Kamis, 12 Maret 2015

Syukron Pak Haedar ! (Suatu Komentar Inspiratif atas Tulisan Haedar Nashir di SM)

Syukron Pak Haedar !
(Suatu Komentar Inspiratif atas Tulisan Haedar Nashir)
Oleh : Ary Herawan, ST.*)

“Setelah era keemasan peradaban Islam kemudian redup dengan kejatuhan Baghdad tahun 1928 Masehi. Kendati sempat bangkit lagi pada masa dinasti Utsmani di Turki, Safawi di Parsia, dan Mughal di India; setelah itu kejayaan Islam mengalami kemunduran, bahkan kejatuhan pada tahun 1924 dengan kejatuhan Turki. Ketika peradaban Islam surut, sejak itu kebudayaan Barat terbit dari wilayah Eropa kemudian Amerika, yang melahirkan peradaban modern hingga kini. Sejarah juga mencatat, bahwa kelahiran peradaban modern Barat ini pun dimulai dari proses pencerahan (renaissance, auflarûng), yang kemudian melahirkan modernisme. Sejak itu Barat lalu tampil dengan dominasi kemajuan yang spektakuler dalam pemikiran, ilmu pengetahuan dan teknologi, di samping ekspansi politik dan penjajahan ke hampir seluruh penjuru dunia termasuk dunia Islam. Sedangkan dunia Islam yang dulu jaya dan ikut memberi inspirasi bagi pencerahan Barat berada dalam kondisi yang marjinal dan sebagian bahkan terhegemoni dalam cengkeraman politik Barat itu.
(Dr. H. Haedar Nashir, M.Si. Membangun Tradisi Intelektual Muslim. Suara Muhammadiyah No.20 Th. ke-98, 16-31 Oktober 2013)

Mencermati satu paragrap penggalan tulisan pak Haedar, pertama saya mengucapkan “Syukron Pak Haedar!” Kemudian yang selanjutnya saya tertarik untuk mencermati tulisan ini dalam beberapa hal. Tentu bukan pada kurang tepatnya penulisan tahun kejatuhan Baghdad, yang tertulis pada tahun 1928, yang seharusnya tertulis tahun 1258, karena saya menduga kuat itu adalah kesalahan pengetikan biasa.
Lebih dari itu, paragrap tulisan Pak Haedar ini merupakan kesimpulan dari pengamatan beliau atas fakta historis kejayaan Islam. kemunduran Islam sampai kejatuhannya. Selain itu juga, merupakan kesimpulan singkat atas fakta kebangkitan Barat, kemajuannya sampai penjajahan dan hegemoninya ke seluruh negeri Islam, baik yang dilakukan Eropa maupun Amerika. Inilah beberapa kalimat yang saya garis bawahi dari penggalan tulisan beliau.
Kalimat pertama adalah kalimat “setelah itu kejayaan Islam mengalami kemunduran, bahkan kejatuhan pada tahun 1924 dengan kejatuhan Turki.” Mengapa saya tertarik untuk mencermati kalimat ini. Karena ini adalah pukulan telak untuk para pejuang nasionalis, bila selama ini kaum nasionalis menyangka bahwa tahun 1924 itu adalah tahun kebangkitan Turki, namun beliau menegaskan bahwa tahun 1924 adalah tahun kejatuhan.
Kemudian selanjutnya yang menarik dari kalimat ini adalah, “bahkan kejatuhan pada tahun 1924 dengan kejatuhan Turki.” Ada satu kata yang tertinggal dari kalimat ini, yaitu sebuah kata setelah kata “bahkan kejatuhan”. Kejatuhan apa yang dimaksud oleh beliau? Apabila saya diijinkan untuk melengkapi tulisan tersebut, maka saya akan melengkapi tulisan itu dengan kata “Khilafah”. Yaitu, institusi kepemimpinan global umat Islam sedunia. Mengapa? hal ini karena pada tahun tersebutlah diruntuhkannya institusi Khilafah oleh para pejuang nasionalis turki yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha. Selain itu, walaupun beliau ‘malu-malu’ untuk menyebutkan kejatuhan apa yang dimaksud, namun di akhir kalimat menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kata “kejatuhan” itu indikasinya adalah “dengan kejatuhan Turki”. Lalu apa yang jatuh pada tahun 1924 di Turki kalau bukan dinasti Turki Utsmani yang realitanya adalah institusi Khilafah?
Kalimat kedua adalah “kelahiran peradaban modern Barat ini pun dimulai dari proses pencerahan (renaissance, auflarûng), yang kemudian melahirkan modernisme.” Kalimat kedua juga merupakan fakta yang tak terbantahkan, dimana memang Barat tampil memukau setelah renaissance. Pencerahan apa yang kemudian terjadi di Barat? Pencerahan yang terjadi di Barat adalah sekulerisme, yang merupakan bentuk perlawanan ideologis atas kekuasaan gereja. Dimana kekuasaan gereja telah memaksakan kebenaran hanya berdasarkan injil dan sabda-sabda pendetanya, termasuk dalam hal sains dan teknologi. Kekuasaan gereja ini bersifat mutlak. Sehingga sains dan teknologi dimusuhi, bahkan penemuan baru pun harus ditebus dengan nyawa apabila dianggap bertentangan dengan doktrin gereja, sebagaimana yang dialami oleh Copernicus dengan heliosentrisnya. Masa gelap kekuasaan gereja ini telah menjadikan Barat trauma agama hingga saat ini, mereka membentuk sebuah pandangan hidup bahwa seluruh pengaturan kehidupan harus dipisahkan dari agama, atau yang dikenal dengan sekulerisme. Di atas pandangan hidup inilah kemudian Barat berpijak membangun peradabannya sampai melahirkan modernisme. 
Adapun Kalimat ketiga adalah “ekspansi politik dan penjajahan ke hampir seluruh penjuru dunia termasuk dunia Islam.” Inilah karakter sebuah ideologi (pandangan hidup), yakni mempertahankan diri dan menyebar. Penjajahan dan hegemoni Barat di seluruh dunia Islam saat ini adalah fakta, mimpi bila ada orang yang menyangkal hal tersebut, atau bisa dikatakan ia hidup di dunia khayalan. Namun, mengapa penjajahan itu terjadi di dunia Islam? Hal ini memang karena tidak ada perlawanan seimbang. Bila Barat tampil dengan kekuatan negara Ideologis, yakni Eropa dan Amerika. Sedangkan umat Islam masih belum siuman dari kejatuhannya. Atau bisa dikatakan masih kucek-kucek mata. Bahkan parahnya, ada yang bersifat reaktif dengan kemilau peradaban Barat. Ia malah berasyik masyuk menikmati hegemoni dan cengkeraman Barat dengan mengikuti apapun yang diperintahkan Sang penjajah.
Oleh karena itu, kita tidak boleh menjadi terus menerus menjadi objek penjajahan Barat. Kita harus tampil menjadi generasi Ulul Albab, dimana Pak Haedar mendefinisikannya sebagai “sosok cendekiawan atau intelektual Muslim yang di dalam dirinya terintegrasi kekuatan iman, ilmu dan amal yang bersifat profetik sekaligus transformasional untuk tampil sebagai pembawa misi Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin di zaman modern abad ke-21 ini.”
Dengan demikian, kebangkitan tidak bisa diraih tanpa kebangkitan taraf berpikir. Yakni kebangkitan yang dilandasi dari keimanan yang produktif, yakni keimanan yang berbuah pada ilmu dan amal. Sehingga para agen kebangkitannya pun hanya membawa misi Islam, bukan membebek membawa misi-misi Barat yang justru semakin menancapkan penjajahan mereka.
Kemudian bila Barat bangkit dengan renaissance yang berbuah pemisahan seluruh kehidupan dunia dari agama, maka tidak layak bila kaum muslimin ikut-ikutan memisahkan dunia dari agamanya, karena ini berarti ia telah mendisintegrasikan iman, ilmu dan amal. Sehingga bila Barat bangkit dengan meninggalkan agamanya, justru umat Islam bangkit dengan memegang teguh agamanya.
Akhir kata, kaum muslimin pendahulu kita telah sukses bangkit memimpin dunia selama 1300 tahun lamanya, mengapa kita tidak mencontohnya?  Yakni, dengan membangkitkan kembali ideologi Islam dan menghidupkan kembali kekuatan realnya dalam bentuk negara khilafah Islamiyyah. Wallohu a’lam bishshowwab. (27/10/2013)

*) Penulis adalah Alumni SMU Muhammadiyah I Kota Tasikmalaya angkatan 1998 dan aktifis HTI Tasikmalaya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar