah manusia, maka pastilah ideologi tersebut benar dan layak kita terima. Tetapi bila sebaliknya, maka pasti salah dan tentu wajib untuk kita tolak. Penerimaan dan penolakan ini tentu berdampak pula pada semua ide-ide yang disandarkan pada ideologi yang salah tersebut.
Ada tiga ideologi yang diyakini dan dipropagandakan oleh negara yang pernah memimpin dunia. Ideologi ini memiliki konsep yang lengkap untuk diterapkan dalam kehidupan. Selain itu, ideologi ini memiliki sifat defensif dan ofensif. Yakni memiliki sifat defensif untuk mempertahankan ide-idenya dari serangan ide lain, pun memiliki konsep ofensif untuk mempropagandakan ide-idenya agar dianut oleh umat lain. Ketiga ideologi tersebut adalah Islam, sekulerisme dan komunisme.
Islam bukanlah berasal dari Indonesia. Ia berasal dari Jazirah Arab. Dalam pandangan Islam, Allah swt menurunkan wahyu kepada utusan-Nya, Muhammad saw. Melalui beliau saw, dua sumber ajaran Islam, yaitu Al Quran dan As Sunnah tersampaikan kepada umat manusia. Islam telah menjawab pertanyaan mendasar manusia dengan tegas. Islam menjawab bahwa semua kehidupan ini diciptakan oleh Allah swt, manusia hidup hanya untuk beribadah (tunduk patuh) kepada-Nya dan semua manusia akan dikembalikan kepada-Nya untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya di dunia. Berdasarkan pandangan dasar inilah Islam membangun ide-ide turunannya yang lain. Sistem politik, ekonomi, pendidikan, pergaulan, pidana dan sebagainya terlahir dari aqidah Islam. Dalam aplikasinya, semua sistem tersebut terangkum dalam ide penerapan Syariah melalui penegakan Khilafah. Ideologi Islam pernah memimpin percaturan politik dunia selama lebih dari 13 abad, mulai pertengahan abad ke 7 sampai awal abad ke 14 M.
Sekulerisme pun bukan berasal dari Indonesia. Sekulerisme terlahir dari barisan sakit hati kaum intelektual Eropa. Mereka kecewa dengan pemaksaan doktrin-doktrin gereja yang dipaksakan penerapannya oleh para raja dan pendeta. Doktrin-doktrin tersebut banyak yang bertentangan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, bahkan cenderung diperalat untuk memeras dan menindas rakyat. Kekecewaan mereka akhirnya melahirkan kesepakatan untuk memisahkan agama dari kehidupan, agama mereka tempatkan hanya dalam masalah private semata. Menurut sekulerisme, semua kehidupan ini diciptakan oleh Tuhan, manusia diciptakan Tuhan untuk menikmati kehidupan, semua manusia akan dikembalikan kepada Tuhan. Sehingga dalam pandangan sekulerisme, manusialah penentu semua aturan yang diterapkan untuk mereka dan tidak ada pertanggungjawaban manusia kepada Tuhan setelah semua kehidupan ini berakhir. Karena itulah, ide demokrasi (kedaulatan di tangan rakyat) dan Hak Asasi Manusia (HAM) sangat diagungkan oleh para penganutnya. Karena sistem ekonominya yang berpihak kepada para kapitalis, ide ini dikenal pula dengan nama kapitalisme. Ideologi ini muncul sejak abad pertengahan, eksis hingga kini dengan AS sebagai negara pemimpinnya.
Begitu pula dengan komunisme, ia pun bukan berasal dari Indonesia. Ide ini digagas oleh seorang filosof Yahudi, Karl Marx. Ia adalah seorang hegellian kiri yang kecewa dengan penindasan kaum borjuis terhadap kaum proletar. Dalam pandangan komunisme, semua kehidupan ini berasal dari materi semata, hidup ini hanya untuk mencari materi, pun semua kehidupan hanya akan kembali menjadi materi semata. Tidak ada keyakinan terhadap keberadaan Sang Pencipta dan tiada pula proses penciptaan. Semua materi muncul di dunia hanya melalui evolusi materi. Materi itulah yang kekal. Karena itulah, ideologi ini memunculkan ide dialektika materialisme. Semua kehidupan akan berdialektika menuju suatu tatanan yang seimbang. Begitu pun dengan masyarakat, semua kesenjangan yang terjadi di masyarakat harus didorong secara paksa untuk berdialektika ke arah masyarakat yang sosialis, yaitu masyarakat yang hidup sejajar tanpa ada strata manusia yang menguasai strata yang lain. Ideologi ini diemban Uni Soviet hanya selama 81 tahun, mulai tahun 1910 sampai dengan 1991.
Uji kelayakan sebuah ideologi adalah uji kelayakannya dengan fitrah manusia. Manusia memiliki naluri bertuhan. Sehingga dapat dipastikan, bahwa ideologi komunisme adalah ideologi yang bertentangan dengan fitrah manusia. Orang yang mengatakan kursi tercipta dengan sendirinya saja bisa dipertanyakan kewarasannya, apalagi yang mengatakan dunia dan alam semesta tak ada penciptanya, sungguh suatu ide yang sangat tidak masuk akal. Setali tiga uang dengan komunisme, sekulerisme pun membatasi naluri bertuhan ini hanya pada tataran privat. Sehingga, tuhan tidak diakui dalam kehidupan publik, keyakinan mereka atas keberadaan tuhan tidak berguna selain hanya sebagai tempat pasrah dan meminta, bukan untuk ditaati. Walhasil, keberadaan tuhan di hati mereka, sama dengan ketidakberadaannya.
Manusia pun memiliki naluri eksistensi diri. Bila manusia dibiarkan mengatur dirinya sendiri, pastilah akan membuat sebagian manusia menindas manusia lain, bangsa yang kuat memangsa bangsa yang lemah, negara superpower menjajah negara lemah dan berkembang. Laksana hukum rimba. Ide ini mendegradasi manusia memasuki dunia binatang.
Ide asli yang dianut nenek moyang bangsa Indonesia adalah animisme dan dinamisme, kemudian masuklah pengaruh agama Hindu dan Budha, lalu Islam. Setelah masuknya era penjajahan Eropa ke negeri ini, barulah agama lain masuk bersamaan ide sekulerisme dan komunisme. Propaganda komunisme terasa kuat pada tahun 1960-an sampai kemudian akhirnya meredup seiring dengan pudarnya negara pengembannya, Uni Soviet. Propaganda bertubi-tubi dilakukan ideologi sekulerisme di bawah kepemimpinan Inggris, kemudian dilanjutkan AS hingga kini. AS terus-menerus menancapkan cengkeraman kuku penjajahannya ke negeri ini. Terlahirnya berbagai UU yang pro kapitalis asing, debt trap (jebakan utang), penerapan konsep negara korporasi, propaganda demokrasi, HAM dan liberalisasi di berbagai ranah kehidupan, semua ini semakin menunjukkan bahwa Indonesia ditarik ke pusaran ideologi sekulerisme.
Pada ‘sudut ring’ yang lain ada kaum muslim, yang merupakan kaum mayoritas di negeri ini. Kaum muslim semakin memahami Islam dan merasakan kesewenang-wenangan AS. Kaum muslim yang tersadarkan menyerukan penerapan Islam secara paripurna melalui penegakan Khilafah.
Inilah yang sedang terjadi di negeri ini, pusaran ideologi lambat laun akan memaksa bangsa ini untuk memilih. Sekulerisme (Kapitalisme) pimpinan AS semakin menunjukkan kebobrokannya. Ia memaksa bangsa ini untuk mengadopsi sekulerisme secara paripurna. Karena pengakuan suatu bangsa terhadap konsep sekulerisme adalah kerelaannya untuk dijajah. Berbeda dengan Islam, saat ini ia belum memiliki negara pemimpin (kembali). Ideologi Islam sedang diemban oleh gerakan-gerakan Islam supaya mewujud sempurna melalui institusi khilafah Islamiyyah. Ia adalah ide perlawanan atas penjajahan AS. Ia sebuah harapan solusi atas ketidakadilan kapitalisme terhadap bangsa Indonesia dan kaum muslim di seluruh dunia. Inilah pilihan-pilihan kita, pilihan bangsa ini, menuju sekulerisme secara utuh ataukah Islam secara menyeluruh? Dan kita pun paham bahwa setiap pilihan ada kosekuensinya. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (ary.attasiky/22/9/2014)


