Rabu, 07 Desember 2016

Mengapa Umat Islam Laksana Buih?


حدثنا عبد الرحمن بن إبراهيم الدمشقي حدثنا بشر بن بكر حدثنا ابن جابر حدثني أبو عبد السلام عن ثوبان قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم يوشك الأمم أن تداعى عليكم كما تداعى الأكلة إلى قصعتها فقال قائل ومن قلة نحن يومئذ قال بل أنتم يومئذ كثير ولكنكم غثاء كغثاء السيل ولينزعن الله من صدور عدوكم المهابة منكم وليقذفن الله في قلوبكم الوهن فقال قائل يا رسول الله وما الوهن قال حب الدنيا وكراهية الموت
Dari Abdurrahman bin Ibrahim ad-Dimasyqi, dari Basyr bin Bakr, dari Ibnu Jabir dari Abu Abdussalaam, dari Sauban ia berkata: Rasullullah Saw bersabda: "Umat-umat bergerombol mengerubuti kalian sebagaimana orang lapar mengerubuti hidangannya." Seseorang bertanya : "Apakah karena sedikitnya kami pada saat itu?" Rasulullah Saw menjawab: "Bahkan jumlah kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian berbuih laksana buih yang terhempas. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut musuh kalian terhadap kalian dan sungguh Allah akan menanamkan di dalam hati kalian al-wahn." Seseorang bertanya : "Wahai Rasulullah, apakah al-wahn itu?" Beliau menjawab: "cinta dunia dan takut mati". (THR. Abu Dawud)
Begitulah kondisi umat Islam kini. Dikerubuti dari berbagai arah. Orang-orang kafir dan sesat bersatu dengan berbagai peran yang berbeda. Sebagian orang kafir berperan kasar, sebagian lain berperan lembut. Ada yang berperan kasar dan menghina, ada yang menipu dan melenakan dengan harta. Ada negara kafir penjajah yang menggerogoti sumber daya alam, ada yang seolah membantu dengan jebakan utang dan investasi. Semuanya satu tujuan, mengerubuti umat Islam. Mereka laksana kaum kelaparan yang berebut sajian, dan di sajian mereka ada badan kita, negeri kita, sumber daya alam kita, juga anak dan keturunan kita.
Umat Islam Palestina, setiap hari berhadapan dengan agresi Israel. Umat Islam Suriah setiap hari menghadapi kekejaman Assad dan koalisi Barat pimpinan AS. Saudara kita di Irak dan Afghanistan pun mengalami nasib serupa. Jangankan makan enak dan tidur nyenyak, untuk bisa bertahan hidup sampai esok pagi pun belum tentu. Setelah serangan militer membabi buta, sumber daya alam mereka pun dikuasai atas nama bimbingan dan investasi.
Umat Islam di negeri yang terkesan aman sentosa pun tak berbeda, tenaga dan keringat mereka diperas untuk hanya membayar upeti bunga utang. Sedangkan harta dan negeri mereka dari hari ke hari makin banyak yang berpindah kepemilikan. BUMN dijual, hutan dieksploitasi, berbagai tambang dikuasai, hingga ke potensi kelautan serta air tanah pun semua dikangkangi. Anak-anak negeri Islam mulai menjerit. Jangankan membebaskan negeri yang terjajah, sekedar menjaga kesucian Al Quran pun seolah tak berdaya.
Di tengah tangisan yang belum mengering, kabar duka datang dari saudara Rohingya. Dalam kehidupan yang tidak layak dan tak manusiawi. Mereka diburu laksana binatang-binatang liar. Perempuannya diperkosa, lelaki dan anak-anak dibunuh secara biadab. Pemukiman yang seadanya pun dibakar.
Saudara muslim Myanmar ketakutan dan mencari perlindungan. Mereka menembus hutan, menyebrangi sungai-sungai, lalu berdayung sampan. Melambaikan tangan meminta pertolongan saudaranya. Namun seperti biasa, para penguasa muslim yang punya jutaan pasukan hanya bisa terdiam. Hanya bisa membantu dengan makanan dan pakaian, tak bisa membebaskan.
Laksana binatang yang teraniaya dalam kerangkeng kezaliman penguasa Myanmar. Kemudian di kerangkeng itu ditulisi peringatan, “Dilarang keras memberikan makanan tanpa seijin pengelola.” Kita menyaksikan kezaliman yang menimpa, tetapi hanya bisa memberi saudara kita makanan. Bantuan itu pun bisa diberikan jika Sang Tuan mengijinkannya. Mereka saudara kita, status stateless-lah yang membuat mereka diperlakukan lebih hina dari beruang kutub, lumba-lumba serta hewan langka lainnya.  
