حدثنا عبد الرحمن بن إبراهيم الدمشقي حدثنا بشر بن بكر حدثنا ابن جابر حدثني أبو عبد السلام عن ثوبان قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها فقال قائل ومن قلة نحن يومئذ قال بل أنتم يومئذ كثير ولكنكم غثاء كغثاء السيل ولينزعن الله من صدور عدوكم المهابة منكم وليقذفن الله في قلوبكم الوهن فقال قائل يا رسول الله وما الوهن قال حب الدنيا وكراهية الموت
Dari Abdurrahman bin Ibrahim
ad-Dimasyqi, dari Basyr bin Bakr, dari Ibnu Jabir dari Abu Abdussalaam, dari
Sauban ia berkata: Rasullullah Saw bersabda: "Umat-umat bergerombol
mengerubuti kalian sebagaimana orang lapar mengerubuti hidangannya."
Seseorang bertanya : "Apakah karena sedikitnya kami pada saat
itu?" Rasulullah Saw menjawab: "Bahkan jumlah kalian pada saat
itu banyak. Akan tetapi kalian berbuih laksana buih yang terhempas. Sungguh
Allah akan mencabut rasa takut musuh kalian terhadap kalian dan sungguh Allah
akan menanamkan di dalam hati kalian al-wahn." Seseorang bertanya : "Wahai
Rasulullah, apakah al-wahn itu?" Beliau menjawab: "cinta dunia
dan takut mati". (THR. Abu Dawud)
Begitulah kondisi umat Islam
kini. Dikerubuti dari berbagai arah. Orang-orang kafir dan sesat bersatu dengan
berbagai peran yang berbeda. Sebagian orang kafir berperan kasar, sebagian lain
berperan lembut. Ada yang berperan kasar dan menghina, ada yang menipu dan
melenakan dengan harta. Ada negara kafir penjajah yang menggerogoti sumber daya
alam, ada yang seolah membantu dengan jebakan utang dan investasi. Semuanya
satu tujuan, mengerubuti umat Islam. Mereka laksana kaum kelaparan yang berebut
sajian, dan di sajian mereka ada badan kita, negeri kita, sumber daya alam
kita, juga anak dan keturunan kita.
Umat Islam Palestina, setiap hari
berhadapan dengan agresi Israel. Umat Islam Suriah setiap hari menghadapi
kekejaman Assad dan koalisi Barat pimpinan AS. Saudara kita di Irak dan
Afghanistan pun mengalami nasib serupa. Jangankan makan enak dan tidur nyenyak,
untuk bisa bertahan hidup sampai esok pagi pun belum tentu. Setelah serangan
militer membabi buta, sumber daya alam mereka pun dikuasai atas nama bimbingan
dan investasi.
Umat Islam di negeri yang
terkesan aman sentosa pun tak berbeda, tenaga dan keringat mereka diperas untuk
hanya membayar upeti bunga utang. Sedangkan harta dan negeri mereka dari hari
ke hari makin banyak yang berpindah kepemilikan. BUMN dijual, hutan
dieksploitasi, berbagai tambang dikuasai, hingga ke potensi kelautan serta air
tanah pun semua dikangkangi. Anak-anak negeri Islam mulai menjerit. Jangankan
membebaskan negeri yang terjajah, sekedar menjaga kesucian Al Quran pun seolah
tak berdaya.
Di tengah tangisan yang belum mengering,
kabar duka datang dari saudara Rohingya. Dalam kehidupan yang tidak layak dan
tak manusiawi. Mereka diburu laksana binatang-binatang liar. Perempuannya
diperkosa, lelaki dan anak-anak dibunuh secara biadab. Pemukiman yang seadanya
pun dibakar.
Saudara muslim Myanmar ketakutan
dan mencari perlindungan. Mereka menembus hutan, menyebrangi sungai-sungai,
lalu berdayung sampan. Melambaikan tangan meminta pertolongan saudaranya. Namun
seperti biasa, para penguasa muslim yang punya jutaan pasukan hanya bisa
terdiam. Hanya bisa membantu dengan makanan dan pakaian, tak bisa membebaskan.
Laksana binatang yang teraniaya
dalam kerangkeng kezaliman penguasa Myanmar. Kemudian di kerangkeng itu
ditulisi peringatan, “Dilarang keras memberikan makanan tanpa seijin
pengelola.” Kita menyaksikan kezaliman yang menimpa, tetapi hanya bisa memberi
saudara kita makanan. Bantuan itu pun bisa diberikan jika Sang Tuan
mengijinkannya. Mereka saudara kita, status stateless-lah yang membuat
mereka diperlakukan lebih hina dari beruang kutub, lumba-lumba serta hewan
langka lainnya.
Sungguh mengenaskan nasib umat
Islam. Di saat-saat seperti ini, sungguh tak ada lagi rasa ketakutan
musuh-musuh Islam. Bukan hanya negara besar seperti AS yang berani kurang ajar
terhadap umat Islam. Bahkan negara kecil seperti Myanmar saja menjadi sangat
biadab. Bukan hanya di saat muslim minoritas seperti di Eropa, di negara
mayoritas pun mereka menjadi sangat jumawa. Toleransi diperalat menjadi
pendangkalan aqidah. Racun sinkretisme dan pluralisme disuntikkan ke
benak-benak generasi muslim sedari dini. Seolah tak ada lagi kebanggaan akan
kebenaran Islam, karena semua agama dianggap sama. Seolah tak ada lagi
kesakralan ibadah, karena semua menuju tuhan yang sama. Jikalau sudah begini,
proses pemurtadan akan semakin melenggang.
Tak puas dengan cara-cara
tersebut, kaum kafir penjajah pun menjalankan arahan Snouck Sang orientalis
Belanda. Proyek sekulerisasi dijalankan. Umat Islam dibiarkan tekun beribadah
dan mengkaji setiap tata cara ritualnya, namun harus dijauhkan dari
hukum-hukum-hukum tentang pengaturan kemasyarakatan. Sistem politik Islam,
sistem pemerintahan Islam, sistem sosial pergaulan Islam, sistem pembuktiaan
serta pidana Islam, semuanya menjadi asing di benak umat Islam. Bahkan
membicarakannya menjadi tabu dan menakutkan. Fanatik, radikal, teroris dan
fundamentalis merupakan beberapa cap yang diberikan tatkala umat Islam
menyuarakannya. Ekonomi Islam dicatut sebagian urusan mikronya, bukan secara
sistemik dan keseluruhan. Label syariah seolah hanya alat para pemilik modal
agar dapat menyedot dana dari masyarakat muslim.
Beginilah umat Islam di akhir
jaman. Buih yang terhempas ke pinggiran pantai. Namun yang lebih menyakitkan,
adalah apa yang dijelaskan oleh Rasulullah Saw itu menyata. Di antara umat
Islam ada yang sangat mencintai dunia. Mereka rela menjadi jongos-jongos kafir
penjajah, rela menjual saudaranya, bangsanya, negerinya serta anak keturunannya
hanya demi rupiah. Mereka menjual agamanya hanya demi setitik kenikmatan dunia
dari segelintir manusia. Padahal, nikmat Allah Swt seluas samudera.
Penyakit al-Wahn yang
mendera tak hanya membuat manusia cinta dunia. Tetapi juga sangat gentar
kehilangan harta, jabatan hingga nyawa mereka. Al-Wahn menyebar tak
hanya di kalangan awam, bahkan para cendekiawan, ilmuwan hingga sekelas ‘ulama’
pun terjangkitinya. Jika sudah terjangkiti, berakhirnya dunia seolah merupakan
akhir dari segala kenikmatan.
Alih-alih melawan penjajahan asing
dan aseng, setiap cengkeraman para penjajah malah semakin dipermudah. Berbagai peraturan
perundang-undangan dan kebijakan malah dibuat supaya lebih berpihak kepada asing
dan aseng. Alih-alih menjaga kemurnian aqidah umat, malah ikut serta menyuburkan
paham sinkretisme, pluralisme dan liberalisme.
Kafir penjajah serta musuh Islam
disambut gembira dan hangat. Karpet merah digelar, berbagai pujian terucap ringan
dan para pengikut pun dikumpulkan. Laksana serigala berbulu domba, kaum kafir
didandani laksana kyai dan ulama, lalu mereka dipeluk dan dicium tangannya. Na’udzubillahi
min dzalik. Jikalau sudah sedemikian, visi akhirat yang sering
dikumandangkan hanyalah tinggal jargon yang melenakan. Bagaikan dongeng pengantar
tidur, yang membius rakyat supaya hidup tenang dalam kungkungan penjajahan.
Di tengah jeritan hati umat yang
masih ada iman di dalam dirinya, kita tak boleh berhenti berharap. Semoga Allah
Swt menghadirkan kembali para ulama, da'i dan aktifis Islam yang mukhlish, serta
mencabut dari penyakit al-wahn dari umat Islam. Seraya kita pun terus berupaya
menghadirkan Islam kembali dalam seluruh kehidupan. Tugas para da’i adalah meningkatkan
kembali pemikiran umat dengan pemikiran Islam –aqidah dan syariahnya-, tersebab
al-wahn yang menjangkiti umat terjadi karena kemerosotan berpikir umat.
Sekulerisme yang ditanamkan Barat pasca keruntuhan daulah Khilafah telah
menenggelamkan umat ke palung kegelapan yang dalam. Wallohu a’lamu
bishshowwaab.
(Ary H. – Islamic Writer & Blogger)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar