Kamis, 15 Februari 2018

Kehidupan Tanpa Amirul Mukminin dan Tanda Kebangkitan Islam

Sungguh keruntuhan Negara Khilafah Islamiyyah di tangan penjajah pada tahun 1924 merupakan sebuah luka yang sangat menyakitkan. Umat Islam sama sekali tidak menyangka hal itu bisa terjadi. Umat tidak bisa membayangkan kekuasaan Negara Khilafah yang sangat luas bisa berakhir hanya dalam satu hari. Umat sangat terguncang, sampai-sampai mereka meminta Sang pengkhianat dan konspirator Mustafa Kemal agar mau diangkat menjadi Khalifah. Umat sedemikian terguncang ketika mereka menyadari bahwa diri mereka tidak lagi memiliki seorang Khalifah.

Keruntuhan tersebut menandai akhir 1300 tahun perjalanan sejarah Negara Khilafah Islamiyyah yang dibangun oleh Rasulullah Saw di Madinah pada tahun 623 M melalui perjuangan yang agung dan –tentu saja- pertolongan Allah Swt. Peristiwa tersebut juga menandai akhir dari sebuah negara yang terkemuka di dunia, Negara Khilafah Islamiyyah yang membentang dari Spanyol hingga Indonesia, dari Timur Tengah hingga Asia Tengah. Sebuah negara terkemuka yang memimpin dunia dalam aspek ilmu pengetahuan, teknologi, obat-obatan, kedokteran, perdagangan, pemerintahan yang bertanggung jawab, keadilan, perdamaian dan dalam kesejahteraan.

Apa yang kemudian terjadi pada diri umat Islam pasca runtuhnya Negara Khilafah Islamiyyah? Yang terjadi kemudian adalah rangkaian sejarah yang diwarnai dengan kemunduran, keterpecahbelahan, penjajahan, kekalahan, penghinaan, kekacauan politik dan pertumpahan darah. Selain itu, sejarah tanpa Khilafah juga diwarnai dengan berdirinya negara yang menjadi kesayangan Barat, Israel, pada tahun 1948, yang menambah pedih penderitaan umat dari hari ke hari.

Pembantaian dan penahanan, penjajahan dan penaklukan, pelanggaran atas kehormatan umat menjadi ‘menu’ sehari-hari. Berikutnya, tanah Palestina menambah panjang daftar negeri-negeri Islam seperti Kashmir, Gujarat, Bosnia, Kosovo, Chechnya, Aljazair, Azerbaijan, Kaukasus, Grozny, Turkistan, Bukhara, Samarkand, Xinjiang, Somalia, Irak, Sudan, Afghanistan dan Pakistan, yang menjadi jajahan negara-negara imperialis seperti Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Rusia dan sebagainya. Disamping itu, atas nama kebebasan dan kemerdekaan, kesatuan umat Islam dicabik-cabik menjadi keping-keping negara satelit yang dikendalikan dari Washington, London dan Paris. Negara-negara pseudo-merdeka (merdeka semu) itu pun diperintah oleh penguasa-penguasa yang melayani kepentingan Barat.

Situasi dunia pada masa itu digambarkan oleh David Fromkin dan pakar sejarah ekonomi pada University of Chicaggo sebagai berikut : “Kekayaan Khilafah Utsmani yang sangat besar kini menjadi milik para pemenang. Tetapi orang harus ingat bahwa Khilafah Islamiyyah telah berusaha selama berabad-abad untuk menaklukkan Eropa Kristen; maka para pialang kekuasaan yang menentukan nasib pihak yang kalah itu serta memastikan agar negara-negara (bekas khilafah yang kalah) itu tidak akan pernah mampu mengorganisasi diri dan kembali mengancam kepentingan Barat. Dengan pengalaman sebagai Merkantilis (penganut perdagangan bebas) selama berabad-abad, Inggris dan Perancis menciptakan negara-negara yang kecil dan tidak stabil, dimana para penguasanya membutuhkan dukungan mereka agar mampu bertahan di tampuk kekuasaan. Pembangunan dan perdagangan di negara-negara tersebut dikendalikan agar tidak pernah menjadi ancaman baru bagi Barat. Kekuatan-kekuatan asing ini pun menjalin kontrak dengan (penguasa) boneka-boneka mereka agar bisa membeli sumber kekayaan Arab dengan harga sangat murah, yang menjadikan eit feodal kaya raya, sementara sebagian besar penduduk berada dalam kemiskinan.”

Tidak lama setelah keruntuhan Negara Khilafah Utsmani pada tahun 1924, seorang ulama faqih terkemuka, mujtahid mutlak, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani bersama Syaikh Abdul Qadim Zallum, Syaikh Ahmad ad-Daur dan yang lain (semoga Allah merahmati mereka) berusaha mengkristalisasikan ide-ide kebangkitan bagi umat Islam dan menyimpulkan bahwa, “Islam adalah sebuah peraturan hidup yang sempurna. Islam tidak dapat diterapkan secara sempurna tanpa keberadaan sebuah negara. Di samping itu, Islam tak lagi berperan dalam kancah politik internasional disebabkan karena penghancuran Negara Khilafah; dan satu-satunya cara untuk membebaskan kaum muslim adalah dengan menegakkan kembali Negara Khilafah Islamiyyah sesuai manhaj Rasulullah Saw.” Akhirnya, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mendirikan Hizbut Tahrir atau Partai Pembebasan pada tahun 1953 di al-Quds.

Setelah memulai proses kebangkitan umat Islam pada tahun 1953, Hizbut Tahrir mendapatkan gambaran tentang umat Islam, yang selama 30 tahun lebih mengalami kebrutalan kolonial, baik di Palestina maupun di bagian-bagian lain kawasan Timur Tengah saat itu. Di samping itu, Hizb juga mengamati bagaimana penguasa-penguasa yang didudukkan di tampuk kekuasaan oleh Inggris dan Perancis pasca Perjanjian Sykes-Picot tahun 1916 telah mencabik-cabik umat ini dan meninggalkan Palestina untuk menjadi santapan Inggris dan anak kesayangannya, Israel.

Namun demikian, hingga sesaat sebelum Perang Teluk I, kaum muslim secara umum tidak memahami secara jernih dan cemerlang tentang permusuhan Amerika Serikat dan Inggris terhadap Islam sebagaimana yang disampaikan Hizbut Tahrir, meski mereka dapat merasakannya. Banyak cendekiawan muslim dan para ulama di dunia Islam tidak dapat memahami sepenuhnya realitas pengkhianatan para penguasa muslim, dan tidak melihat Barat sebagai musuh yang tersembunyi maupun terbuka. Akan tetapi, setelah Perang Teluk I, baik permusuhan AS maupun pengkhianatan para penguasa terkuak jelas. Tidak hanya rezim penguasa kawasan Teluk yang kehilangan kredibilitas karena mengijinkan berdirinya pangkalan-pangkalan militer AS di Hijaz dan tempat-tempat lainnya, tetapi juga para ulama yang mengesahkan Perang Teluk. Bahkan sebelum Perang Teluk pecah, kaum muslim sudah mengisyaratkan kesiapan mereka untuk bersatu. Namun, Perang Teluk telah menjadikan umat Islam sangat merasakan adanya jurang perbedaan antara mereka dengan para penguasa.

Demikianlah, Perang Teluk I pada tahun 1990-an memberikan kontribusi yang sangat besar bagi umat Islam untuk memahami konteks yang disampaikan oleh Hizbut Tahrir tentang persatuan dan Khilafah. Getaran besar yang dirasakan oleh umat Islam dari Perang Teluk I, bersama dengan rahmat Allah Swt, telah mengangkat seruan penegakan Negara Khilafah di Semenanjung Arab hingga sampai ke umat Islam seluruh penjuru dunia. Hingga akhir tahun 1990-an, Hizbut Tahrir telah merambah ke seluruh benua dan menjadi sebuah gerakan trans-nasional yang sungguh-sungguh mendunia, yang menyerukan penegakan kembali Negara Khilafah Islamiyyah. Partai ini berhasil membawa generasi muda yang terpelajar dari umat ini ke dalam barisan “pengemban Islam’ dan “pejuang Khilafah”. Sungguh para pemuda Islam ini telah menunjukkan baktinya kepada diin mereka; sungguh mereka telah menerima risalah ini dengan benar!

Akan tetapi, Barat dan antek-antek mereka –khususnya di Timur Tengah dan Asia Tengah- sangat memahami bahwa kembalinya Negara Khilafah dan bersatunya kaum muslim niscaya akan mengakhiri hegemoni Barat di negeri-negeri muslim. Itu berarti bahwa mereka akan kehilangan jaminan atas penjarahan yang mereka lakukan terhadap sumber daya umat di Timur Tengah, Asia Tengah, Afrika, maupun di anak benua India. Tegaknya Negara Khilafah juga berarti jangkauan global mereka akan berkurang, dan tangan-tangan penjajahan mereka akan terpenggal. Tegaknya Negara Khilafah juga berarti bahwa pandangan hidup mereka, kapitalisme sekuler demokrasi, akan menemui ajalnya dan akhirnya akan dikubur karena kejahatan-kejahatan yang tak terbayangkan, yakni pada PD I dan PD II.

Oleh karena itu, mantan Sekretaris Jenderal NATO, Willy Claes pada akhir abad ke-20 pernah menyatakan secara terbuka, “Aliansi Barat telah menempatkan Islam sebagai sebuah target permusuhannya, menggantikan posisi Uni Soviet.”

Selain itu, mereka juga menjadikan usaha menghalang-halangi kembalinya Negara Khilafah Isslamiyyah sebagai “faktor kebijakan luar negeri” yang paling penting setelah keruntuhan komunisme pada tahun 1990-an.
Mengingat adanya ancaman luar negeri berupa penegakan kembali Negara Khilafah Islamiyyah, maka Barat memberikan instruksi kepada antek-anteknya untuk memulai penghancuran para pengemban Khilafah dengan mengeluarkan “Undang-undang Kontra Terorisme” dan menindas mereka. AS sudah menggelontorkan dana milyaran dollar untuk melatih para penguasa boneka di negeri-negeri muslim untuk mengembangkan kesiapan logistik mereka dalam melawan terorisme.

Dengan undang-undang anti terorisme dan serangan media  dan ‘serangan media terhadap Islam’, negara-negara penjajah dan antek-anteknya di negeri-negeri muslim berusaha merekayasa sentimen umat dalam menghadapi para penyeru Khilafah Islamiyyah. Demikianlah, kita menyaksikan media memberikan label kepada berbagai gerakan perlawanan di Irak dan Afghanistan sebagai “kaum militan”. Akan tetapi, mereka seringkali tidak menyadari bahwa jika aksi mempertahankan negeri sendiri disebut dengan istilah “militansi”, maka George Washington, Nathanael Greene, Horatio Gates, Benedict Arnold, Friedrich Wilhelm von Steuben dan para patriot lainnya merupakan orang-orang yang sangat militan. Di samping itu, mereka juga sering menggambarkan orang-orang yang memperjuangkan tegaknya Negara Khilafah Islamiyyah, menyerukan Syariat Islam, bahkan mereka yang menolak kekerasan untuk memperjuangkan Syariat Islam dan Khilafah –seperti Hizbut Tahrir- sebagai “kaum radikal dan ekstremis”.

Demikian pula, mereka memberikan label yang berbeda-beda atas kaum muslim, seperti label modernis, tradisionalis dan konservatif, sekuler, radikal atau ekstremis dan militan. Proyek-proyek dari RAND Corporation misalnya, menerbitkan sebuah laporan berjudul “Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies” di AS untuk melawan ancaman dari “Tumbuhnya Opini Khilafah dan Politik Islam.” Dengan upaya-upaya tersebut, para penjajah berusaha menjauhkan umat Islam dari kewajiban menegakkan Negara Khilafah.

Tentu saja, dalam seruannya itu, mereka berusaha membuat kaum muslim mau menerima pemikiran Islam yang sudah dipelintir. Hal ini dilakukan agar kaum muslim tidak akan merasa berkeberatan dengan kebijakan penjajah di negerinya; agar kaum muslim tidak berkeberatan atas penjajahan di Afghanistan dan Irak, maupun pembantaian di Palestina; agar kaum muslim tidak berkeberatan dengan penodaan dan pembakaran Al Quran; agar kaum muslim tidak berkeberatan dengan penghinaan atas kehormatan Rasulullah Saw. Dengan kata lain, mereka menyerukan Islam yang apolitis, Islam demokratik sekuler. Mereka menyerukan “tidak ada kewajiban jilbab dalam Islam”, tidak ada kepedulian terhadap umat Islam,  tidak ada kecintaan kepada Nabi Saw, tidak ada seruan Khilafah dalam Islam. Yang ada hanyalah shalat ala Islam, puasa ala Islam dan egoisme Islam. Sungguh semua itu bukan Islam yang sejati!

Namun demikian, upaya memodifikasi Islam agar sesuai dengan maksud jahat penjajah itu pun gagal, karena adanya al-khair (kebaikan) dalam diri umat Muhammad ini, serta besarnya antusiasme umat dan pengaruh seruan Khilafah di tengah umat. Begitu usaha ini gagal, maka terjadilah penodaan atas konsep kebebasan berbicara oleh Barat dan antek-anteknya; perjuangan Hizbut Tahrir pun dihalang-halangi dengan berbagai cara, termasuk penganiayaan, penangkapan massal, pembunuhan, pemerkosaan terhadap aktivis perempuan –bahkan atas anggota Hizb yang berusia 73 tahun, pelarangan aktivitas, dan pemberian label gerakan “yang berbahaya bagi tatanan masyarakat dan anti demokrasi” bagi Hizbut Tahrir.

Para penguasa boneka di negeri-negeri muslim memberi kontribusi yang sangat berarti dalam mewujudkan tujuan tersebut. Saat ini (2011), di Uzbekistan saja, terdapat lebih dari 10.000 anggota dan pendukung Hizbut Tahrir yang berusia 13-70 tahun dihukum penjara secara brutal dengan masa hukuman hingga 20 tahun. Para anggota muslimah –termasuk yang berusia 73 tahun- dinodai kehormatannya secara massal; ada pula sejumlah anggota yang dimasukkan ke dalam tong berisi air mendidih hingga mengalami penderitaan yang luar biasa. Suriah pernah membantai lebih dari 300 anggota Hizbut Tahrir hanya dalam waktu satu malam. Rezim Khadafi pernah menggantung sejumlah anggota Hizbut Tahrir di siang hari di depan umum. Saddam Husein membunuh ratusan anggota Hizbut Tahrir sepanjang tahun 1990-an; selama 10 tahun kekuasaannya Musharraf menganiaya dan memenjarakan ratusan anggota Hizbut Tahrir.

Demikianlah sebagian kebrutalan yang dilakukan para penguasa boneka di negeri-negeri muslim terhadap penyeru Khilafah atas instruksi majikan-majikan mereka, para penjajah kafir Barat. Sungguh, Hafiz al-Asad telah mati, Anwr Sadat telah mati, Saddam Husein telah mati, Pervez Musharraf pun telah tumbang, tetapi Hizbut Tahrir justru tumbuh semakin kuat, melangkah maju dengan penuh kesabaran, tak kenal menyerah, berkat pertolongan Allah dan dukungan umat Muhammad Saw. Setiap hari berlalu, Hizbut Tahrir bergerak satu langkah ke depan menuju cita-citanya.

Sementara, bagi para penguasa di dunia muslim, seperti Hasina, Zardari, “Yahudi” Karimov, Raja Husein, Husni Mubarak atau Khadafi*) yang terus bekerja sama majikan salibis Amerika-nya untuk menindas  dan menganiaya para penyeru Khilafah, maka waktulah yang akan menunjukkan nasib kalian di hadapan Allah Swt, sebagaimana Allah janjikan dalam Q.S. al-Buruj.

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka siksa Jahannam dan bagi mereka siksa (neraka) yang membakar.” (TQS. al-Buruj[85]: 10)

*) Sumber :  Negara Khilafah Islam Munculnya Kekuatan Global Baru (terj. Emerging World Order The Islamic Khilafah State) hal. 182-190. Ja’far Muhammad Abu Abdullah. 2011.
*) ditulis sebelum Khadafi tewas

Sabtu, 10 Februari 2018

Ketika Demokrasi Membungkam Aspirasi

Demokrasi telah diperdagangkan ke dunia Islam dengan berbagai polesan keindahan. Ia senantiasa diklaim sebagai antitesis kediktatoran. Ketika suatu negara tidak menganut demokrasi maka dipastikan ia akan dicap sebagai penguasa diktator. Karena dalam demokrasi, rakyat dipandang berperan sangat banyak dalam menentukan sebuah keputusan. Rakyat bisa melakukam kritik terhadap berbagai hal yang berdampak akan menyengsarakan mereka.
Ternyata kediktatoran terjadi bukan semata karena anti demokrasi. Pemerintahan demokrasi pun bisa melahirkan kediktatoran. Apalagi jika pemimpin negara tersebut memerintah secara otoriter/tirani dan menindas rakyatnya. Sejarah telah membuktikan adanya rentetan penguasa diktator yang terpilih secara demokratis.
Kediktatoran terjadi bukan karena tiadanya peran rakyat dalam menyampaikan aspirasinya, namun lebih karena terbelenggunya aspirasi tersebut. Keterbelengguan ini bisa saja terjadi karena ketergantungan rakyat terhadap rezim yang ada. Semisal ketika rezim yang 'kongkalikong' dengan para kapitalis telah mencengkeram negara. Sehingga berbagai opini serta akses sumber daya alam pun dikuasai olehnya.
Kondisi seperti ini bisa mengantarkan pada suatu kekuasaan mutlak yang membuat rakyat bisu untuk berpendapat. Atau bisa jadi, opini rakyat yang kritis dikecilkan atau bahkan dibungkam sedangkan opini versi penguasa dibesar-besarkan. Terlebih lagi apabila kekuasaan legislatif pun hanya berfungsi sebagai stempel berbagai keputusan eksekutif. Lengkaplah sudah kebisuan rakyat.
Berbeda dengan sistem demokrasi, Islam telah mengajarkan sebuah mekanisme kontrol sosial dan penyampaian aspirasi rakyat terhadap pemimpinnya. Selain itu, Islam pun memiliki standar acuan yang jelas dalam menilai apakah penguasa ini telah berlaku zalim ataukah tidak, yakni hukum syara. Bahkan ketika penguasa dipandang telah melakukan penyimpangan yang nyata terhadap syariah, rakyat berhak menurunkannya.
Ketika menjadi pemimpin di Madinah, Rasulullah Saw menjadikan beberapa shahabat sebagai penyampai aspirasi rakyat. Rasulullah sering bermusyawarah dengan mereka untuk menerima berbagai masukan dalam berbagai hal teknis dan pelayanan masyarakat. Rasulullah Saw pernah bermusyawarah untuk menentukan strategi perang Badar. Rasulullah lebih memilih masukan dari Hubab bin Mundzir r.a.  Begitu pula ketika menghadapi pasukan Ahzab. Yang pada akhirnya, Rasulullah Saw mengambil pendapat Salman Al Farisi untuk membuat Parit di luar kota Madinah.
Ketika diangkat menjadi Khalifah, Abu Bakar Ashiddiq r.a. berkata “Amma ba’du, wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian meski aku bukan yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, dukunglah saya. Sebaliknya jika aku berbuat salah, luruskanlah saya." Pernyataan ini menunjukkan bahwa beliau bersedia menerima kritikan, saran dan masukan serta diluruskan apabila melakukan kesalahan.
Pernah suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Al Khaththab r.a. hendak berpidato di hadapan rakyatnya. Sebelum beliau berbicara, berdirilah seseorang lalu berbicara lantang. "Wahai Amirul Mukminin, aku tidak akan mendengarkan ucapanmu sebelum engkau menjelaskan kepada kami tentang pakaian yang engkau kenakan!" Rupanya, orang tersebut memperhatikan jubah yang dipakai oleh Umar. Karena sebelumnya setiap kaum muslim pernah mendapatkan pembagian kain yang sama dari negara. Namun ukuran kain pembagian tersebut tidak mungkin mencukupi untuk dibuat sebuah jubah. Mengapa bagian Amirul Mukminin bisa menjadi sebuah jubah? Bisa jadi, Amirul mukminin melebihkan ukuran kain khusus untuk dirinya. Dan jika demikian, berarti Umar telah berlaku tidak adil terhadap rakyatnya.
Umar r.a. pun mendengarkan secara seksama permohonan rakyatnya. Kemudian beliau menjelaskan bahwa Abdullah bin Umar r.a. telah memberikan bagian kainnya kepadanya, sehingga beliau bisa membuat jubah dari dua bagian kain tersebut. Sang penanya pun memahaminya, lalu Amirul Mukminin pun melanjutkan pidatonya.
Umar pun pernah meralat keputusannya tentang mahar setelah diprotes oleh seorang muslimah. Umar berkata bahwa perempuan itu benar dan beliau salah.
Sistem kepemimpinan dalam Islam tidak mengenal periodisasi berkala. Artinya, selama pemimpin itu amanah menjalankan hukum Islam serta tidak melanggar syarat-syarat pokok pemimpin dalam Islam, ia tetap berhak atas kepemimpinannya. Namun Islam memiliki mekanisme supaya mencegah pemimpinnya menjadi diktator. Hal tersebut terjadi karena acuan kritikannya jelas, yakni hukum syariah.
Adapun yang acapkali terjadi dalam sistem demokrasi, kritik menjadi pedas hanya ketika berselisih kepentingan atau kepentingannya tak diakomodir saja. Ketika kepentingannya sudah diakomodir maka kritik pedas pun akhirnya menjadi 'keripik manis pedas' yang asyik dinikmati bersama-sama. Jadi, ketika demokrasi membungkam aspirasi bukankah saat yang tepat untuk kembali pada Islam?
=Ary H.=
(Pengelola FP Mudah Nulis)

Rabu, 31 Januari 2018

Menghentikan Gerhana


Segala pujian hanya untuk Allah Ta'ala; segala kebesaran hanya milik-Nya. Sang Pemilik langit dan bumi, yang semua makhluk tunduk pada kehendak-Nya. Jika Ia menghendaki sesuatu terjadi maka pasti akan terjadi, jika Ia mencegah sesuatu perkara maka perkara itu pun tak akan ada.

Gerhana bulan merupakan salah satu di antara sekian banyak sunnatullah. Selama bumi berrotasi dan bulan berrevolusi mengitarinya, gerhana pasti terjadi. Siang dan malam pun pasti datang bergantian. Meskipun dalam kurun yang berbeda-beda, tergantung di bagian bumi sebelah manakah kita berdiri.

Sunnatullah berada dalam wilayah yang menguasai manusia. Artinya, manusia sedikit pun tak punya peran untuk mengubahnya. Manusia dipaksa untuk menerima dan menyaksikan terjadinya gerhana. Ia tak bisa memilih, apakah gerhana itu boleh terjadi ataukah tidak. Bahkan hanya untuk menyaksikannya saja, ia pasrah pada cuaca. Jika cerah, ia bisa menyaksikannya. Adapun jika mendung menghalangi, ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Begitulah sunnatullah menimpa kehidupan manusia.

Memang harus kita akui bahwa area hidup itu terbagi dua, ada yang menguasai manusia dan ada pula yang dikuasai manusia. Sunnatullah merupakan area yang tidak dikuasai manusia. Begitu pula berbagai kejadian yang Allah telah mengijinkannya untuk terjadi, maka ia pun terjadi atas kehendak-Nya. Baik manusia memandang hal tersebut baik atau pun buruk, tugas manusia adalah qonaah terhadapnya. Karena hanya Allah-lah yang mengetahui hakikat kebaikan dan keburukan dari suatu kejadian.

Sebagaimana ketika Rasulullah menggambarkan bahwa sebaik-baiknya kurun adalah kurun beliau, kemudian kurun setelahnya dan setelahnya. Artinya ada degradasi kebaikan dari suatu kurun ke kurun berikutnya. Para shahabat r.a. tidak protes atasnya. Begitu pula ketika Rasulullah menyampaikan bahwa akan ada keburukan yang menimpa umat Islam, para shahabat beliau hanya bertanya, "Apa yang harus kita lakukan ketika itu?" Artinya, fokus para shahabat adalah pada amal dan bukan pada taqdir. Para shahabat fokus pada area yang ia kuasai dan bukan pada ketetapan Allah yang pasti terjadi.

Begitu pula ketika terjadi gerhana. Fokus kita bukanlah pada bagaimana kita mencegah terjadinya gerhana karena itu di luar area kuasa kita, namun fokus kita adalah bertakbir, istighfar, berdoa, bersedekah serta berbagai amalan shalih lainnya yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah Ta'ala. Sehebat apapun manusia dan teknologinya, ia tak akan pernah bisa menghentikan gerhana.

Demikian juga sunnatullah lainnya, semisal pergantian antara kebaikan dan keburukan di atas dunia. Atau pergantian antar tipe penguasa yang digambarkan dalam hadits Rasulullah, hingga ditutup dengan khilafah di atas manhaj kenabian, merupakan perkara yang tak bisa dicegah. Karena itulah, hendaknya fokus seorang mukmin tetaplah pada amal. Kondisi yang silih berganti antara keluangan dan kesempitan hanyalah ujian yang mesti ditapaki dalam hidup.

Tak terkecuali juga kemenangan yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang beriman dan beramal shalih, itu pun pasti terjadi. Sekuat apapun iblis dan para setan dari kalangan jin dan manusia menghalanginya, janji Allah pasti terjadi. Upaya mereka tiada lain bagaikan upaya menghentikan gerhana, pasti sia-sia. Wallahu al muwafiq ila sabili arrosyadi.

=Ary H.=
(Pengelola FP Mudah Nulis)

Minggu, 28 Januari 2018

Materi KulWA 6 : ”Kepekaan Pemikiran Modal Utama Penulis Opini”


Assalamu 'alaikum...masihkah ada yang terjaga?
InsyaAllah, kita malam ini akan mulai KulWA "Mudah Menulis Opini"
Karena sudah terlambat dr jadwal, langsung saja kita mulai dengan bismillah.
Semoga ilmu yang akan kita bagi dan praktekkan menjadi bermanfaat. Aamiin.

Karena judul kulwa di kelas ini adalah "Mudah Menulis Opini". Maka akan kita mulai dari yang mudah-mudah.

Sebelumnya, saya akan bertanya...
Seberapa mudah rekan-rekan membedakan rasa pahit dan manis? Atau membedakan benda tajam dan tumpul? Atau mendeteksi cairan oli dan air di lantai?
Jawabannya, tentu sangat mudah sekali...

Mengapa demikian? Karena alhamdulillah, kita dianugerahi oleh Allah Ta'ala berbagai indera yang bisa merasakan secara sempurna. Meskipun, terkadang ada bedanya. Antara orang biasa dan orang yang terlatih, semisal jagal kambing akan lebih terlatih dalam membedakan ketajaman sebuah pisau. Hal itu tak masalah. Yang penting, indera kita bisa membedakannya.

Saya menanyakan hal ini sebagai pembuka karena ada hubungannya dengan tulisan pendek saya tentang kepekaan pemikiran yang dishare di FB Mudah Nulis hari ini.

Di antara rekan-rekan, adakah yang sudah membacanya?
Kalau belum, baca dulu gih! He…he.. Nanti saja ding, sehabis KulWA ini.

Nah, "Kepekaan Pemikiran" (dalam istilah saya), merupakan modal utama kalau kita mau belajar menulis opini.

Sebagai penulis opini. Tentu saja, mesti menumbuhkan dulu rasa peka terhadap kondisi / fakta yang terjadi di tengah masyarakat. Kepekaan yang dimaksud bukanlah kepekaan fisik laksana rasa dan tekstur atau meraba dan mengecap. Tetapi kepekaan yang tumbuh karena sang penulis memiliki sebuah idealita pemikiran.

Tentunya, bagi seorang penulis opini muslim, idealita pemikiran itu mestilah tumbuh atau berpijak di atas aqidah Islam.

Ada yang selama ini merasa belum peka? Misalnya, tak tertarik komen apapun ketika ada kejadian / fakta.

Intinya, selama kita masih suka memberikan pandangan dan mengomentari fakta, sebenarnya kita sudah memiliki kepekaan.

Hanya saja, mengenai kepekaan itu terasah atau belum, hal itu merupakan perkara yang lain.
Oleh karena itu, sebagai seseorang yang berkeinginan untuk menjadi seorang penulis opini. Mulailah untuk menuangkan hasil dari deteksi "kepekaan pemikiran" kita itu dalam bentuk tulisan.
Kita mulai dari hal yang mudah. Cobalah dulu membuat tulisan tersebut dalam 3 paragrap.

Misalkan,
Paragrap 1 (Fakta):

Pesta LGBT dibubarkan aparat dan ormas Islam di Tasikmalaya

Paragrap 2 (Analisa):
Mengapa terjadi demikian?

Paragrap 3 (Solusi):
Bagaimana kondisi seharusnya menurut versi penulis

3 paragrap sudah menjadi opini pendek.

Ini hanyalah contoh saja. Maksud saya, untuk belajar beropini, mulailah dari 3 paragrap sederhana seperti demikian.

Fakta (yang disoroti, upayakan aktual), Analisa (pandangan penulis, mengapa terjadi demikian), Solusi (bagaimana seharusnya menurut penulis).

Ada pertanyaan?
Pertanyaan 1 : Sebelum penjelasan fakta itu apa hrs ada pengantar yg bisa menarik si pembaca. Nah kadang bingung diawalnya hrs gmna cikgu?
Jawaban 1 : Langsung saja ke fakta. Kalau perlu kutip, kutip saja kemudian sertakan sumbernya.

Pertanyaan 2 : Ust,  apakah analisa juga boleh dikutip?
Jawaban 2 : Boleh, selama kutipan itu dibahasaka dengan bahasa versi penulis. Jika pun dikutip apa adanya, jangan terlalu banyak.

Pertanyaan 3 : Berarti pertama lngsung fakta yg aktualnya sja ya cikgu? Nah misalkan ada 1tema yg di ambil namun dri bbrp fakta yg aktual. Itu hrs gmna?
Jawaban 3 : Awali dgn fakta yang lebih heboh

Bagi yang sama sekali merasa belum peka, bisa dilatih dengan sering mengomentari fakta, baik lisan ataupun tulisan.

Pertanyaan 4: Cikgu, di daerah sy kan dekat banget nih dengan perusahan LNG, tapi kami kesusahan dapetin gas.. Malah gasnya mahal. Nah kadang sy suka nulis ini..biar masyarakat bisa mikir .. Tpi suka bingung gimana mulainya..? Daerah Luwuk banggai, perusahannya di batui . Bahkan termasuk LNG terbesar di dunia..
Jawaban 4 : "Bagaikan ayam kelaparan di lumbung padi", peribahasa ini mungkin cocok untuk masyarakat......
Analisa, harus akurat. Apalagi tahu terbesar dari mana sumbernya? Pemerintah setempat biasanya bangga kalau ada LNG, pasti dipublish volume produksinya.

Dalam rangka membiasakan kepekaan pemikiran, yuk dicoba buat tulisan 3 paragrap yang terdiri dari :

Fakta:
(Soroti kejadian yang paling menarik di sekitar anda)

Analisa:
Mengapa terjadi demikian?

Solusi:
Bagaimana seharusnya menurut penulis.

Sudah itu saja. Coba dirutinkan 7 hari smp kulWA pekan depan ya? Minimal 1 hari 1 tulisan saja.
Nanti tugasnya diposting di FB (bagi yg tidak punya FB, WApri saja ke saya).

Di bawah tulisan kasih hastag
#PenulisBelaIslam
#KelasOpiniAMK

Pertanyaan 5 : Klo misal kita ada tulisan, boleh kah minta bantu kritik dan sarannya pak?
Jawaban 5 : Boleh bu, tp WApri atau via email.

Pertanyaan 6 : Cikgu ada contoh tulisannya? Biar ada gambaran dikit
Jawaban 6 : Saya buat contoh di sini ya...

======
Gabungan organisasi masyarakat (ormas) Islam melakukan aksi unjuk rasa di Kota Tasikmalaya pada Selasa, 23/1/2018. Mereka menolak LGBT (Kabar Priangan, 24/1/2018).

Sebagai kota Santri, LGBT di Tasikmalaya sangat membuat miris. Semua terjadi karena tidak ada penilaian yang tegas terhadapnya. Dinilai buruk tidak, dinilai baik pun tidak namun yang terjadi adalah pembiaran.

Supaya penilaian terhadap perilaku itu bisa jelas, kita harus punya pandangan yang khas tentang terpuji dan tercela sebuah perbuatan. Tentunya sebagai seorang muslim kita sudah memilikinya, hal itu tiada lain adalah pandangan halal dan haram. Jika dikembalikan kepada pandangan tersebut, insyaAllah perilaku semisal LGBT tidak akan berkembang.
======

Materi sudah, tugas sudah, contoh pun sudah. Tinggal istirahat ya...
Utk tugas, jangan lupa tag akun FB saya Aryh Menata Kata

Semoga ilmu yang kita bagi & praktekkan bermanfaat, khususnya untuk kaum muslim dan umumnya untuk negeri ini. Aamiin.

Mudah, mudah, mudah, bismillah...
Kita tutup dengan do'a penutup majelis...

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

*) Disampaikan oleh Ary H. dalam Kuliah WA di Grup Akademi Menulis Kreatif pada 28 Januari 2018

Jumat, 12 Januari 2018

Materi Kulwa 5 Mengembangkan Status Menjadi Tulisan



Kita tentu terbiasa membuat status di sosial media. Status-status pernah kita tulis, bisa pula kita kembangkan menjadi sebuah tulisan opini. Misalnya, ketika penyerangan pemerintah Myanmar terhadap muslim etnis Rohingya serta penyerangan Rusia dan rezim Assad terhadap Aleppo, saya menulis status FB (Facebook) berupa tulisan pendek sebagai berikut :

#Kehormatan Muslimah

Pada tahun ke-2 Hijriah. Seorang muslimah dijahili seorang Yahudi Bani Qainuqa. Pakaian muslimah tersebut dikaitkan pada sesuatu, hingga saat muslimah tersebut berjalan, tersingkaplah auratnya.

Gelak tawa pun terdengar dari orang-orang Yahudi yang berada di sekitarnya. Kejadian ini membangkitkan semangat seorang lelaki muslim untuk menjaga izzah umat Islam. Ia pun segera menghampiri dan membunuh pelaku penistaan tersebut. Hal tersebut bukannya membuat kaum Yahudi sadar, mereka malah mengeroyok dan membunuh lelaki muslim tersebut.

Kejadian tersebut sampai kepada Rasulullah Saw. Beliau langsung memerintahkan Hamzah bin Abdul Muthallib untuk melakukan pengepungan ke Bani Qainuqa. Selama 15 hari perkampungan Qainuqa dikepung hingga penduduknya menyerah.

Abdullah bin Ubay bin Salul mengiba belas kasih Rasulullah Saw untuk tidak menghukum Bani Qainuqa. Namun Rasulullah Saw tetap tegas. Beliau menetapkan untuk mengeksekusi Ka'ab bin Al 'Asyraf dan mengusir seluruh Bani Qainuqa. Dengan keputusan yang tegas tersebut, kemuliaan Islam dan kaum muslim terjaga.

Saat ini, bukan hanya satu orang. Ribuan muslimah menjerit dan menangis darah. Ibu-ibu, remaja hingga puteri-puteri kita di Palestina, Rohingya, Afghanistan, Suriah, Irak mencekam dalam ketakutan setiap harinya. Bukan hanya aurat mereka yang disingkap, namun kulit yang menempel pun terancam terkelupas.

Yang mengenaskan, di negeri-negeri Islam lainnya, singkapan aurat bukan lagi hinaan. Budaya kebebasan yang menjangkiti pemikiran, telah menjadikan singkapan aurat menjadi bagian dari gaya hidup. Kehormatan muslimah seolah hanya ternilai dari penampakan fisik semata. Kulit putih, hidung mancung, tinggi badan semampai dan bodi ramping seakan jadi ukuran paten kehormatan seorang muslimah.

Padahal dalam Islam, kehormatan muslimah tergambar dari kepribadiannya, yaitu dari pola pikir dan pola sikapnya. Selama pola pikir dan pola sikapnya distandarisasi dengan ketaqwaan, maka di sanalah jaminan kehormatan seorang muslimah. Wallohu a'lamu bishshowwaab.
(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)


Status tersebut kemudian saya kembangkan menjadi sebuah tulisan utuh sebagai berikut :

Kehormatan Muslimah

Pada tahun ke-2 Hijriah. Seorang muslimah dijahili seorang Yahudi Bani Qainuqa. Pakaian muslimah tersebut dikaitkan pada sesuatu, hingga saat muslimah tersebut berjalan, tersingkaplah auratnya.

Gelak tawa pun terdengar dari orang-orang Yahudi yang berada di sekitarnya. Kejadian ini membangkitkan semangat seorang lelaki muslim untuk menjaga izzah umat Islam. Ia pun segera menghampiri dan membunuh pelaku penistaan tersebut. Hal tersebut bukannya membuat kaum Yahudi sadar, mereka malah mengeroyok dan membunuh lelaki muslim tersebut.

Kejadian tersebut sampai kepada Rasulullah Saw. Beliau langsung memerintahkan Hamzah bin Abdul Muthallib untuk melakukan pengepungan ke Bani Qainuqa. Selama 15 hari perkampungan Qainuqa dikepung hingga penduduknya menyerah.

Abdullah bin Ubay bin Salul mengiba belas kasih Rasulullah Saw untuk tidak menghukum Bani Qainuqa. Namun Rasulullah Saw tetap tegas. Beliau menetapkan untuk mengeksekusi Ka'ab bin Al 'Asyraf dan mengusir seluruh Bani Qainuqa. Dengan keputusan yang tegas tersebut, kemuliaan Islam dan kaum muslim terjaga.

Saat ini, bukan hanya satu orang. Ribuan muslimah menjerit dan menangis darah. Ibu-ibu, remaja hingga puteri-puteri kita di Palestina, Rohingya, Afghanistan, Suriah, Irak mencekam dalam ketakutan setiap harinya. Bukan hanya aurat mereka yang disingkap, namun kulit yang menempel pun terancam terkelupas.

Yang mengenaskan, di negeri-negeri Islam lainnya, singkapan aurat bukan lagi hinaan. Budaya kebebasan yang menjangkiti pemikiran, telah menjadikan singkapan aurat menjadi bagian dari gaya hidup. Kehormatan muslimah seolah hanya ternilai dari penampakan fisik semata. Kulit putih, hidung mancung, tinggi badan semampai dan bodi ramping seakan jadi ukuran paten kehormatan seorang muslimah.

Padahal dalam Islam, kehormatan muslimah tergambar dari kepribadiannya, yaitu dari pola pikir dan pola sikapnya. Selama pola pikir dan pola sikapnya distandarisasi dengan ketaqwaan, maka di sanalah jaminan kehormatan seorang muslimah.

Allah Swt berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (TQS. Al Hujurat: 13)

Menurut Imam Al Qurthubi, dikisahkan dalam satu riwayat bahwasanya Rasulullah Saw bersabda kepada Tsabit bin Qais bin Syamas. Rasulullah Saw bersabda kepadanya : “Lihatlah ke wajah-wajah kaum yang ada!” Maka Tsabit pun melihatnya. Kemudian Rasulullah Saw bersabda. “Apa yang telah kamu lihat?” Tsabit menjawab, “Aku melihat ada yang berkulit putih, hitam dan merah.” Lalu Rasulullah Saw bersabda,” Sesungguhnya kamu tidak lebih utama dari mereka terkecuali dengan taqwa.” 

Warna kulit, keturunan dan penampilan fisik dalam Islam adalah sesuatu yang bersifat musayyar. Wilayah yang manusia tak bisa memilih sebelumnya, mau tidak mau manusia harus menerimanya. Oleh karena itu, Islam memandang –dan ini adalah keyakinan- bahwa semua itu tidak akan dipertanyakan oleh Allah Swt di akhirat kelak. Sehingga, bagaimanapun indahnya warna kulit, mulianya keturunan dan mulusnya penampilan atau tampilan fisik lainnya yang bukan dalam wilayah pilihan manusia. Semuanya bukanlah penanda kehormatan seorang muslimah.

Islam pun tak memilah-milah ketaqwaan manusia berdasarkan jenis kelaminnya. Lelaki maupun perempuan, selama beriman dan beramal shalih, maka Allah Swt menyediakan kebaikan untuknya di Akhirat kelak.

Inilah pandangan utama Islam terkait kehormatan seorang muslimah. Ketaqwaan menjadi modal utamanya. Sehingga tampilan luar tidaklah tepat jika ada orang yang beranggapan bahwa Islam tak memperhatikan kehormatan seorang muslimah. Bahkan sebaliknya, Islam menjaganya dan menempatkannya dalam kemuliaan derajat. Jauh lebih mulia daripada penempatan dan perlakuan kaum jahiliyyah terhadap kaum wanita sebelum Islam datang.

Tak hanya itu, Islam pun menjaga kehormatan seorang muslimah dari penistaan dan penodaan. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw merupakan contoh utamanya. Saking berharganya kehormatan seorang muslimah, seorang lelaki muslim sampai berani mengambil resiko hingga berkorban nyawa. Bahkan hal ini pun diperkuat oleh Rasulullah Saw yang bertindak tegas terhadap Ka’ab bin Al ‘Asyraf dan kaumnya.

Apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dilakukan pula oleh pemimpin umat Islam yang mengikutinya. Yang sangat heroik dan dikenang sejarah adalah apa yang dilakukan oleh Khalifah Al-Mu’tashim Billah Abu Ishaq (Muhammad Ar-Rasyid). Beliau dibai’at menjadi khalifah pada bulan Rajab 218 H dan wafat pada 19 Rabiul Awwal 227 H.

Pada tahun 223 H, seorang budak muslimah dilecehkan orang Romawi. Pakaiannya disangkutkan pada sebuah paku, sehingga tersingkaplah auratnya. Maka Al-Mu’tashim langsung memerangi negeri Romawi. Imam As-suyuthi mengisahkan bahwa peperangan ini mengakibatkan kerugian yang sangat besar di pihak tentara Romawi. Kerugian Romawi tersebut belum pernah terjadi sebelumnya dan belum pernah dilakukan oleh Khalifah manapun sebelumnya. Al-Mu’tashim telah berhasil menghancurleburkan barisan mereka dan merobohkan benteng pertahanannya, kemudian membebaskan Amuriyah. Pada penyerangan tersebut, 3000 orang tentara Romawi terbunuh dan sekitar 30.000 orang lainnya tertawan.

Begitulah pembelaan Rasulullah Saw dan pemimpin muslim yang mengikuti beliau. Demi membela kehormatan seorang muslimah yang tersingkap auratnya, armada perang pun dikirimkan. Jauh berbeda dengan kondisi saat ini, ribuan kaum muslimah dirusak kehormatannya bahkan dianiaya hingga meregang nyawa, belum ada seorang pun pemimpin yang tergerak untuk mengirimkan pasukan.


Sudahlah paradigma kebebasan yang sekuleristik telah merusak nilai kehormatan muslimah, saat mereka teraniaya pun tak ada pemimpin yang bisa melindunginya. Di negeri yang terlihat damai, tak ada penerapan  syariah yang menempatkan nilai kehormatan muslimah pada kemuliaan. Di negeri yang dijajah secara fisik, tak ada pula khalifah yang bisa menjaga kehormatan muslimah tersebut dari penistaan dan pembunuhan. Tanpa syariah dan khilafah, kehormatan muslimah terbukti telah terabaikan. Masihkah kita menunda penerapannya? Wallohu a'lamu bishshowwaab.

Minggu, 10 Desember 2017

Rangkuman Materi-4 Mudah Menulis Opini

[20:05, 12/10/2017] : Assalamu 'alaikum, mohon maaf atas keterlambatannya. Ada sedikit kendala teknis.
Mari kita buka KulWA Sessi-4 Mudah Menulis Opini ini dengan bacaan bismillah
Alhamdulillah, wassyukru 'ala ni'amillah, washsholatu wassalamu 'ala rosulillah, wa 'ala alihi wa ashhabihi wa man wallahu ila yaumil qiyamah.
Tema KulWA kali ini agak lain, mungkin rekan-rekan belum tentu mendapatkannya di kelas opini yang lain. Namun sebelum saya mulai, saya ingin bertanya dulu. Sdh brp banyak yang mempraktekkan 1) Mindmapping 2) 5W+1H, 3) Belajar secara ATM dan 4) TPE dengan EBI? minimal dalam 3 paragrap. Karena intinya tulisan opini itu cuma 3 bagian. Fakta, analisa, solusi. Jadi, kalau kita baru belajar menulis, 3 paragrap bisa menjadi awalan yang sangat baik. 1 paragrap tentang Fakta, 1 paragrap tentang analisa dan 1 paragrap tentang solusi.
Bagi yang ketinggalan materi, silahkan unduh materi sessi 1 s.d. 3 di www.aryherawan.blogspot.com atau www.berandapembelajar.blogspot.com.
Ya, kita lanjut ke materi. Materi ini saya anggap penting bagi para penulis muslim.
Menurut rekan-rekan, lebih penting mana antara menulis dan isi tulisan?
Jika isi tulisannya bagus, tetapi kata-kata yang tertuliskan kurang tepat maka hasilnya salah paham. Begitu juga jika kata-kata yang tertuliskan begitu indah, tetapi isi pikirannya sampah maka hasilnya paham yang salah. Oleh karena itu jika kita memilih berkomunikasi lewat tulisan, menulis dan isi tulisan sama pentingnya.
Akan tetapi jika ditimbang-timbang, isi tulisan pastinya berasal dari berbagai ide dan pemikiran yang diadopsi oleh penulisnya. Karena itulah, mengadopsi ide dan pemikiran yang benar itulah yang utama dilakukan sebelum menulis. Mengadopsi ide dan pemikiran yang benar itulah yang utama dilakukan sebelum menulis. Karena, 'pisau' analisis terhadap fakta yang dipakai oleh para penulis, pastilah berasal dari pemahamannya ketika memandang fakta tersebut.
teoritis bangets...
Biar ga teoritis, berikut contohnya...
Dengan fakta menyambut tahun baru 2018 yang akan kita hadapi, bisa dihasilkan banyak tulisan.
Bisa 1) kritikan, 2) dukungan atau pembiaran akan pesta malam tahun baru. Bisa pula 3) renungan, 4)candaan atau bahkan sekedar 5) curhat-curhatan. Bisa berupa 6) berita, 7) analisa ataupun hanya sekedar 8) cerita. Semua tergantung pada apa yang ada dalam isi kepala penulisnya.
Lalu, pemikiran benar seperti apakah yang mesti diadopsi oleh seorang penulis muslim?
Yang paling utama adalah pemikiran menyeluruh tentang manusia, alam semesta dan kehidupan serta hubungannya dengan sebelum kehidupan dan sesudah kehidupan. Pemikiran ini merupakan pemikiran yang paling mendasar. Inilah yang disebut dengan Aqidah. Ia berkutat pada tiga pertanyaan yang paling utama, yakni tentang dari manakah kehidupan ini berasal? untuk apakah hidup ini? Dan akan kemanakah manusia setelah kehidupan ini berakhir?
Saya rasa, ini hanya perasaan saya saja, insyaAllah rekan-rekan di grup ini sudah bisa memahami jawaban atas ketiga pertanyaan di atas.
Oleh karena itulah, insyaAllah rekan-rekan di sini punya modal banyak untuk menulis opini. (masalah dimuat tdk dimuat, insyaAllah di akhir sessi ini saya akan kasih link tulisan saya sebagai obat penawarnya.)
Jawaban atas ketiga pertanyaan ini akan membentuk keyakinan yang paling mendasar (Aqidah). Keyakinan mendasar inilah yang akan membentuk pandangan yang khas terhadap fakta atau kejadian. Pandangan khas inilah yang biasanya dituangkan menjadi tulisan. Alhasil, dari sudut pandang inilah isi tulisan menjadi lebih utama dibandingkan cara menulis.
Bukan berarti menulis menjadi tak penting. Namun menulis hanya membutuhkan pengulangan sedangkan isi tulisan membutuhkan pembenaran hati dan pembelajaran untuk dapat mengaitkan fakta dengan pemahaman yang tumbuh dari Aqidah.
Oleh karena itulah di awal sessi ini saya bertanya, siapa yang sudah membiasakan praktek? karena, menulis hanya membutuhkan pengulangan. Siapa yang pernah belajar mengemudikan motor? kalau saya waktu diajari, gigi satu harus kecepatan sekian, baru bisa naik gigi dua, baru bisa naik gigi tiga dan sebagainya. Kalau pelan tidak boleh gigi tinggi. Ketika sudah biasa mengemudikan motor, lupa semua teori-teori tersebut. 🙂 semua karena kita terbiasa. Terkadang, teori pun ditabrak.
Menulis membutuhkan pembiasaan mengolah kata. Isi tulisan membutuhkan keikhlashan, kejujuran hati dan pembiasaan pola pikir.
Sebagai para penulis muslim, tentu pola pikir Islami-lah yang mestinya tertuang dalam tulisan. Sehingga bisa menghasilkan tulisan yang tak hanya indah, tetapi lebih dari itu, mengantarkan manusia pada hidayah.
A. Mengenai Menulis
Sebelum saya belajar menulis opini, ada seorang rekan yang terbiasa menulis. Ketika saya belajar menulis pun, tulisan beliau masih lebih sering tayang daripada saya. Namun beliau kemudian lama vakum menulis, pas terakhir saya tanya mengenai menulis. Sekarang jangankan satu paragrap, satu kalimat pun susah saya tuangkan, kata beliau,
Untuk menghindari kekeliruan dalam menulis, kita hanya membutuhkan praktek pelajaran bahasa Indonesia waktu sekolah dasar dahulu. Ingat!  praktek pelajaran Bahasa Indonesia waktu SD
Beneran nih?
Iya bener!
Serius!
Apa itu? ada yang tahu?
Kita hanya membutuhkan praktik menyusun kalimat pola SPOK (Subjek Predikat Objek Keterangan) atau KSPO, itu saja. Karena pada dasarnya, pola kalimat bahasa Indonesia hanyalah itu. Jangan sampai Subjek terbaca sebagai Objek atau sebaliknya. Adapun terkait penggunaan kata predikat yang tepat, jika kita ragu menggunakannya tinggal kita cari saja maknanya di kbbi online. InsyaAllah, beres!
Namun yang perlu diingat, menganalisa kalimat dan ketepatan penggunaan kata ini dilakukan dalam proses editing, ingat, dalam proses editing. Bukan dalam proses menulis atau writing. Jadi, ketika belajar menulis, curahkan saja semua pandangan khas yang setiap kita pasti memilikinya. Setelah semua ide tercurahkan, barulah lakukan perbaikan dalam penulisannya. InsyaAllah tidak akan maju mundur, atau ketik hapus - ketik hapus.

B. Isi Tulisan
Selayaknya para penulis muslim tak perlu terlena hanya dengan ketakjuban orang atas keindahan kata-kata yang kita tuliskan. Untuk apa semua itu jika dengannya para pembaca tak tertunjuki pada kebaikan? Lebih baik isi tulisan yang mengantarkan pada kebaikan seraya dihiasi dengan kata-kata yang sederhana tapi mampu meyakinkan.
Oleh karena itu terkait menulis atau isi tulisan, para penulis muslim punya dua tugas utama. Tak hanya belajar menulis, tetapi belajar tentang isi tulisan yang akan dituangkan.
ah,,,teori lagi....
Untuk meyakinkan rekan-rekan bahwa isi tulisan adalah sesuatu yang penting. Saya kutipkan tulisan salah seorang penulis  handal di negeri ini. Dalam salah satu bukunya, dia bercerita tentang negara-negara maju seperti AS sering mengundang para penulis. Hingga 2014, AS mengundang para penulis dalam program International setiap tahunnya dengan seleksi yang sangat ketat.
Ketika ia diundang kemudian bertanya kepada panitianya, jawaban panitianya adalah "mengundang satu penulis lebih beruntung daripada sepuluh orang bukan penulis."
Mengapa demikian? karena "Untungnya, penulis akan mengembangkan apa yang ditangkap dan dialami ke dalam tulisan - sedangkan bukan penulis hanya menyimpannya di dalam angan sebagai wawasan, atau bahkan melupakannya." (Much. Khoiri, 2013)
Ingat bahwa,
"penulis akan mengembangkan apa yang ditangkap dan dialami ke dalam tulisan - sedangkan bukan penulis hanya menyimpannya di dalam angan sebagai wawasan, atau bahkan melupakannya."
Jadi, menurut rekan-rekan para penulis itu diundang terkait A. Menulis atau B. Isi Tulisan?
Program AS ini bukanlah sekedar tentang menulis, tetap tentang isi tulisan. Bagaimana supaya berbagai ide dan pemikiran yang diadopsi AS bisa menular kepada para penulis. Negara kapitalis penjajah seperti AS saja peduli terhadap isi tulisan, sungguh sangat naif jika kita tidak memedulikannya.
Jadi, saatnya para penulis muslim untuk peduli terhadap isi tulisan. Tuliskanlah yang baik atau lebih baik diam. Tuliskanlah kebaikan meski hanya dalam beberapa kalimat. Saatnya para penulis muslim untuk "Berani nulis, berani dakwah."
Wallahu al-musta'an.

[21:19, 12/10/2017]: Ada pertanyaan?  terlalu serius ya materinya? Mohon maaf jika agak agitatif dan provokatif...
[21:26, 12/10/2017]: Bagaimana bisa memastikan kalau analisa kita thd fakta yg diuraikan bisa tepat atau tajam?
[21:27, 12/10/2017]: Semakin berbobot bacaan seorang penulis, insyaAllah akan semakin tajam analisanya. Biasanya yang pintar analisa di lisan, akan mudah analisa di tulisan. Ini hanya pembiasaan saja.
[21:26, 12/10/2017]: Klo terkait rms 5w+1H. SPOK gmn?manfaatin wkt.
[21:29, 12/10/2017]: Penggunaan 5W + 1 H untuk memudahkan kerangka tulisan, ada di materi sebelumnya bu (Materi 1) ... Ini sebetulnya hanya untuk membantu saja supa terbiasa terkerangka (tidak baku).
[21:30, 12/10/2017]: Sepertinya perlu ada materi menganalisis fakta nya agar analisisnya bisa setajam silet...
[21:30, 12/10/2017]: Analisis ini subjektifnya penulis. InsyaAllah masing-masing sudah ada bekalnya.
[21:33, 12/10/2017]: bagaimana caranya agar kita bisa mengenali tulisan itu hoax atau tidak?
[21:35, 12/10/2017]: Hoax itu sering berlebihan. Ambil dari media yang umum saja. Kalau data, ambil dari instansi resmi atau hasil penelitian.
Menghindari Hoax, cek en ricek. Coba copy paste apa yang diberitakan ke google. Kalau linknya cuma mengarah ke 1, kemungkinan besar hoax. Kan nenek moyang kita sudah terbiasa mengecek berita. Makanya dalam ushul hadits itu sampai ada tingkatan2 khabar...
[21:40, 12/10/2017]: Berarti bagi penulis opini pemula butuh waktu lama utk buat satu tulisan saja ya?
[21:42, 12/10/2017]: Untuk pemula, iya. Saya ketika belajar pertama kali, TPE saja tidak hanya sehari dua hari. Saya pandangi tulisan itu hampir tiap hari selama seminggu, sebelum dikirim ke media. Itu juga masih ada yang ditolak.
[21:45, 12/10/2017]: Terakhir, saya ingin memberi obat penawar bagi rekan-rekan yang sudah berusaha mengirim tulisannya ke media cetak & online, tetapi belum dipilih untuk tayang.
Ini obat penawarnya, meski hanya sebuah link tulisan. Saya berharap semoga dapat bermanfaat http://aryherawan.blogspot.co.id/2015/12/penolakan-batu-asahan-seorang-penulis.html
[21:47, 12/10/2017]: Akhir kata, saya mengucapkan jazakumullohu khoiron kepada rekan-rekan penulis muslim, khususnya kepada master Apu Indragiry yang telah memberikan saya kesempatan untuk berbagi sedikit pengalaman dan pengetahuan.
Mohon maaf atas salah dan khilaf. Kebenaran hanya datang dari Allah SWT Yang Maha Benar, sedangkan kesalahan adalah murni kekhilafan saya sebagai insan.
Mari kita tutup dengan hamdalah dan do'a penutup majlis. Wassalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh.
=Ary H.=
(disampaikan dalam KulWA Kelas Opini di Akademi Menulis Kreatif, 10 Desember 2017)

Rabu, 06 Desember 2017

Hebatnya Pengaruh Pemahaman

Menonton rekaman #ILC bertema “212: Perlukah Reuni?” Via Youtube, masyaAllah ada rasa kagum dan bangga yang tak bisa saya sembunyikan. Bukan tentang kepada siapa rasa kagum itu saya tujukan, namun takjub akan ke Maha Kuasa-an Allah Swt. Ketika Allah Swt berkehendak untuk menolong agama-Nya, sungguh sangat mudah bagi Allah Swt.

Tak bisa saya bayangkan seandainya Allah Swt tidak melapangkan dada dan melancarkan lisan para asatidz di malam itu. Terlebih lagi ketika saya menyaksikan seseorang yang setadinya kafir dan agnostic kemudian menjadi muallaf dan pendakwah. Beliau bisa sangat fasih lisannya dan teguh sikapnya dalam membela Islam. Adakah yang bisa membolak-balikkan hati seseorang selain Allah Swt?

Menyaksikan Ust. Felix Y. Siauw, teringat akan kisah para shahabat Rasulullah Saw. Ada Umar bin Al Khaththab, Khalid bin Walid, Said bin Amir, Umair bin Wahab, Hindun, Usaid bin Hudhair serta beberapa shahabat lainnya, radliyallohu ‘anhum. Mereka pada awalnya merupakan orang-orang yang sangat tidak suka terhadap Islam. Bahkan ketika masih kafir, jangankan harta nyawa pun berani mereka taruhkan untuk menghadang Islam. Namun Allah Swt berkehendak lain, hidayah Islam sampai ke hadapan mereka ketika mereka masih hidup, mereka pun mengambil hidayah Islam  itu saat nyawa masih dikandung badan, lalu menapaki hidayah Allah Swt secara istiqomah hingga akhir kehidupannya.

Sebuah pemahaman akan mengubah perilaku dan ucap seseorang. Apalagi jika itu adalah pemahaman asasi mengenai kehidupan yang akan menjadi pondasi keimanan. Bagaimana marahnya seorang Umar terhadap Rasulullah Saw, bagaimana kalapnya Umar terhadap adiknya yang malah mengikuti ajaran orang yang sangat ia benci, namun marah dan kalap itu hilang seketika setelah hidayah sampai kepadanya dan ia pun menyambutnya dengan penuh kesadaran.

Begitu pula permusuhan yang dilakukan oleh shahabat lainnya yang setadinya para penentang Islam. Semuanya sikap dan ucapannya berubah setelah mereka beriman. Di sinilah hebatnya pengaruh sebuah pemahaman dalam diri seseorang.

Pemahaman terhadap sebuah pemikiran tak datang begitu saja laksana kita terkena basah air hujan. Begitulah yang terjadi pada manusia pada umumnya. Sebuah pemikiran harus dimengerti oleh akal dan diyakini dalam hati untuk menjadi sebuah pemahaman yang berpengaruh. Sebelum diyakini, sebuah pemikiran yang bersifat informasi semata.

Untuk meyakini kebenaran sebuah pemikiran, ada kalanya membutuhkan waktu yang lama seperti kisah masuk Islamnya Hindun, hal itu terjadi setelah sekitar 20 tahun ia memusuhi Rasulullah Saw. Namun ada kalanya singkat sebagaimana masuk Islamnya George bin Todzir dalam perang Yarmuk.

George bin Todzir adalah panglima Byzantium yang memimpin pasukan Roma. Ketika itu, ia berperang menghadapi umat Islam yang dipimpin oleh Khalid bin Walid radhiallahu anhu. Sebelum pecah pertempuran, terjadi kejadian yang menarik. George berdialog dengan Khalid hingga ia memeluk Islam dan berpindah posisi menjadi pasukan kaum muslimin.

Dalam perang itu George menderita luka parah dan menemui syahidnya di medan Yarmuk. Setelah berislam, ia hanya satu kali melakukan shalat, dan sujud dalam dua rakaat. Kemudian ia gugur di medan jihad.

Demikianlah hebatnya pengaruh sebuah pemahaman terhadap diri seseorang. Allah Swt Maha Membolak-balikkan hati, semoga kita diberkahi keistiqomahan dalam pemahaman Islam. Aamiiin.

#AryH
#MudahNulis

Senin, 04 Desember 2017

Rangkuman Materi-3 Mudah Menulis Opini

Assalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh...

Bagi yang baru gabung, perkenalkan saya Ary H. siswa #1 AMK, pengelola FP Mudah Nulis. Saya diamanahi oleh master Apu Indragiry untuk berbagai mengenai "Mudah Menulis Opini"
Mari kita buka dengan "bismillah dan do'a"

Alhamdulillah, KulWA ke 1 dan ke 2 Mudah Menulis Opini sudah berjalan 2 pekan yang lalu. Rangkuman materinya bisa diakses di www.berandapembelajar.blogspot.com dan www.aryherawan.blogspot.com. Saya penuh harap, rekan-rekan sudah rutin menjalankan latihan-latihannya.

InsyaAllah, malam ini saya akan berbagi mengenai EBI Bukanlah Monster

Sebelum materi mulai, saya ingin bertanya kepada rekan-rekan.

Manakah judul yang enak dibaca, A. Rumitnya Pengelolaan Haji atau B. Pengelolaan Haji yang Rumit atau C. Kerumitan Pengelolaan Haji?

Bukan karena jawabannya mayoritas, namun kalau saya cenderung enak membacanya jika tertulis Rumitnya Pengelolaan Haji. Karena itulah, tadi siang saya membaca sebuah tulisan opini di media ternama, tertulis judulnya Rumitnya Pengelolaan Haji.

Padahal, kalau berdasarkan ejaan yang baik. Kalimat Rumitnya Pengelolaan Haji merupakan kalimat yang ejaannya tidak baik. Karena kata ganti milik -nya entah kembali kemana? 

Begitulah tulisan, seringkali ejaan menjadi tidak begitu penting. Inilah yang dikenal dengan gaya bahasa populer yang seringkali lebih mementingkan kenyamanan orang yang membaca dibandingkan dengan ejaan. Terutama untuk bentuk tulisan Opini.

Sekali lagi, kenyamanan pembaca seringkali lebih diutamakan dibandingkan ejaan yang baik dan benar. Oleh karena itulah, saya ingin berbagi dengan rekan-rekan tentang EBI Bukanlah Monster.

Tidak sedikit dari kita yang berhasrat besar mau menulis, tapi takut ejaannya salah. Takut penulisan titik dan komanya tidak tepat. Khawatir penempatan Subjek Predikat, Objek dan Keterangannya acak-acakan. Akhirnya, satu kalimat pun tidak tertuang. Betul ga?

Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) yang sebelumnya kita kenal dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), kerap kali menjadi momok bagi para calon penulis. Bahkan, seringkali menghambat ide menjadi tak jadi tertulis. Terus saja tulis hapus, hapus tulis dan terkesanlah bahwa menulis itu sulit. Padahal hanya ejaan yang menjadi monsternya.

Menulis menjadi terkesan sulit, hanya karena ejaan. Bahkan, saaangaaat sulit. Menurut rekan-rekan, penting ga ejaan itu?

Ejaan memang penting. Namun selayaknya ia ditempatkan pada porsinya. Karena pada dasarnya, belajar menulis itu belajar mencurahkan ide. Jika ide menjadi terhambat gara-gara ejaan. Berarti kita harus menyingkirkan dulu masalah ejaan.

Sampai kapankah kita menyingkirkannya?

Tentu bukan untuk selamanya, tapi sampai semua ide kita keluar dan tertuliskan. Anggaplah ketika kita menulis itu, kita sedang berbicara dengan buku, netbook atau android kita. Sampai tulisan mulai berkembang dan mulai menyadari gaya menulis sesuai pribadi masing-masing, atau lebih baik lagi seolah dengan masyarakat yang ada di hadapan kita atau dengan pembaca yang kita tuju.

Di manakah kita menempatkan aturan EBI? Tempatkanlah ia dalam proses editing. Dalam menulis opini, kita mesti melakukan aktifitas TPE, yakni Tulis - Pendam - Edit

Tulis semaksimal yang kita bisa. Curahkan semua pandangan kita terhadap fakta yang kita soroti. Kemudian pendam semalaman. Esok harinya barulah kita baca kemudian edit kembali. Pengalaman saya ketika pertama kali menulis opini. TPE itu saya lakukan beberapa kali. Bahkan pernah juga melibatkan orang lain ketika tulisan itu kita pendam.

Pada proses edit inilah kita membutuhkan EBI. Namun itu juga tidak mutlak, karena dalam beberapa hal seringkali mengutamakan kenyamanan pembaca. EBI diperlukan supaya orang tak salah memahami kalimat per kalimat tulisan kita. Aiiiih, teoritis banget ya. Bikin ngantuk...  Contohnya saja ya...

Misalnya ketika kita sudah menulis. Kemudian sudah kita pendam, ketika mau edit kita baca kembali. Ternyata ada kalimat seperti ini "Buni Yani upload video penghina Al Quran diamankan." Kalimat seperti ini kan rancu. Tentu perlu kita rapihkan sesuai ejaan yang baik dan benar.

Jadi, EBI disusun untuk memudahkan kita untuk berkomunikasi, terutama dalam ragam bahasa tulisan. Bukan malahan sebaliknya, menghambat kita untuk menulis atau mencurahkan gagasan dan pandangan.

Menulislah sampai selesai. Selanjutnya kita pelajari EBI yang baik dan benar sembari proses editing. Sehingga tak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak menulis. Siap ya?
Sebagai tambahan, EBI terbaru bisa diunduh secara gratis di link berikut:

http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/sites/default/files/PUEBI.pdf

Ada pertanyaan? kalau tak ada, kita langsung praktek.

Kita ambil kejadian yang disaksikan dan ramai dibahas oleh beberapa media belakangan ini.
Kita fokus ke Reuni 212. Mohon tuliskan sebebasnya tentang pertanyaan berikut. 1) What (apa)-kah yang kita ketahui tentang Reuni 212?   2) When (kapan)-kah kegiatannya?    3) Where (di mana)-kah lokasi kegiatannya?   4) Who (siapa)-kah yang terlibat di dalamnya?     5) Why (mengapa) sampai terjadi  Reuni 212? dan 6) How (bagaimana)-kah pandangan rekan-rekan tentangnya? Silahkan dimulai.

Jawabannya bukan di sini ya. Di kertas atau file. Nanti photokan kertasnya atau layarnya. Jangan lupa sertakan nama di bawah jawabannya.

Setelah tugas pertama selesai, saya kasih tugas lanjutan. Tugas lanjutannya adalah sebagai berikut :
Silahkan kembangkan jawaban rekan-rekan dengan . 1) untuk pertanyaan 1 s.d. 5 lebih fokus ke fakta dan data, maka silahkan buka media cetak dan online terkait 212 yang bisa menguatkan dan memperjelas jawaban rekan-rekan. Kemudian, khusus poin jawaban no. 6) Karena ini adalah pandangan pribadi yang bersifat opini, maka silahkan membuka buku atau tulisan orang lain, baik di koran ataupun majalah, yang bisa memperkuat pandangan pribadi anda. Lalu tambahkan dalam tulisan.

InsyaAllah, minimal 1 lembar A4 sudah di tangan.

Sudah lewat waktunya. InsyaAllah kita ketemu pekan depan ya...

Nanti kalau sudah selesai dikembangkan. Pendam semalam. Edit esok harinya. Kemudian publikasikan di FB. Ketik di bawahnya #KelasOpiniAMK Tandai Akademi Menulis, Apu Indragiry dan Aryh Menata Kata.

Mohon maaf atas salah dan khilaf, kita tutup dengan alhamdulillah dan do'a penutup majlis. Jazakumullohu khoiron master Apu Indragiry. Wassalamu 'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh.

=Ary H.=

Catt :
Alhamdulillah esok harinya, beberapa rekan pun memosting tugas-tugasnya.