gaulislam edisi 001/ tahun I (17 Syawal 1428 H/
29 oktober 2007)
Jangan Jadi
Bunglon
Hilang sudah kesan islami sepanjang hari. Lenyap sudah suasana
“kota santri” dadakan. Kesan islami sepanjang hari selama Ramadhan akhirnya
harus hilang sesaat setelah Lebaran. Suasana “kota santri” pun yang sering kita
pertunjukkan di saat Ramadhan, kini kembali ke selera asal setelah Idul Fitri.
Lenyap sudah suasana tersebut dan berganti suasana kehidupan bebas tanpa batas seperti
sediakala (adegan: merenung, geleng-geleng kepala dan menunjukkan sikap
prihatin, terus berdesis: hmm…)
Sobat muda muslim, waktu Ramadhan lalu, banyak di antara kita yang
megenakan busana muslim/muslimah. Kita yang tergolong orang biasa dan mereka yang
masuk kalangan seleb, semuanya punya pikiran dan perasaan: harus tampil islami.
Meski hanya ditonjolkan lewat busana namun justru itulah cara termudah untuk ‘mengelabui’ orang.
Percaya atau nggak masih bisa diperdebatkan. Tapi yang jelas, aksi tampil beda
saat Ramadhan bagi yang sebelumnya memang rada-rada “okem”, ya memang
mencurigakan. Apalagi jika kemudian setelah Ramadahan berlalu kembali “okem”.
Tul nggak sih?
Okelah, soal niat dan motivasi cuma pelakunya yang tahu dan tentu
Allah Swt. Tapi yang pasti perubahan “dadakan” di bulan Ramadhan itu bisa
berdampak positif dan negatif sekaligus. Positifnya jelas. Tampilnya sebagian
dari kita mengenakan busana muslim/muslimah dan maraknya syiar Islam di bulan
suci yang lalu memberi kesan bahwa kita sadar betul dengan apa yang harus kita
lakukan, yakni menghormati bulan Ramadhan sekaligus nunjukkin bahwa diri kita
serius menghargainya dengan cara menjaga imej diri dan menyesuaikannya dengan
ajaran Islam. Apalagi jika kemudian hijrah total dari kegelapan menuju cahaya
Islam meski Ramadhan telah berlalu. Bukti riilnya ditunjukkan dengan tetap
berbusana menutup aurat sesuai tuntunan syariat, juga perilaku yang
ber-akhlaqul karimah selepas Ramadhan. Hmm.. semoga ya.
Namun, selain berbuah sisi positif, ternyata juga dalam “perubahan
dadakan” itu memunculkan sisi negatif. Apalagi jika kemudian setelah Ramadhan
berlalu, kita balik lagi ke selera asal. Jadinya, kesan bahwa kita itu
memanfaatkan situasi jadi kentara banget. Yup, memanfaatkan momen Ramadhan
hanya untuk kepentingan sesaat. Motivasinya lebih karena ingin dianggap baik di
hadapan manusia: berbusana yang sopan, bertutur kata yang baik, berperilaku
yang sesuai ajaran Islam, bahkan para musisi juga rame-rame bikin album religi
di bulan suci. But, selepas Lebaran hilang semua itu. Nggak ada bekasnya sama
sekali. So, jangan salahkan orang lain yang risih dengan perilaku
“bunglon” seperti ini, karena agama kayaknya dianggap sebagai komoditas untuk
menjaga atau memoles citra diri. Duile… teganya… teganya… teganya…
Busana sebagai alat komunikasi
Dulu, tahun 1891, seorang antropolog Jerman bernama Eugene Dubois
melakukan perjalanan menelusuri jejak manusia purba di kawasan Jawa. Di buku
sejarah ditulis kalo doi menemukan fosil manusia purba yang kemudian dinamai
dengan Pithecanthropus Erectus or “erect-ape man” alias
manusia kera yang berjalan tegak. Nah, tentu aja digambarkan tanpa busana.
Karena jaman tersebut belum ada pakaian. Pada masa tersebut, busana belum
menjadi alat komunikasi. Karena apa yang mau dikomunikasikan dan kepada siapa
pesan itu ditujukan, iya nggak sih? Kalo pun ada pesan yang ingin disampaikan,
tapi bukan dalam bentuk busana.
Nah, waktu terus berjalan dan perkembangan manusia purba juga
terus mengarah menuju kemajuan. Misalnya dalam berbusana. Bahkan ada film
kartun yang dikemas dengan lucu yang menceritakan kehidupan “modern stone age”.
Yup, film televisi yang diudarakan di Amrik antara tahun 1960-1966 besutan
William Hanna dan Joseph Barbera itu diberi judul The
Flintstones. Kamu pasti udah pada hapal kan dengan tokoh-tokohnya? Ada
Fred, Wilma, dan tetangga mereka Barney Rubble.
Di film itu, ‘manusia purba’ udah ‘dipakaikan’ busana.
Busananya tentu bukan seperti jaman kita sekarang. Tapi busana yang dicocokkan
dengan jaman batu tersebut. Meski itu sebagai hiburan yang kocak banget, tapi
penataan setting cerita itu cukup detil, khususnya dalam busana. Busana yang
ditampilkan di film kartun (dan juga di film layar lebar garapan Steven
Spielberg tahun 1994) ingin mengkomunikasikan kepada penonton bahwa itulah
busana di “modern stone age”.
Sobat, pakaian memang bukan sekadar alat untuk menutup bagian
tubuh tertentu yang harus dilindungi dari sengatan sinar matahari, dinginnya
musim salju, dan menghindari goresan pada kulit akibat gesekan dengan benda lain,
tapi juga sebagai alat komunikasi.
Ketika pakaian digunakan untuk mengkomunikasikan status sosial,
maka ada pakaian kerajaan, ada pakaian yang khusus dikenakan para bangsawan,
juga pakaian kaum proletar bin rakyak jelata. Di Eropa, kalo kamu baca buku-buku
sejarah atau nonton film-film macam The Man in the Iron Mask yang
dibintangi Leonardo Di Caprio atau dalam serial film Robin Hood, kita bisa
bedain status sosial antara kaum proletar dengan kaum bangsawan adalah dari
busana yang dikenakannnya.
Busana juga kemudian berperan dalam membedakan profesi seseorang.
Misalnya nih, kalo ada orang yang berpakaian jas putih, apalagi dilengkapi
stetoskop, berdasarkan kesepakatan selama ini orang tersebut ‘dicap’ berprofesi
sebagai dokter.
Terus, pakaian juga bisa nunjukkin pesan untuk mengkomunikasi
identitas. Misalnya pakaian untuk cowok dan cewek juga beda. Pakaian dari
komunitas atau etnis tertentu juga pasti punya ciri khas. Bahkan pakaian berupa
simbol-simbol keagamaan pun yang dikenakan oleh pemakainya adalah untuk
mengkomunikasikan identitas mereka.
Nah, kaitannya dengan busana yang sopan dan rapi yang dikenakan
banyak orang saat Ramadhan, tentunya mereka punya tujuan untuk
mengkomunikasikan pesan kepada khalayak--tanpa harus ngomong dan menuliskan
dengan huruf gede-gede di spanduk--bahwa “ini lho saya!”, “Seperti inilah
kepribadian saya!”. Jadi, busana memang sebagai alat komunikasi, gitu lho.
Jangan (mudah) tertipu
Sobat muda muslim, dunia ini boleh dibilang kayak panggung
sandiwara. Semua orang ingin memerankan apa yang disukainya dan tampak menarik
di hadapan orang lain. Menarik di sini bisa sisi positif, bisa juga negatif.
Sebab, kita harus ngakuin juga dong kalo ada orang yang tertarik dan sangat
berminat di dunia kejahatan, maka ia akan ‘memerankan’ apa pun yang
identik dengan ikon kejahatan. Begitu juga sebaliknya, jika seseorang tertarik
di dunia kebaikan, maka ia akan memerankan apa pun yang identik dengan ikon
kebaikan, sesuai dengan kesepakatan umum manusia maupun agama. Itu sebabnya
barangkali orang ingin tampil bukan sekadar apa adanya, tapi harus ada
apa-apanya agar bisa dilihat orang lain dan membuat orang lain tertarik dengan
apa yang kita perankan.
Maka, kalo kita menganggap bahwa bertutur kata santun, berpakaian
sopan dan menjadi ikon kebaikan dalam pandangan masyarakat dan agama, maka kita
akan melakukan semua hal itu. Harapannya, tentu agar orang lain menganggap dan
menilai bahwa diri kita seperti yang ditampilkannya kepada khalayak ramai
tersebut.
Nah, ini pula yang menjadi kajian sosiolog kelahiran Manville,
Kanada, bernama Erving Goffman. Kajiannya yang terkenal adalah tentang Self (Self
Presentation). Bukunya yang sangat terkenal dan melambungkan namanya
ditulis pada tahun 1956 dan tahun 1959 berjudul The
Presentation of Self in Everyday Life. Menurut Goffman, interaksi (di
antara manusia) dalam hidup ini dapat dibandingkan dengan drama. Ia menilai
bahwa manusia itu suka berpura-pura dan munafik, atau setidak-tidaknya ia
bertindak untuk mendukung kesan kewenangan serta gengsinya bila ia sedang
menampilkan perannya yang sah (misalnya sebagai dokter). Bahkan jika seseorang
memang dokter yang berwenang pada aspek penampilannya yang ekspresif, dan bukan
semata-mata aspek fungsionalnya. (Ensiklopedi Psikologi, hlm.
132)
Sobat, kalo pernyataan Erving Goffman ini kita simak dengan
seksama maka kita bisa terapkan tuh untuk mengamati, mengkritisi dan menilai
prilaku kita dan semua manusia yang bisa kita jumpai dalam kehidupan ini.
Misalnya dalam kasus “berubahnya” penampilan kita pada momen-momen tertentu
karena ingin memberikan kesan kepada orang lain bahwa “inilah kita” yang
diinginkan oleh orang lain dengan standar norma masyarakat dan norma agama.
Meskipun hakikatnya apa yang kita tampilkan ke hadapan semua orang sebenarnya
bukan jatidiri kita. Halah, nipu dong?
Hmm.. bisa jadi. Maka Erving Goffman pun pernah tertarik pada
penggunaan status simbol yang penuh “tipu daya”. Ia berdalih bahwa: “simbol
lebih cocok dengan persyaratan komunikasi daripada hak dan kewajibannya yang
diartikan oleh simbol itu.” Tuh benar banget kan, bahwa sebenarnya kita
menampilkan diri di hadapan orang lain lebih karena ingin mengkomunikasikan
bahwa diri kita begini dan begitu melalui simbol yang kita kenakan. Bukan asli
diri kita.
Eiit.. jangan cemberut dulu. Kalo kamu nggak merasa niatannya
tampil beda bukan karena ingin “memanfaatkan” simbol untuk menipu orang lain
tentang kesan mereka terhadap diri kita ngapain musti ragu tampil beda. Iya
nggak sih? Apalagi tampil beda kita punya standar, yakni Islam.
Sobat, setelah kamu tahu soal ini, maka jangan lagi mudah tertipu
dengan penampilan luar dari orang lain ya. Sebab, penampilan seringkali berbeda
(meski tidak selalu) dengan aslinya. Percayalah.
Kepribadian Islam
Boyz and galz, nggak seru tentunya kalo
kita nggak nengok cara Islam ngatur umatnya. Benar. Islam emang punya konsep
tentang kepribadian manusia. Menurut Muhammad Muhammad Ismail dalam kitab al-Fikru
al-Islamiy, dalam pandangan Islam, akidah Islamlah yang akan membentuk
akliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) seorang muslim. Artinya, jika
akidah islamnya kokoh, pastinya akan mampu membentuk akliyah dan nafsiyah yang
oke juga. Kalo pun ada seorang muslim yang akliyah dan nafsiyahnya kedodoran,
atau seenggaknya berkualitas rendah, maka bisa dinilai bahwa itu berbanding
lurus dengan kualitas or level akidah islamnya.
So, jangan terlalu kaget kalo ada seorang muslim yang udah
punya nama islami, sering mengenakan simbol-simbol Islam untuk ditampilkan
kepada orang-orang di sekitarnya, tapi ternyata masih gemar melakukan perbuatan
yang dilarang ajaran Islam. Ini terjadi karena kurangnya pemahaman doi terhadap
ajaran Islam. Tentu, sikapnya tersebut belum bisa dikatakan bahwa dirinya
memiliki kepribadian yang islami. Sebab, Islam nggak menjadikan “penampilan”
sebagai standar utama kepribadian seseorang, tapi ukuran kepribadian dalam
Islam adalah apakah ia berpikir islami atau berperasaan islami. Itu aja.
Oya, meski demikian, bukan berarti penampilan yang mencirikan
jatidiri Islam dari seorang muslim nggak diperhatikan sama Islam, lho. Ada
bagian di mana Islam ngasih konsekuensi, euy. Contohnya,
kalo kita udah ngaku muslim, maka harus dong pikiran kita tuh Islam dan
perasaan kita juga Islam. Terus dalam pengamalannya juga harus islami.
Misalnya, mengenakan busana menutup aurat ketika keluar rumah sesuai dengan
ketentuan yang diajarkan dalam Islam.
Singkat kata nih. Nggak nyambung banget kalo kita sebagai muslim
hanya mengambil Islam sekadar simbol-simbolnya aja, sementara yang pokok
seperti pikiran dan perasaan kita dibiarkan dijajah ide sekularisme, demokrasi,
sosialisme, dan isme-isme lain di luar Islam.
Jadi, nggak perlulah menipu diri sendiri dan juga orang lain
dengan menampilkan kesan dari simbol yang kita kenakan untuk mengkomunikasikan
bahwa diri kita begini dan begitu sesuai standar kebaikan manusia, padahal
sejatinya kita tidaklah seperti gambaran yang kita buat. So, jangan jadi
bunglon deh. Ingat, mungkin kita bisa menipu sebagian besar manusia, tapi tidak
semua manusia bisa tertipu, apalagi menipu Allah Swt. Lagian, semua perbuatan
kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. kelak. Waspadalah!
Firman Allah Swt.:
“Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS al-Israa’ [17]: 36)
Yuk, biar nggak jadi bunglon, kita kaji Islam dengan benar dan
baik. Jadikan Islam sebagai akidah dan syariat. Amalkan dalam kehidupan
sehari-hari sembari terus mengkampanyekan dalam dakwah kita tentang wajibnya
menjadikan Islam sebagai the way of life bagi kita
dan seluruh kaum muslimin. Biar mantatap, gitu lho![solihin:
sholihin@gmx.net]