*) oleh : Ary Herawan, ST., M.Pd. (Pendidik dan Aktivis Dakwah)

Berpikirlah! maka Kita akan menjadi yang Utama


Manusia diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang sebaik-baiknya, sebagaimana firman-Nya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (TQS. At Tin[95]:4). Sehingga tidaklah terlalu muluk bila penulis menuliskan judul di atas. Karena memang manusia adalah makhluk yang utama, sampai-sampai dikatakan –dan ungkapan ini benar-bahwa manusia lebih utama daripada malaikat. Keutamaan manusia ini tiada lain terletak pada akalnya.1)
Kata akal berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata : al ‘aqlu. Artinya sama dengan al idrak dan  al fikr. Ketiga kata tersebut maknanya adalah sama. Dalam bahasa Arab, kata semacam ini disebut mutaradif atau sinonim.2) Untuk dapat memahami definisi akal secara tepat, maka kita dapat merujuk pada firman Allah SWT :
“Allah telah mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Allah mengemukakannya kepada para malaikat, lalu berfirman, “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kalian yang benar!” Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Mahamengetahui dan Mahabijaksana.” Allah berfirman, “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu!” Maka setelah Adam memberitahukan kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman,”Bukankah sudah Aku katakana kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui apa saja yang kalian tampakkan dan sembunyikan?” (TQS. Al Baqarah[2] : 31-33) 

Berdasarkan ayat tersebut di atas, maka kita bisa merinci apa yang dimaksud dengan akal. Untuk memenuhi perintah Allah SWT, yakni menyebutkan nama-nama benda, Nabi Adam as menggunakan potensi akalnya. Yakni dengan mencerap fakta (objek) yang berupa benda-benda melalui alat indera ke dalam otak, lalu menyebutkan nama-nama benda itu sesuai dengan informasi yang telah diajarkan oleh Allah SWT. Dengan demikian akal bukanlah suatu komponen yang tunggal dalam tubuh manusia, namun suatu rangkaian yang melibatkan empat komponen yaitu 1) Fakta/objek; 2) Alat Indera; 3) Otak yang sehat; dan 4) Informasi terdahulu. Apabila satu komponen hilang, maka akal tidak akan berfungsi.
Bagaimana kita bisa mengenalkan warna-warna benda kepada seorang anak, tanpa kita menunjukkan objek (benda) dengan warna-warna yang berbeda? Tentu tidak bisa, karena anak tersebut tidak dapat memikirkan objek (benda) yang tidak ada. Walaupun indera mereka lengkap, otak mereka sehat, kemudian kita menyebutkan berbagai jenis warna, mereka tetap saja tidak akan paham. Mereka hanya akan menghapal jenis-jenis warna, namun tidak akan sampai mengenalinya. Mereka akan hapal ada warna merah, biru, hijau dan sebagainya, tetapi mereka tidak akan mengenali benda mana yang memiliki warna-warna dimaksud.
Begitu pun bila kita akan mengenalkan warna-warna benda kepada seorang anak. Namun anak yang kita ajari tidak boleh melihat, mencium maupun meraba bendanya. Begitu pun pada contoh yang lain, seseorang yang otaknya tidak sehat (alias gila), tentu tidak bisa berpikir.
Informasi sebelumnya juga memegang peranan yang sangat penting dalam akal, Nabi Adam as dapat menyebutkan nama-nama benda, karena Allah SWT telah memberikan informasi kepadanya. Atau dengan contoh lain, misalnya seseorang yang tidak pernah belajar bahasa Jepang, kemudian disodorkan kepadanya makalah berhuruf kanji Jepang. Berapa kali pun ia bolak-balik melihat makalah tersebut, ia tetap tidak akan bisa membacanya, karena ia tidak memiliki informasi sedikitpun tentang bahasa Jepang, baik membaca huruf kanjinya maupun cara melafalkannya.
Berdasarkan paparan contoh di atas, maka untuk menggunakan akal mesti melibatkan empat komponen, yaitu objek, indera, otak yang sehat dan informasi sebelumnya. Sehingga dapat didefinisikan bahwa akal adalah pemindahan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak yang disertai adanya informasi-informasi terdahulu yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut. 3)  

Menjadi Makhluk Utama
Keutamaan akal yang ada pada diri manusia tidak selalu menjamin bahwa ia akan selalu menjadi yang utama. Hanya manusia yang menggunakan akalnya dengan benar sajalah yang akan selalu diberi predikat utama. Karena dengan akal manusia dituntut untuk mengimani Allah dan Rasul-Nya. Proses keimanan ini menjadi dimungkinkan karena akal mampu mengakses tanda-tanda yang diberikan Allah, baik tanda-tanda yang bersifat aqliyah (rasional) atau tanda yang bersifat naqliyah (tekstual). Jadi untuk tetap menjadi makhluk yang utama manusia harus menggunakan akalnya untuk beriman dan taat.4)
Allah SWT berfirman, yang artinya :
“Sungguh, orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka itulah sebaik-baiknya makhluk.” (TQS. Al Bayyinah[98]: 7)

Menggunakan akal untuk beriman adalah menggunakannya untuk mengimani Allah SWT, Rasul-Nya, Al-Quran dan seluruh isi Al Quran. Kemudian menggunakan akal untuk beramal shalih adalah menggunakannya untuk memahami seluruh informasi, berupa perintah dan larangan Allah SWT yang tertuang dalam Al Quran dan As Sunnah untuk ditaati. Itulah hakikat kegunaan akal, bukan untuk mengakali (baca: membantah) semua perintah dan larangan Allah SWT, namun untuk memahami (baca : mentaati) semuanya.
Bagi manusia yang menggunakan akalnya dengan benar, lalu beriman dan beramal shalih, Allah SWT menjanjikan balasan yang sangat istimewa, salah satunya yang tertuang dalam firman-Nya, yang artinya:
“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga And yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka, mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itulah balasan bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (TQS.Al Bayyinah[98]:8)

Manusia Gerombolan Binatang
Tidak semua manusia menggunakan akalnya dengan benar pada saat dihadapkan pada informasi, berupa wahyu Allah SWT. Apabila dia menggunakan akalnya dengan maksimal dan benar maka ia akan menjadi seorang muslim yang akan menjadikan wahyu sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupannya. Namun apabila ia menolak wahyu yang telah datang kepadanya maka dia akan menjadi kafir karena mengingkari bukti-bukti jelas yang ada pada wahyu tersebut, yang seharusnya diterima oleh akalnya. Begitu pula apabila setelah dia menggunakan akalnya, lalu mengambil wahyu dengan cara memilih dan memilahnya, serta memasukinya dengan setengah hati maka ia bisa terkategori munafik, karena secara zahir tampak sebagai orang yang menerima wahyu padahal secara batinnya ia menolaknya.5) Mengambil wahyu di saat ia anggap menguntungkan dan menolaknya di saat ia anggap merugikan.
Kepada orang-orang yang tidak menggunakan potensi akalnya dengan benar, Allah SWT memberinya predikat seburuk-buruknya makhluk, bahkan lebih hina dibandingkan binatang. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman Allah SWT, yang artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari golongan ahli kitab dan kaum musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya, mereka itulah seburuk-buruknya makhluk.”( TQS.Al Bayyinah[98]:6)
“Dan sungguh, Kami akan mengisi neraka Jahannam dengan banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki qolb (hati dan akal), tetapi tidak digunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka memiliki mata tetapi tidak digunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka memiliki telinga tapi tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itulah laksana binatang ternak, bahkan lebih sesat (darinya). Mereka itulah orang-orang yang lalai.”(TQS. Al A’raf[7]:179)

Merekalah manusia gerombolan binatang, kelompok manusia yang menyia-nyiakan potensi akal yang diberikan oleh Allah SWT. Sangatlah wajar bila manusia seperti ini tingkah lakunya akan sama bahkan lebih hina dari binatang. Bukankah begitu? Banyak sekali fakta untuk membuktikan hal ini.

Kesimpulan
Tidak ada jalan lain lagi bila manusia ingin tetap menjadi makhluk yang utama sampai di kehidupan setelah dunia, maka ia mesti menggunakan potensi akalnya untuk beriman dan memahami wahyu Allah SWT. Oleh karena itu, mumpung kita masih bisa berpikir, supaya kita menjadi yang utama. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (ary.attasiky)

*) Oleh : Ary Herawan, ST., M.Pd. (Pendidik dan Aktifis Dakwah)


Daftar Bacaan
1)    Annabhani, Taqiyuddin. 1973. Hakekat Berpikir. Pustaka Thariqul Izzah.
2)   Abdurrahman, Hafidz. 1998. Islam Politik dan Spiritual. Lisan ul-Haq.
3)    ibid. 1)
4)    Penjelasan lebih lanjut bisa membaca tulisan saya yang berjudul : Mengokohkan Keimanan,    Menggugat ‘Islam Kebetulan’.
5)    lihat Felix Siauw.2013. Beyond The Inspiration hal. 76-77. Al Fatih Press.
6)    lihat Q.S. Al-Furqan[25]: 43-44.

Jumat, 19 September 2014

Apa Maksudnya ‘Islam Rahmatan Lil ‘alamin’?

ISTILAH Islam rahmatan lil ‘alamin sudah mengalami penyempitan makna, yakni menjadi Islam yang lembut dan damai. Sehingga ketika ada saja sedikit reaksi perlawanan dari umat Islam terhadap penjajahan barat, baik secara non fisik, apalagi fisik, maka langsung dicap Islam yang tidak rahmatan lil ‘alamin.
Bila makna Islam rahmatan lil ‘alamin hanya dimaknai kelembutan dan kedamaian semata. Mungkin kita tidak akan pernah membaca kisah peperangan ghozwah (yang diikuti Rasulullah saw) dan sariyah (yang tidak diikuti Rasulullah saw.). Begitu pula kita tidak akan mengenang heroiknya kisah para pahlawan melawan penjajahan dengan pekik takbir yang membahana.
Islam memang tidaklah identik dengan kekerasan, tetapi juga bukan berarti harus serba lembut dan kompromistis dalam hal pensikapan. Islam tidak identik dengan kewajiban jihad semata. Tapi Islam pun tidak identik dengan senyum adalah shodaqoh semata. Terkadang Rasulullah saw. bersikap lembut terhadap orang yang memusuhi beliau, seperti kepada Suraqah yang hendak membunuhnya tetapi digagalkan oleh Allah swt. Namun beliau saw. juga bersikap keras terhadap musuhnya, sebagaimana sikap beliau yang memerangi Bani Quraidzah karena pengkhianatannya.
Istilah rahmatan lil ‘alamin termaktub dalam Q.S. Al Anbiya[21]:107, yang artinya :
“dan tiadalah Kami mengutus engkau (hai Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamiin)”
Dalam tafsir Marah Labid (Tafsir Munir), Syaikh An Nawawi Al Jawi menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut : “Tidaklah Kami utus engkau wahai makhluk yang paling mulia, dengan berbagai peraturan (syariah), melainkan dalam sebagai rahmat Kami bagi seluruh alam, dalam agama maupun dunia. Karena manusia dalam kesesatan dan kebingungan, maka Allah swt. mengutus Sayyidina Muhammad saw. sehingga beliau saw. menjelaskan jalan menuju pahala, menampilkan dan memenangkan hukum-hukum syariah Islam, juga membedakan yang halal dan yang haram. Setiap Nabi sebelum beliau saw., manakala didustakan oleh kaumnya, maka Allah swt. menghinakan mereka dengan berbagai siksa. Namun bila kaum Nabi Muhammad saw. mendustakannya, Allah swt mengakhirkan azab-Nya hingga datang kematian dan Allah swt mencabut ketetapan-Nya membinasakan kaum pendusta Rasul. Inilah umumnya tafsiran para mufassirin.” Sehingga Islam akan menjadi rahmatan lil ‘alamin bila syariah Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan.
Sangatlah tidak adil bila kita melihat Islam hanya dari segi hukum kewajiban jihad semata, baik yang bersifat defensifmaupun ofensif. Kita juga perlu melihat jaminan keamanan dalam Islam, pun persamaan hak di dalam sistem Islam. Dalam sistem Islam, orang-orang muslim maupun non muslim akan mendapatkan perlakuan sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariah. Hak-hak mereka sebagai warga negara dijamin penuh oleh negara Islam. Islam tidak akan memaksa non muslim untuk masuk Islam. Islam pun tidak akan mmberangus tempat-tempat peribadatan mereka. Islam akan membiarkan non muslim hidup berdampingan dgn orang-orang muslim selama mereka tidak memerangi kaum muslim.
Orang-orang non muslim yang hidup dalam negara Islam (kafir dzimmi) mendapat perlakuan dan hak yang sama dengan kaum muslim. Harta dan darah mereka terjaga sebagaimana terjaganya harta dan darah kaum muslim. Dari Ibnu Mas’ud, Al Khatib meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa yang menyakiti kafir dzimmi, maka aku akan berperkara dengannya, dan barangsiapa yang berperkara denganku, maka aku akan memperkarakannya pada Hari Kiamat.” (Jami’ush Shagir, As-Suyuthi)
Kafir dzimmi tidak akan dipaksa meninggalkan agamanya, mereka hanya diminta membayar jizyah, itu pun hanya dari kalangan lelaki yang baligh dan mampu bekerja saja. Para wanita, anak-anak dan tua renta tidak dimintai jizyah. Bahkan jika kondisi mereka tidak mampu, akan menjadi tanggungan negara.
Urwah Bin Zubair bertutur: “Rasulullah saw pernah menulis surat kepada penduduk Yaman, “Siapa saja yg tetap memeluk agama Nashrani dan Yahudi, mereka tdk akan dipaksa keluar dari agama mereka. Mereka hanya wajib membayar jizyah.” (H.R.Ibnu Hajar, Nailul Author juz VIII, Asy Syaukani)
Dari Aslam maula Umar, Nafi’ bertutur, “Umar pernah menulis surat kepada para pemimpin pasukan agar mereka memungutjizyah. Mereka tdk boleh memungut jizyah dari wanita dan anak kecil. Mereka juga tidak diperkenankan menungut jizyah kecuali dari orang yang sudah baligh.”
Begitu pun Syaikh Taqiyuddin An Nabhani menjelaskan dalam kitab Asyakshiyyah Al Islamiyyah juz II, bahwa Jizyah tidak dipungut dari orang yang miskin, lemah dan butuh sedekah.
Negara Islam adalah tempat yang nyaman untuk semua ras, agama, suku dan bangsa. Bahkan ketika orang-orang Yahudi terpaksa mengungsi akibat inkuisisi yang dilakukan oleh Kristen Spanyol pada abad ke-15, mereka mendapatkan perlindungan dari Khilafah Bayazid. Begitupun saat pasukan salib kristen menyerang Syam, mereka terkaget saat lawan yang mereka hadapi adalah orang-orang yang seagama tetapi pro negara Islam.
Tidak adil pula bila kita melihat syariah Islam hanya dari penerapan hukum pidananya semata. Kita mesti menelaah pula jaminan kesejahteraan dalam sistem ekonomi Islam, penanaman nilai-nilai ketaqwaan dalam sistem pendidikannya, juga hukum-hukum lainnya yang terkait keutamaan menyantuni fakir miskin. Karena pencegahan kriminalitas di dalam sistem Islam jauh lebih diutamakan dibandingkan penerapan sanksinya.
Imam Asy syaukani menjelaskan bahwa tidaklah Allah swt mengutus Nabi Muhammad saw. dengan seluruh syariah dan peraturan, terkecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sehingga, rahmatan lil ‘alamin akan terwujud dengan penerapan hukum syariah Islam oleh Khilafah Islamiyyah.Wallohu a’lamu bishshowwaab. (ary.attasiky.17/09/2014)

Sumber : http://www.islampos.com/apa-maksudnya-islam-rahmatan-lil-alamin-134860/
Tulisan dimuat di : www.islampos.com/Kamis 23 Zulkaedah 1435 / 18 September 2014

Rabu, 17 September 2014

yang Tersisa dari Sebuah Keshalihan

Di sebuah negeri antah berantah, tersebutlah seorang ibu muslimah yang membanggakan anak sulungnya. “Alhamdulillah, anak pertama saya shalih sekali. Sekarang ia sudah berhasil dan kerja di tempat yang basah dengan gaji tinggi. Selain itu ia juga baik sama orang tua, semua biaya sekolah adiknya pun ditanggung olehnya.” Jawab Sang Ibu jika ada tetangga yang menanyakan perihal Si Sulung.

Suatu malam, pulanglah Si Sulung dari perantauannya. Sebagaimana biasa orang yang pulang kampung, banyak sekali oleh-oleh yang dibawanya.
“Bu..., bu !” Teriak Si Sulung mengetuk-ngetuk pintu berkali-kali
“Ya...” Sahut Sang Ibu dengan suara tinggi, lalu menuju ke arah pintu dan membukanya.
“Alhamdulillah nak, kamu pulang, jam berapa dari kota?” Tanya Sang Ibu dengan wajah ceria.
“Jam 3 sore bu, karena siangnya Sulung ikut dulu perayaan natalan bersama di tempat kerja.” Jawab Si Sulung.
Saat itu jam dinding yang berada di ruang depan menunjukkan jam 11 malam.
“Kamu pasti kamu lelah Nak, sekarang kamu istirahat saja sana di kamar tengah” Saran Sang Ibu.
“Iya bu, capek sekali.” Jawab Si Sulung sambil langsung menuju kamar tengah. Tak lebih dari lima menit ia pun langsung tidur lelap.

Pada pukul 5 esok harinya, anak terakhir Sang Ibu bangun, ia kaget melihat banyak barang di ruang tengah rumahnya. Ia pun langsung menghampiri Sang Ibu yang sedang di dapur.
“Bu..., kok banyak barang di ruang tengah?” Tanya Si Bungsu dengan wajah keheranan.
“Iya nak, kakakmu tadi malam pulang dari kota jam 11 malam.” Jawab Sang Ibu.
Dengan raut gembira, Si Bungsu kembali bertanya : “Sekarang kakak dimana bu?” seakan penasaran ingin segera bertemu dengan kakaknya.

Sang Ibu pun segera menjawab :”Ada di kamar, biarkan saja ya nak, kasihan ia kecapean.” Lalu Sang Ibu pun memegang kedua bahu Si Bungsu dan menatapnya seraya berkata:”Kakakmu kan tadi malam baru sampai rumah jam 11 malam. Biarkan ia istirahat dulu ya nak dan jangan di ganggu!” Sang Ibu memberi pengertian kepada anaknya.
“Iya bu, Bungsu gak akan ganggu kakak.” Jawab Sang Anak.
Sang ibu pun tersenyum, “Anak ibu memang baik.” Ucap Sang Ibu.
Waktu terus berlalu sampai jam 8 siang, barulah Si Sulung terbangun.

Cerita di atas memang fiktif, namun sangat mungkin terjadi di sekitar kita. Apabila ada kesamaan nama, tokoh, cerita, waktu dan tempat, penulis meminta maaf karena tidak ada unsur kesengajaan di dalamnya.

Apabila kita renungkan, cerita seperti di atas mungkin bisa menjadi kenyataan pada saat materialisme sudah merasuk ke berbagai lini kehidupan. Semua hal diukur dengan materi, sampai keshalihan dan keberhasilan pun hanya diukur dengan materi, bukan yang lain.
Padahal Imam Ath Thabari, tatkala menafsirkan surat Al ‘Ashr menjelaskan tentang orang-orang yang beramal shalih, yaitu :
وأدّوا ما لزمهم من فرائضه، واجتنبوا ما نهاهم عنه من معاصيه،
“orang-orang yang mengerjakan apa yang diwajibkan atas mereka dari berbagai hal yang fardlu, dan menjauhi apa yang dilarang atas mereka dari berbagai kemaksiatan.

Definisi ini jelas bertolak belakang dengan definisi keshalihan yang diambil oleh Sang Ibu (dalam cerita), dimana ia hanya mengukur keshalihan berdasarkan kuantitas dan kualitas materi yang diberikan Sang Anak kepadanya.

Cerita di atas sangat mungkin menjadi kenyataan bila sekulerisme sudah merasuk ke dalam jantung pendidikan keluarga. Ia menyerang sampai ke benteng pertahanan pendidikan kaum muslimin yang paling utama, yaitu keluarga. Sehingga mengingatkan shalat lima waktu pun sudah dianggap tabu. Gaji tinggi yang menjadi kebanggan, adapun halal dan haram itu adalah nomor kesekian. Padahal Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
yang artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (TQS. At Tahrim[66] : 6)
Imam Jalalain menjelaskan ayat tersebut dengan kalimat :
بِالْحَمْلِ عَلَى طَاعَة اللَّه
“Dengan mengajak (keluarga) untuk taat kepada Allah”
Begitu pula Imam Ath Thabari menegaskan :
وعلموا أهليكم من العمل بطاعة الله ما يقون به أنفسهم من النار  
“Dan ajarkanlah keluarga kalian, dengan aktifitas ketaatan kepada Allah, apa-apa yang bisa menjaga diri-diri mereka dari api neraka.”

Cerita di atas memang sangat mungkin terjadi, bila paham sinkretisme dan pluralisme sudah merasuk ke dalam benak-benak kaum muslimin. Sehingga ikut memperingati hari raya agama lain pun sudah dianggap wajar, padahal Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
“Dan orang-orang yang tidak menghadiri/menyaksikan az-zûr, dan apabila mereka melewati al-laghwu (perbuatan dan perkataan yang tidak berguna), mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (TQS al-Furqan [25]: 72)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Abu ‘Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirrin, adh-Dhahhak, ar-Rabi’ bin Anas, dan lainnya, memaknai az-zûr itu adalah hari raya kaum Musyrik. Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa keseluruhan ayat ini memberikan pengertian bahwa mereka tidak menghadiri  az-zûr. Dan jika mereka melewatinya, maka mereka segera melaluinya, dan tidak mau terkotori sedikit pun olehnya. Bahkan Berdasarkan ayat ini, banyak fuqaha’ yang menyatakan haramnya menghadiri perayaan hari raya kaum kafir.

Bila demikian adanya, apa yang tersisa dari keshalihan di negeri antah berantah tersebut? mungkin yang tersisa hanya tinggal kata (sususan huruf)-nya semata, yang terucapkan tanpa makna dan pengamalan. Na’udzubillahi min dzalik. (ary.attasiky.26/12/2013)

Selasa, 16 September 2014

Istiqomah

Istiqomah, sebuah kata yang mungkin kita mudah untuk mengatakannya. Namun terkadang tidak mudah untuk menjalaninya. Apalagi istiqomah dalam hal yang bersifat prinsip dan kebenaran. Ada orang yang pada saat mudanya, teguh sekali memegang aturan Islam. Jangankan pacaran, ketemu lawan jenis saja ia langsung memalingkan muka. Tapi ketika sudah beristri dan bekerja, ia malah menjadi berani untuk boncengan dengan rekan kerjanya yang bukan mahrom, kerap yang menjadi alasannya adalah tuntutan pekerjaan.
Kita mungkin masih ingat peristiwa reformasi 1998. Saat itu para aktifis pemuda dan mahasiswa gencar sekali menentang korupsi. Dan saat ini tidak sedikit di antara mereka yang memegang jabatan di pemerintahan, kemudian lunturlah semua idealisme anti korupsinya, malahan tak jarang menjadi biangnya korupsi.  Atau bahkan para aktifis Islam yang bertahun-tahun jor-joranmenolak demokrasi, belakangan ini malah ikut nyaleg pada pemilu 2014 dan menyuarakan golput haram. Kemudian bermacam-macam alasan dikeluarkan, mulai dari khawatir diisi caleg non muslim sampai dalam rangka memperjuangkan Islam. Padahal alasan-alasan tersebutlah yang dahulu sering ia bantah dalam rangka menolak hajatan demokrasi tersebut. Bahkan ada pula yang ketika di masa muda membela Islam namun saat dewasa menjadi ikut-ikutan proyek anti terorisme yang nyata-nyata memusuhi Islam. Na’udzubillahi min dzalik.
Istiqomah atau konsisten memang bukanlah kata yang bisa berdiri sendiri, yang ketika kita menjalaninya maka akan dijamin mendapat pujian dari Allah SWT. Hanya istiqomah dalam kebenaranlah yang akan mendapat pahala dari Allah SWT, sebagaimana firman Allah :
“Sesungguhnya orang-orang yang mereka berkata:”Tuhan kami adalah Allah.” Lalu mereka istiqomah, para malaikat akan turun atas mereka (dengan berkata):”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (TQS. Fushilat[41]:30)
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah”, lalu mereka tetap istiqomah, tidak ada rasa khawatir pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”(TQS. Al-Ahqof[46]:13).
Adanya do’a dari para malaikat, surga dan kepastian hilangnya rasa khawatir dan kesedihan merupakan janji Allah kepada orang-orang yang istiqomah dalam hal keimanan.
Rasulullah SAW pun memberikan penegasan kemestian istiqomah  dalam hal  pengamalan syariah. Tatkala ada yang meminta supaya hukum potong tangan tidak diberlakukan kepada pencuri dari kalangan bangsawan, Rasulullah SAW menolaknya dengan mengatakan bahwa seandainya putrinya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya beliau pun akan memotong tangan putrinya tersebut.
Sikap Rasulullah SAW dalam berdakwah pun sama. Tatkala Utbah bin Rabi’ah menawarkan harta, kemuliaan dan jabatan supaya Rasulullah SAW meninggalkan dakwahnya, beliau dengan tegas menolaknya. Kemudian saat beliau dirayu pamannya (Abu Thalib) untuk menghentikan dakwahnya, beliau menegaskan : “Wahai paman, demi Allah, kalaupun mereka menaruh matahari di sebelah kananku dan bulan di sebelah kiriku supaya aku meninggalkan urusan (agama) ini, niscaya sekali-kali aku tidak akan meninggalkannya, sampai Allah memenangkan agamanya atau aku binasa karenanya.”1)  
Sikap yang sama pula ditunjukkan oleh beliau SAW ketika didatangi perwakilan tokoh kafir Quraisy. Mereka yang terdiri dari Aswad bin Al Muthallib bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, Al Walid bin Al Mughirah, Umayah bin Khalaf dan Al ‘Ash bin Wa’il As Sahmi mendatangi beliau SAW pada saat thawaf di Ka’bah. Mereka berkata :
“Wahai Muhammad, Biarkanlah kami menyembah apa yang engkau sembah dan engkau juga menyembah apa yang kami sembah sehingga kami dan engkau dapat bekerja sama dalam menjalankan urusan ini.”
“Jika yang engkau sembah itu lebih baik daripada apa yang kami sembah, berarti kami telah mengambil bagian kami darinya. Demikian pula jika apa yang kami sembah lebih baik daripada yang engkau sembah, berarti engkau telah mendapatkan bagianmu darinya,” lanjut mereka.2)
Rasulullah menjawabnya dengan wahyu Allah SWT, yang artinya :
“Katakanlah! Hai orang-orang kafir ! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukanlah penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu juga tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.”(TQS. Al Kafirun[109]: 1-6).
Sebetulnya masih banyak lagi contoh keistiqomahan sikap Rasulullah SAW dalam memegang prinsip kebenaran, mungkin perlu bab tersendiri untuk membahasnya. Namun yang mesti menjadi panduan bagi kita adalah bahwasanya ancaman dan godaan memang selalu berputar merayu-rayu keistiqomahan kita. Berbagai keburukan dari mulai hinaan, ejekan, propaganda sampai hilangnya nyawa senantiasa mengancam orang-orang yang istiqomah. Begitu pula berbagai kebaikan berupa pujian, materi, tahta bahkan wanita pun selalu menggoda orang-orang yang istiqomah.
Tulisan ini memang tidak menafikan adanya perbedaan pendapat di kalangan kaum muslimin, yang bisa jadi seseorang berpindah dari satu pendapat mujtahid kepada pendapat mujtahid yang lain. Namun penulis berharap, semoga kita dan semua yang telah berkomitmen menjadi para pembela Islam, senantiasa dikuatkan untuk selalu istiqomah dalam keimanan dan amal. Cukuplah firman Allah SWT berikut menjadi bahan renungan bagi kita semua :
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan (begitu saja), padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (TQS. At Taubah[9]:16).
Marilah bermunajat kepada Allah, “Ya Allah, aku sungguh-sungguh memohon kepadamu ketegaran dalam urusan agama ini dan tekad kuat berada di atas petunjuk.aamiin.”Wallohu a’lamu bishshowwaab. (ary.attasiky/23/12/2013)

1) Muhammad Rawwas Qol’ahji. 2007. Sirah Nabawiyah. Al Azhar Press.
2) Ahmad Hatta, dkk. 2011. The Great Story of Muhammad SAW. Maghfirah Pustaka.

Reuni dan Muhasabah

Bertemu dengan teman-teman lama dalam suatu forum reuni adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Berbagai cerita mengalir begitu saja seakan memori masa lalu hadir kembali. Dengan tawa dan canda, semua cerita masa lalu menjadi tema yang menarik  dibicarakan. Mulai dari pengalaman yang lucu sampai yang menyedihkan. Cerita suka dan duka. Bahkan, seperti slogan suatu acara infoteinment, yang dulu tabu pun menjadi layak untuk diperbincangkan.

Menyimpan informasi adalah salah satu keistimewaan otak manusia. Pengalaman hidup di masa lalu adalah salah satunya. Otak sebagai salah satu komponen berpikir menyuplai kembali informasi masa lalu ke dalam aktifitas berpikir kita1). Sehingga antara kita dan teman lama, seolah sambung menyambung mengenang masa lalu yang seolah tiada habisnya.

Masa lalu memang terkadang menarik untuk dikenang, namun semuanya pasti tidak akan kembali. Sebesar apapun kerinduan manusia akan masa lalunya, tapi mengembalikannya adalah suatu hal yang mustahil. Belum ada satu pun manusia di dunia, yang paling jenius sekalipun, dapat mengembalikan masa lalu. Menyenangkan atau menyedihkan kejadian di masa lalu, semuanya hanya akan menjadi sebuah pengalaman hidup dan kenangan semata.

Selain pengalaman hidup dan kenangan, masa lalu juga meninggalkan sebuah konsekuensi. Konsekuensi adalah akibat yang mesti kita tanggung dari pilihan aktifitas kita di masa lalu. Tidak ada manusia yang bisa menghindar darinya, karena itu adalah sebuah sunnatullah. Laksana orang yang menyemai bibit lalu memelihara tanamannya, maka ia pun pasti akan memanen hasilnya.

Konsekuensi masa lalu akan kita rasakan hari ini. Seorang yang hari ini menjadi cendekiawan, tentu karena di masa lalunya ia banyak bergelut dengan ilmu. Seorang yang hari ini menjadi montir mobil yang terampil, tentu karena di masa lalunya ia pernah belajar memperbaiki mobil, baik secara formal maupun tidak formal. Atau bila kita menyaksikan ada orang yang fasih berbahasa Arab, karena memang dulunya ia pernah belajar bahasa Arab. Begitu pun dengan seorang pengusaha kaya yang tiba-tiba gulung tikar karena tak mampu membayar utang, tentu karena di masa lalunya ia usaha dengan bermodalkan pinjaman bank. Juga seorang pencari kerja yang saat ini ditolak hanya karena tak memiliki ijazah, tentu karena dulu ia tak pernah lulus sekolah formal. Bagaikan seorang bayi yang tidak pernah belajar berdiri, tentu sampai hari ini pun ia tak akan bisa berdiri. Semua pilihan aktifitas kita di masa lalu, pasti akan berdampak hari ini.

Sebagaimana masa lalu yang berdampak pada hari ini, seluruh pilihan aktifitas kita di hari ini pun akan memiliki konsekuensi di masa depan. Karena di masa depan, masa kini akan menjadi masa lalu. Masa depan adalah semua hal yang akan terjadi dan masih ghaib bagi kita. Termasuk bila kita sekarang sedang menjalani aktifitas pagi maka masa depan bagi kita adalah dari mulai siang hari sampai kehidupan setelah seluruh dunia ini berakhir. Sehingga bila kita menganggap masa depan sebagai sesuatu yang penting, maka persiapannya adalah hari ini. Orang yang cerdas menghadapi masa depan adalah orang yang berpikir “nanti bagaimana” lalu menyusun strategi menuju apa yang dia cita-citakan. Bukan orang yang berpikir “bagaimana nanti” lalu ia bertindak sporadis karena tak tentu arah yang dituju.  

Bagi seorang mukmin, seluruh aktifitas dunia pun ada konsekuensinya terhadap nasibnya di akhirat. Sebagaimana firman Allah SWT :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ 
artinya :
“Wahai sekalian orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaklah seseorang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok. Dan bertakwalah kalian kepada Allah ! Sesungguhnya Allah Mahamengetahui terhadap apa-apa yang kalian kerjakan.” (Q.S. Al Hasyr[59]:18)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya bahwa firman Allah (وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ) bermakna : “hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan perhatikanlah apa yang telah kalian simpan untuk diri kalian, berupa amal-amal yang shalih, untuk hari dimana kalian dikembalikan dan dihadapkan kepada Tuhan kalian.” Adapun Imam Al Qurthubi menjelaskan bahwa orang Arab mengibaratkan masa depan dengan hari esok. Penggunaan kata “hari esok” untuk menyebutkan “hari kiamat” adalah sebagai perhatian bahwa hari kiamat adalah dekat.

Konsekuensi aktifitas kita di masa lalu akan kita rasakan hari ini. Konsekuensi aktifitas kita hari ini akan kita rasakan hari esok. Begitu pula konsekuensi seluruh aktifitas kita di dunia akan kita tanggung di akhirat kelak. Semua itu adalah pasti.
Dalam kegiatan reuni, otak kita yang terbatas seolah begitu detil mengingat masa lalu. Tentu bisa kita bayangkan, catatan malaikat Raqib dan ‘Atid tentu akan jauh lebih detil lagi. Bahkan tak hanya itu, tangan dan kaki yang akan menjadi saksi atas apa yang pernah kita lakukan di dunia.2)        

Apa yang telah kita lakukan adalah masa lalu yang tidak akan kembali. Namun yang tersisa darinya tidak hanya pengalaman dan kenangan tapi juga konsekuensinya. Semua orang tentu menginginkan masa depan yang baik. Maka konsekuensi bermalas-malasan di masa lalu adalah tekun di hari ini. Konsekuensi hura-hura di masa lalu adalah kerja keras di hari ini. Konsekuensi kesalahan di masa lalu adalah perbaikan di hari ini. Begitu pula Konsekuensi kemaksiatan di masa lalu adalah taubat dan taat di hari ini.

Semua kesempatan itu hanya ada di dunia dan hari ini. Di akhirat, tak ada lagi kesempatan bagi kita walau hanya sedetik pun. Karena itulah, marilah kita siapkan masa depan dengan berbagai amal shalih, yakni amal yang ikhlash disertai ketaatan mutlak terhadap aturan Allah SWT. Robbana ya muqollibal qulub, tsabbit qulubana ‘ala dinika wa ‘ala tho’atika wa ‘ala tho’ati rosulika. aamiiin. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (ary.attasiky.4/01/2014)


1)      Mengenai aktifitas berpikir silahkan baca tulisan ary.attasiky di https://www.facebook.com/notes/ary-herawan/berpikirlah-maka-kita-akan-menjadi-yang-utama/745261098835022
2)      Lihat Q.S. Yaasin[36]:65

Senin, 15 September 2014

Neraca Masa Muda Kita

Bila kita pernah belajar sains, tentu kita akan mengenal neraca massa atau masyarakat umum mengenalnya dengan istilah timbangan. Yakni alat untuk menimbang benda. Massa selalu berbanding lurus dengan berat, semakin besar massa suatu benda maka akan semakin berat atau semakin berbobot.
Namun kita belum pernah menemukan alat berupa neraca masa, atau alat timbangan masa (baca : timbangan waktu). Seandainya alat tersebut ada kemudian kita timbang-timbang masa yang pernah kita lalui, tentu kita bisa memprediksi bahwa masa mudalah masa yang paling berharga bagi kita.
Sangat berharganya masa muda ini tergambar dari ungkapan Ali bin Abu Thalib r.a. tatkala ditanya oleh seorang sahabat: “wahai Ali jika engkau kaya, apa yang kau perbuat dengan kekayaanmu?” beliau menjawab: “aku akan membeli masa muda.” Subhanalloh! begitu berharganya masa muda. Masa muda juga merupakan penentu masa tua, tepatlah bila Syeikh Musthofa Al-Gulayani mengungkapkan sebuah pepatah yang terkenal "Syubaanul Yaum Rijalul Ghad Wa banaatul Yaum Ummahatul Ghad" (Pemuda masa kini adalah lelaki masa depan dan pemudi masa kini adalah ibu masa depan). Dengan kata lain, baik buruknya suatu masyarakat di masa depan ditentukan oleh bagaimana aktifitas pemuda-pemudinya saat ini.
Kisah-kisah heroik yang sampai kepada kita juga banyak didominasi oleh para pemuda. Misalnya para shahabat Rasulullah SAW, yang masuk Islam pada masa-masa sangat membutuhkan pengorbanan, didominasi oleh para pemuda. Ali bin Abi Thalib r.a. dan Zubair bin Awwam r.a. sejak usia 8 tahun sudah terlibat dalam perjuangan. Usamah bin Zaid r.a., memimpin pasukan perang pada usia 18 tahun. Begitu pun Al Arqam bin Abi Al-Arqam r.a. (12 tahun), Abdullah bin Mas’ud r.a. (14 tahun), Sa’ad bin Abi Waqqash r.a. (17 tahun), Ja’far bin Abi Thalib r.a. (18 tahun), Zaid bin Haritsah r.a. (20 tahun), Utsman bin Affan r.a. (20 tahun), Umar bin Al Khaththab r.a. (26 tahun). Adapun Abu Bakar Ashshiddiq r.a. berusia 37 tahun dan Sayyidusysyuhada Hamzah bin Abdul Muthallib berusia 42 tahun. Masih banyak lagi ribuan pemuda yang menjadi para pembela Islam pada masa-masa awal. Bahkan peran para pemudi pun tidak kalah heroik, peran Asma binti Abu Bakar r.a. yang pada usia remaja sudah menjadi tim sukses hijrahnya Rasulullah SAW. Juga ummul Mukminin ‘Aisyah r.a., sosok pemudi cerdas yang mendampingi Rasulullah SAW sejak usia 9 tahun. Juga Hafshah binti Umar yang sudah berjuang bersama Islam pada usia 10 tahun.
Tidak hanya sampai di masa para shahabat, kegemilangan para pemuda juga ditorehkan pada masa-masa setelahnya. Misal Imam Syafi’i hafal Al Quran pada usia 9 tahun dan sudah diminta ijtihadnya pada usia 13 tahun. Sejarah juga mencatat pemuda-pemuda pembela Islam seperti Syaifudin Quthuz, Thariq bin Ziyad Sang Pembebas Andalusia dan Muhammad Al Fatih yang menaklukkan konstantinopel pada usia 21 tahun.
Itulah beberapa peran pemuda yang mengisi bejana masa mudanya dengan bobot amal yang sepadan, bahkan jauh lebih berat dari masanya. Namun berbeda dengan kita saat ini. Kita seringkali menganggap bahwa masa muda adalah masa mencari jati diri. Fase labil yang kemudian menyebabkan semua tingkah lakunya harus serba dimaklumi. Bahkan senandung terkenal mengatakan bahwa masa muda adalah masa yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah, masa yang berapi-api, yang maunya menang sendiri, walau salah tak perduli. Begitulah kata bang Haji.
Persepsi-persepsi seperti inilah yang seringkali membuat kita abai terhadap masa muda, karena semua aktifitas muda-mudi, walaupun beresiko bahaya dunia akhirat, semuanya dianggap hal yang lumrah. Sehingga wajar bila hasilnya sangat mengerikan, data dari BKKBN 2013 dari 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia setiap tahunnya, 30 persen di antaranya dilakukan oleh remaja. Hal ini berarti  ada 690 ribu kasus aborsi dilakukan oleh remaja Indonesia dalam setiap tahunnya, jadi dalam setiap hari ada 1.891 orang remaja yang melakukan aborsi di Indonesia. Sedangkan aborsi remaja terjadi karena Kehamilan yang Tidak Diinginkan (KTD), KTD terjadi akibat aktifitas seks pra nikah (baca: zina). Padahal tidak setiap aktifitas maksiat tersebut berbuah kehamilan, jadi bisa kita bayangkan berapa ribu remaja yang terjebak dalam seks bebas setiap harinya? na’udzubillahi min dzalik. Ini baru dari satu sisi, sebuah potret buram masa kini. Belum lagi masalah tawuran, miras, narkoba, budaya hedonisme dan sederet masalah dunia muda lainnya. 
Jadi persepsi terhadap masa muda yang keliru itulah yang mesti kita ubah. Karena sejatinya, masa muda bukanlah masa pencarian jati diri tapi masa pembuktian jati diri. Karena kalau kita telaah dalam pandangan Islam, akan kita dapati bahwa masa remaja termasuk dalam fase baligh, yaitu fase di mana amal baik dan buruk sudah dihisab oleh Allah SWT. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, yang artinya : “Diangkat pena (tidak dicatat) dari 3 golongan: orang gila sampai dia sadarkan diri, orang yang tidur hingga dia bangun dan anak kecil hingga dia baligh. ” (THR. Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Hadits ini pun bisa dipahami, bila sudah baligh maka akan dicatat (baca : dihisab) seluruh amalnya, baik taat maupun maksiat.
Oleh karena itu, menjelang akhir tahun ini saatnya kita hitung bobot masa muda kita. Sudahkah bejana masa muda yang sangat berharga ini kita isi dengan aktifitas yang sepadan harganya. Atau bahkan dengan aktifitas yang lebih berbobot sebagaimana para pendahulu kita yang telah menuliskan sejarah dengan tinta emas pengorbanan dan perjuangan mereka. Ataukah kita masih termasuk para pemuda yang berleha-leha, membiarkan masa muda yang berharga berlalu begitu saja, tanpa amal, tanpa prestasi, tanpa bobot dan makna. Bahkan termasuk pemuda yang panjang angan-angan, berharap umur panjang dan berencana insyaf pada usia tua. Padahal tidak ada seorang manusia pun yang bisa menjamin dirinya tetap bugar sampai usia tua.   
Bila tak ada jaminan, saatnya kita untuk menghitung neraca masa kita. Tidak ada kata terlambat untuk berhitung selama nyawa masih dikandung badan. Karena masa lalu bagi seorang mukmin adalah suatu pelajaran untuk mempersiapkan masa depan. Sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman! bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (TQS.Al Hasyr[59]:18).
Saatnya juga kita renungkan apa yang diucapkan Hatim al-Asham, “Ada empat perkara yang tidak diketahui nilainya kecuali dalam empat keadaan: Masa muda tidak akan diketahui nilainya kecuali saat menjadi tua. Kelapangan tidak akan diketahui nilainya kecuali saat ditimpa bencana (kesempitan).Nikmat sehat tidak akan diketahui nilainya kecuali saat sakit. Hidup tidak akan diketahui nilainya kecuali saat mati.” (An-Nawawi, Nasha’ih al-‘Ibad). Maka pilihan ada di tangan kita, membiarkan masa muda kita kosong yang berarti rugi, memperberatnya dengan kelalaian dan dosa yang berarti celaka, atau memperberatnya dengan amal, prestasi dan pahala yang berarti bahagia. Wallohu a’lamu bishshowwaab. (ary.attasiky)

Mengokohkan Keimanan

”Saya suka malas shalat isya dan shubuh.” kata salah seorang siswa SMK dalam suatu obrolan santai di sekolah. Kemudian Saya langsung bertanya kepadanya : “Kalau begitu, Bapak mau nanya. Kenapa anda Islam?”. Ia malah balik bertanya.”Kenapa Bapak malah menanyakan itu?” dengan wajah terlihat kebingungan. “Iya kalau Anda sudah menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang benar, maka pasti Anda akan punya solusi terkait masalah yang tadi disampaikan. Karena saat ini tidak sedikit, orang muslim yang mengandalkan Islamnya hanya karena kebetulan orang tuanya Islam. Sehingga jadilah Islam ‘kebetulan’. Karena itu seluruh aktifitas terkait keislamannya pun menjadi suatu ‘kebetulan’. Misalnya aktifitas shalat, kebetulan saja orang tuanya menyuruh dan menegurnya maka ia pun shalat. Kebetulan saja luang waktu maka ia pun shalat. Kebetulan di depan mertua maka ia pun shalat. Kebetulan temannya mengajak maka ia pun shalat. Bila semua kebetulan itu tidak terjadi maka ia kemungkinan besar tidak akan shalat. Bahkan tidak hanya itu, bisa jadi juga berkerudung karena kebetulan dipaksa sama orang tuanya, menutuo aurat hanya karena kebetulan aturan sekolah, atau berjilbab hanya karen kebetulan sedang ngetrend. Bahkan lebih naas lagi kalau dirunut ke pertanyaan awal. Orang yang seperti ini, bila orang tuanya non muslim, maka ia pun mungkin tidak menjadi seorang muslim. Karena Islamnya hanya kebetulan, jadilah ia ‘Islam Kebetulan’. Nah, sekarang kembali ke pertanyaan bapak tadi, kenapa Anda Islam?”. Lalu ia tampak kembali kebingungan, “Apa ya jawabannya, ya...mungkin karena orang tua Saya Islam.” katanya sambil melirik ke teman-temannya.
Pertanyaan seperti yang saya tanyakan tadi seolah-olah sesuatu yang tabu di masyarakat. Tatkala itu ditanyakan seolah-olah kita diajak untuk berpikir yang rumit. Bahkan kadang ada yang keliru memahami pertanyaan tersebut, seolah-olah hal itu adalah suatu pengagungan akal karena keimanan adalah hal yang tak perlu dipertanyakan lagi.


Membangun Keimanan Berlandaskan Akal
Imam Syafi’i rahimahullohu ta’ala dalam kitab Fiqhul Akbar menegaskan:
“Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma’rifat kepada Allah Ta’ala. Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu dalam kondisi orang yang berfikir tersebut dituntut untuk ma’rifat kepada Allah.  Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai kepada ma’rifat terhadap hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indra  dan ini merupakan suatu keharusan. Hal ini merupakan suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin.”
Oleh karena itu, menggunakan akal (berpikir) untuk mengokohkan keislaman, bukanlah suatu hal yang tabu. Dan pokok keimanan yang pertama bagi seorang muslim adalah keimanan kepada Allah SWT. Sehingga dari topik inilah kita bisa memulai menjawab pertanyaan, kenapa kita Islam? Yakni topik mengenai keimanan kita kepada Allah SWT sebagai Sang Pencipta.
Di dunia ini banyak sekali yang diyakini sebagai Sang Pencipta (Al Kholiq), sehingga tidaklah cukup bila berargumen bahwa keimanan kepada Allah SWT hanya karena ada ciptaannya. Karena jawaban ini masih menyisakan pertanyaan lanjutan. Yakni, kenapa Allah SWT dan bukan tuhan lain yang diimani oleh agama lain? Karena hanya Allah SWT yang memiliki sifat sebagai Al Kholiq.
Dalilnya adalah bila kita berpikir mengenai Pencipta manusia, alam semesta dan semua kehidupan. Maka hanya ada tiga kemungkinan, pertama Ia diciptakan lagi oleh yang lain, kedua Ia menciptakan diri-Nya sendiri, dan ketiga Ia bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir) dan wajibul wujud.
Kemungkinan pertama adalah kemungkinan yang bathil, karena bila Sang Pencipta (kholiq) masih diciptakan maka pada hakikatnya Ia bersifat terbatas dan Ia adalah makhluk, bukan Pencipta. Sehingga bila di dunia ini ada beberapa nama yang dianggap sebagai tuhan, tapi masih memiliki keterbatasan dan sifat makhluk, baik itu diciptakan lagi atau memiliki ketergantungan terhadap yang lain. Mereka pada hakikatnya bukanlah tuhan, tetapi makhuk yang dipertuhankan atau imajinasi para pemujanya. Begitupun dengan kemungkinan kedua, karena mustahil sifat kholiq dan makhluk menyatu dalam suatu dzat, dan kemungkinan ini sama bathilnya dengan kemungkinan pertama. Karena itu semua tuhan yang dipercayai oleh sebagian manusia tapi masih memiliki sifat makhluk dalam dirinya, pada hakikatnya ia bukanlah tuhan tapi makhuk yang dipertuhankan atau tokoh khayalan manusia.
Oleh karena itu, Pencipta (Kholiq) haruslah bersifat azali dan wajibul wujud, dan Dia adalah Allah SWT, bukan yang lain. Dan siapa saja yang mempunyai akal dengan benar, pasti akan mampu membuktikan bahwa di balik semua benda di dunia ini ada Penciptanya dan Dia adalah Allah SWT. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Q.S. Ali  Imran [3] : 191, yang artinya :
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah SWT sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan lanjut dan bumi (seraya berkata), “Ya Robb kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka dipeliharalah kami dari siksa neraka.”
Dengan demikian, dengan menjawab pondasi aqidah Islam yang pertama mulai terurailah pertanyaan kenapa kita Islam? Selanjutnya bagaimana supaya keimanan itu berbuah amal inilah yang kemudian perlu kita bahas lebih lanjut.

Makna Laa Ilaha Illalloh
Tatkala kita mengucapkan kalimat Laa Ilaha Illalloh tentunya langsung terbersit di benak kita maknanya, yakni tiada Tuhan selain Allah. Namun ternyata bila kita menelaah lebih lanjut. Pemaknaan Laa Ilaha Illalloh hanya dengan makna tersebut sebenarnya masih kurang tepat. Hal ini dikarenakan kaum musyrikin pada masa jahiliyyah juga ternyata mengakui Allah sebagai Tuhan. Sebagaimana yang diungkap dalam beberapa ayat Al Quran sebagai berikut :
“Dan sungguh, jika engkau (Muhammad) tanyakan kepada mereka, “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Tentu mereka akan menjawab, “Allah”. Katakanlah, “Segala puji bagi Allah,” Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (TQS. Luqman[31] : 25)
“Dan jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, “Allah”. Jadi bagaimana mereka dapat dipalingkan.” (TQS. Az-Zukhruf[43] : 87) 
“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab, “Allah”. Maka katakanlah,”Mengapa kamu tidak bertaqwa,” (TQS. Yunus[10] : 31)
Benar, mereka mengakui Allah sebagai Tuhan mereka, namun mereka tidak mau mengucapkan Laa Ilaha Illalloh karena memahami makna dan konsekuensi yang sesungguhnya. Yakni menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan dan memutlakkan ketaatan hanya kepadanya. Hal ini berarti mereka harus meninggalkan sesembahan (berhala-berhala) mereka, serta meninggalkan adat hukum jahiliyyah dengan ketaatan mutlak kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Q.S. Ash-shaffat[37] : 35-36, yang artinya :
“Sungguh dahulu, apabila dikatakan kepada mereka, “Laa Ilaha Illalloh”, mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?”
Jadi, kaum musyrikin arab memahami betul makna dan konsekuensi dari kalimah Laa Ilaha Illalloh sehingga mereka tidak mau mengucapkannya. Dan hal itu diakibatkan kesombongan mereka.
Oleh karena itu, kita yang setiap hari membasahi lidah kita dengan dzikir Laa Ilaha Illalloh, maka seyogyanya kita menelaah kembali maknanya lebih mendalam. Bukan berarti kita dituntut untuk syahadat lagi, tapi merenungkan kembali maknanya sehingga kalimah tersebut betul-betul memberikan pengaruh terhadap amal perbuatan kita.
Maknanya adalah bahwa kita harus menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya sesembahan dan secara pasti menolak seluruh aktifitas ibadah kepada selain Allah SWT. Kemudian selanjutnya konsekuensi dari pengakuan tersebut, tentunya adalah ketaatan mutlak kepadanya tanpa ada pengecualian.

Dengan demikian, setelah kita mengokohkan keimanan kita dengan dalil aqli dan memaknai lebih dalam makna kalimah Laa Ilaha Illalloh, maka tidak ada lagi bagi kita untuk ber-Islam dan mentaati Allah hanya karena kebetulan semata, tapi murni karena keimanan dan ketakwaan kita. Wallohu A’lam Bishshowwab. (ary.attasiky)