Sungguh mengenaskan nasib umat Islam. Di saat-saat seperti ini, sungguh tak ada lagi rasa ketakutan musuh-musuh Islam. Bukan hanya negara besar seperti AS yang berani kurang ajar terhadap umat Islam. Bahkan negara kecil seperti Myanmar saja menjadi sangat biadab. Bukan hanya di saat muslim minoritas seperti di Eropa, di negara mayoritas pun mereka menjadi sangat jumawa. Toleransi diperalat menjadi pendangkalan aqidah. Racun sinkretisme dan pluralisme disuntikkan ke benak-benak generasi muslim sedari dini. Seolah tak ada lagi kebanggaan akan kebenaran Islam, karena semua agama dianggap sama. Seolah tak ada lagi kesakralan ibadah, karena semua menuju tuhan yang sama. Jikalau sudah begini, proses pemurtadan akan semakin melenggang.
Tak puas dengan cara-cara tersebut, kaum kafir penjajah pun menjalankan arahan Snouck Sang orientalis Belanda. Proyek sekulerisasi dijalankan. Umat Islam dibiarkan tekun beribadah dan mengkaji setiap tata cara ritualnya, namun harus dijauhkan dari hukum-hukum-hukum tentang pengaturan kemasyarakatan. Sistem politik Islam, sistem pemerintahan Islam, sistem sosial pergaulan Islam, sistem pembuktiaan serta pidana Islam, semuanya menjadi asing di benak umat Islam. Bahkan membicarakannya menjadi tabu dan menakutkan. Fanatik, radikal, teroris dan fundamentalis merupakan beberapa cap yang diberikan tatkala umat Islam menyuarakannya. Ekonomi Islam dicatut sebagian urusan mikronya, bukan secara sistemik dan keseluruhan. Label syariah seolah hanya alat para pemilik modal agar dapat menyedot dana dari masyarakat muslim.  
Beginilah umat Islam di akhir jaman. Buih yang terhempas ke pinggiran pantai. Namun yang lebih menyakitkan, adalah apa yang dijelaskan oleh Rasulullah Saw itu menyata. Di antara umat Islam ada yang sangat mencintai dunia. Mereka rela menjadi jongos-jongos kafir penjajah, rela menjual saudaranya, bangsanya, negerinya serta anak keturunannya hanya demi rupiah. Mereka menjual agamanya hanya demi setitik kenikmatan dunia dari segelintir manusia. Padahal, nikmat Allah Swt seluas samudera.
Penyakit al-Wahn yang mendera tak hanya membuat manusia cinta dunia. Tetapi juga sangat gentar kehilangan harta, jabatan hingga nyawa mereka. Al-Wahn menyebar tak hanya di kalangan awam, bahkan para cendekiawan, ilmuwan hingga sekelas ‘ulama’ pun terjangkitinya. Jika sudah terjangkiti, berakhirnya dunia seolah merupakan akhir dari segala kenikmatan.
Alih-alih melawan penjajahan asing dan aseng, setiap cengkeraman para penjajah malah semakin dipermudah. Berbagai peraturan perundang-undangan dan kebijakan malah dibuat supaya lebih berpihak kepada asing dan aseng. Alih-alih menjaga kemurnian aqidah umat, malah ikut serta menyuburkan paham sinkretisme, pluralisme dan liberalisme.
Kafir penjajah serta musuh Islam disambut gembira dan hangat. Karpet merah digelar, berbagai pujian terucap ringan dan para pengikut pun dikumpulkan. Laksana serigala berbulu domba, kaum kafir didandani laksana kyai dan ulama, lalu mereka dipeluk dan dicium tangannya. Na’udzubillahi min dzalik. Jikalau sudah sedemikian, visi akhirat yang sering dikumandangkan hanyalah tinggal jargon yang melenakan. Bagaikan dongeng pengantar tidur, yang membius rakyat supaya hidup tenang dalam kungkungan penjajahan.
Di tengah jeritan hati umat yang masih ada iman di dalam dirinya, kita tak boleh berhenti berharap. Semoga Allah Swt menghadirkan kembali para ulama, da'i dan aktifis Islam yang mukhlish, serta mencabut dari penyakit al-wahn dari umat Islam. Seraya kita pun terus berupaya menghadirkan Islam kembali dalam seluruh kehidupan. Tugas para da’i adalah meningkatkan kembali pemikiran umat dengan pemikiran Islam –aqidah dan syariahnya-, tersebab al-wahn yang menjangkiti umat terjadi karena kemerosotan berpikir umat. Sekulerisme yang ditanamkan Barat pasca keruntuhan daulah Khilafah telah menenggelamkan umat ke palung kegelapan yang dalam. Wallohu a’lamu bishshowwaab.

(Ary H. – Islamic Writer & Blogger) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar