Syukron Pak
Haedar !
(Suatu
Komentar Inspiratif atas Tulisan Haedar Nashir)
Oleh : Ary Herawan, ST.*)
“Setelah era
keemasan peradaban Islam kemudian redup dengan kejatuhan Baghdad tahun 1928
Masehi. Kendati sempat bangkit lagi pada masa dinasti Utsmani di Turki, Safawi
di Parsia, dan Mughal di India; setelah itu kejayaan Islam mengalami
kemunduran, bahkan kejatuhan pada tahun 1924 dengan kejatuhan Turki. Ketika
peradaban Islam surut, sejak itu kebudayaan Barat terbit dari wilayah Eropa
kemudian Amerika, yang melahirkan peradaban modern hingga kini. Sejarah juga
mencatat, bahwa kelahiran peradaban modern Barat ini pun dimulai dari proses
pencerahan (renaissance, auflarûng), yang kemudian melahirkan modernisme.
Sejak itu Barat lalu tampil dengan dominasi kemajuan yang spektakuler dalam
pemikiran, ilmu pengetahuan dan teknologi, di samping ekspansi politik dan
penjajahan ke hampir seluruh penjuru dunia termasuk dunia Islam. Sedangkan
dunia Islam yang dulu jaya dan ikut memberi inspirasi bagi pencerahan Barat
berada dalam kondisi yang marjinal dan sebagian bahkan terhegemoni dalam
cengkeraman politik Barat itu.
(Dr. H. Haedar Nashir,
M.Si. Membangun Tradisi Intelektual Muslim. Suara Muhammadiyah No.20 Th. ke-98,
16-31 Oktober 2013)
Mencermati
satu paragrap penggalan tulisan pak Haedar, pertama saya mengucapkan “Syukron
Pak Haedar!” Kemudian yang selanjutnya saya tertarik untuk mencermati tulisan
ini dalam beberapa hal. Tentu bukan pada kurang tepatnya penulisan tahun
kejatuhan Baghdad, yang tertulis pada tahun 1928, yang seharusnya tertulis
tahun 1258, karena saya menduga kuat itu adalah kesalahan pengetikan biasa.
Lebih
dari itu, paragrap tulisan Pak Haedar ini merupakan kesimpulan dari pengamatan beliau
atas fakta historis kejayaan Islam. kemunduran Islam sampai kejatuhannya.
Selain itu juga, merupakan kesimpulan singkat atas fakta kebangkitan Barat,
kemajuannya sampai penjajahan dan hegemoninya ke seluruh negeri Islam, baik
yang dilakukan Eropa maupun Amerika. Inilah beberapa kalimat yang saya garis
bawahi dari penggalan tulisan beliau.
Kalimat pertama adalah kalimat “setelah itu kejayaan Islam mengalami
kemunduran, bahkan kejatuhan pada tahun 1924 dengan kejatuhan Turki.”
Mengapa saya tertarik untuk mencermati kalimat ini. Karena ini adalah pukulan
telak untuk para pejuang nasionalis, bila selama ini kaum nasionalis menyangka
bahwa tahun 1924 itu adalah tahun kebangkitan Turki, namun beliau menegaskan
bahwa tahun 1924 adalah tahun kejatuhan.
Kemudian
selanjutnya yang menarik dari kalimat ini adalah, “bahkan kejatuhan pada
tahun 1924 dengan kejatuhan Turki.” Ada satu kata yang tertinggal dari
kalimat ini, yaitu sebuah kata setelah kata “bahkan kejatuhan”. Kejatuhan apa
yang dimaksud oleh beliau? Apabila saya diijinkan untuk melengkapi tulisan
tersebut, maka saya akan melengkapi tulisan itu dengan kata “Khilafah”. Yaitu,
institusi kepemimpinan global umat Islam sedunia. Mengapa? hal ini karena pada
tahun tersebutlah diruntuhkannya institusi Khilafah oleh para pejuang
nasionalis turki yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha. Selain itu, walaupun
beliau ‘malu-malu’ untuk menyebutkan kejatuhan apa yang dimaksud, namun di
akhir kalimat menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kata “kejatuhan” itu
indikasinya adalah “dengan kejatuhan Turki”. Lalu apa yang jatuh
pada tahun 1924 di Turki kalau bukan dinasti Turki Utsmani yang realitanya
adalah institusi Khilafah?
Kalimat kedua adalah “kelahiran peradaban modern Barat ini pun dimulai
dari proses pencerahan (renaissance, auflarûng), yang kemudian melahirkan
modernisme.” Kalimat kedua juga merupakan fakta yang tak terbantahkan,
dimana memang Barat tampil memukau setelah renaissance. Pencerahan apa
yang kemudian terjadi di Barat? Pencerahan yang terjadi di Barat adalah
sekulerisme, yang merupakan bentuk perlawanan ideologis atas kekuasaan gereja.
Dimana kekuasaan gereja telah memaksakan kebenaran hanya berdasarkan injil dan
sabda-sabda pendetanya, termasuk dalam hal sains dan teknologi. Kekuasaan
gereja ini bersifat mutlak. Sehingga sains dan teknologi dimusuhi, bahkan penemuan
baru pun harus ditebus dengan nyawa apabila dianggap bertentangan dengan
doktrin gereja, sebagaimana yang dialami oleh Copernicus dengan
heliosentrisnya. Masa gelap kekuasaan gereja ini telah menjadikan Barat trauma
agama hingga saat ini, mereka membentuk sebuah pandangan hidup bahwa seluruh
pengaturan kehidupan harus dipisahkan dari agama, atau yang dikenal dengan
sekulerisme. Di atas pandangan hidup inilah kemudian Barat berpijak membangun
peradabannya sampai melahirkan modernisme.
Adapun Kalimat
ketiga adalah “ekspansi politik dan penjajahan ke hampir seluruh
penjuru dunia termasuk dunia Islam.” Inilah karakter sebuah ideologi
(pandangan hidup), yakni mempertahankan diri dan menyebar. Penjajahan dan
hegemoni Barat di seluruh dunia Islam saat ini adalah fakta, mimpi bila ada
orang yang menyangkal hal tersebut, atau bisa dikatakan ia hidup di dunia
khayalan. Namun, mengapa penjajahan itu terjadi di dunia Islam? Hal ini memang
karena tidak ada perlawanan seimbang. Bila Barat tampil dengan kekuatan negara
Ideologis, yakni Eropa dan Amerika. Sedangkan umat Islam masih belum siuman
dari kejatuhannya. Atau bisa dikatakan masih kucek-kucek mata. Bahkan parahnya,
ada yang bersifat reaktif dengan kemilau peradaban Barat. Ia malah berasyik
masyuk menikmati hegemoni dan cengkeraman Barat dengan mengikuti apapun yang
diperintahkan Sang penjajah.
Oleh
karena itu, kita tidak boleh menjadi terus menerus menjadi objek penjajahan
Barat. Kita harus tampil menjadi generasi Ulul Albab, dimana Pak Haedar
mendefinisikannya sebagai “sosok cendekiawan atau intelektual Muslim yang di
dalam dirinya terintegrasi kekuatan iman, ilmu dan amal yang bersifat profetik
sekaligus transformasional untuk tampil sebagai pembawa misi Islam sebagai
rahmatan lil-‘alamin di zaman modern abad ke-21 ini.”
Dengan
demikian, kebangkitan tidak bisa diraih tanpa kebangkitan taraf berpikir. Yakni
kebangkitan yang dilandasi dari keimanan yang produktif, yakni keimanan yang
berbuah pada ilmu dan amal. Sehingga para agen kebangkitannya pun hanya membawa
misi Islam, bukan membebek membawa misi-misi Barat yang justru semakin
menancapkan penjajahan mereka.
Kemudian
bila Barat bangkit dengan renaissance yang berbuah pemisahan seluruh
kehidupan dunia dari agama, maka tidak layak bila kaum muslimin ikut-ikutan
memisahkan dunia dari agamanya, karena ini berarti ia telah mendisintegrasikan
iman, ilmu dan amal. Sehingga bila Barat bangkit dengan meninggalkan agamanya,
justru umat Islam bangkit dengan memegang teguh agamanya.
Akhir
kata, kaum muslimin pendahulu kita telah sukses bangkit memimpin dunia selama
1300 tahun lamanya, mengapa kita tidak mencontohnya? Yakni, dengan membangkitkan kembali ideologi Islam
dan menghidupkan kembali kekuatan realnya dalam bentuk negara khilafah
Islamiyyah. Wallohu a’lam bishshowwab. (27/10/2013)
*) Penulis adalah Alumni SMU Muhammadiyah I Kota Tasikmalaya angkatan
1998 dan aktifis HTI Tasikmalaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar