Tak hanya sekali saya menyaksikan. Bermotor di belakang mobil yang terbilang bagus. Namun secara tiba-tiba, pengemudi atau penumpangnya melemparkan botol minuman bekas melalui jendela mobil yang terbuka sebentar kemudian ditutup kembali.
Tak hanya sekali juga saya menyaksikan. Seorang pemotor atau boncengannya tiba-tiba melemparkan sebungkus kresek sampah ke pinggiran jalan. Bahkan beberapa jalan utama di kota tempat saya tinggal sekarang, memiliki banyak onggokan sampah liar.
Orang yang merasa terusik dengan onggokan sampah liar tersebut, atau bahkan pemilik lahannya. Tak jarang menuliskan larangan buang sampah. Mulai dari yang halus, "Terima kasih tidak membuang sampah di sini." Sampai yang paling kasar, semisal "Jangan buang sampah di sini, Monyet!" Atau "Hanya binatang saja yang buang sampah di sini." Tetapi, sepertinya semua plang larangan ini hanya menjadi accesories candaan yang tak berbeda dengan tulisan "om tolelot om". Plang larangan dipasang. Tetap saja sampah menumpuk.
Sampah memang selalu bikin masalah, meskipun pada sebagian orang bisa menjadi rupiah. Padahal sebagai seorang muslim, hendaklah merenungkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw berikut:
"Jauhilah tiga perilaku terlaknat; buang kotoran di sumber air, di pinggir jalan, dan di bawah naungan pohon." (HR Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Majah).
Kotoran yang tertera di dalam hadits tersebut, bisa pula termasuk sampah atau limbah yang dibuang oleh manusia. Kemudian kalimat "perilaku terlaknat" sudah cukup menjadi qarinah atau indikasi bahwa perbuatan tersebut diharamkan dalam Islam.
Bisa kita bayangkan, satu dua orang yang awalnya membuang sampah di pinggiran jalan. Lama kelamaan ratusan orang yang melakukannya. Bau busuk mengganggu dan penyakit pun menyebar. Berapa orang yang akan merasa terdzalimi dan melaknat para pembuang sampah sembarangan?
Atau kejadian yang lain misalnya. botol bekas minuman yang dibuang di pinggiran jalan itu kemudian tergilas pemotor sehingga orang celaka karenanya. Bahkan sampai meninggal karenanya, padahal anak istrinya masih membutuhkan nafkahnya lalu hidup melarat. Tidak aniayakah pelakunya? Bisa jadi para pelakunya tak berpikir sampai ke sana. Atau sudah termakan penyakit individualistis yang akut. Yang penting mobil saya bersih, yang penting rumah saya bebas sampah, peduli amat dengan jalanan umum atau orang lain.
Tak hanya mencela orang yang membuang sampah sembarangan. Islam pun sangat memperhatikan kebersihan. Abdullah ash-Shinnawi dalam al-Futuhat al-Islamiyyah menceritakan tetang salah seorang binaan utama Rasulullah Saw, yakni Umar bin Al Khaththab r.a. Tatkala beliau menerima kunci Baitul Maqdis kemudian memasuki Masjidil Aqsha. Beliau langsung mengamati kebersihan lingkungannya. Beliau langsung menunduk dan memunguti sampah yang ada di dalamnya. Aktifitas beliau ini pun langsung diikuti oleh orang-orang yang menyaksikannya. Padahal saat itu beliau adalah seorang kepala negara, yang saat itu wilayahnya sudah menguasai seluruh jazirah Arab dan negeri Syam. Begitulah perhatian seorang kepala negara dalam Islam terhadap kebersihan lingkungannya. Perilaku didikan Rasulullah Saw.
Bagaimana dengan kita yang ingin dianggap pecinta Rasulullah Saw dan juga pengikut para shahabat. Malulah kita pada mereka, para pendahulu kita. Rasulullah Saw dan orang-orang mulia yang mengikuti beliau.
Karena itu, marilah mulai saat ini. Stop perilaku buang sampah di jalanan. Mari sediakan tempat sampah meskipun itu di kendaraan pribadi sekalipun. Atau sediakan kantong kresek yang setelah terkumpul bisa dibuang di tempat sampah yang tersedia. Kemudian kepada para pemimpin. Marilah meniru Umar bin Al Khaththab r.a. Bukan berarti bahwa kita pun harus memunguti sampah seperti yang beliau lakukan, karena saat itu volume sampahnya masih sedikit. Tetapi mari sediakan pengelolaan sampah yang tersistematis dari rumah sampai ke TPA. Penyediaan armada dan tempat sampah yang sebanding dengan volume sampah. Seraya terus pula memahamkan masyarakat dan dunia industri akan pentingnya pengurangan volume sampah.
Semoga kita menjadi umat Muhammad Saw yang bisa mengikuti perilaku beliau dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam memperlakukan sampah. Aamiin.
(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)
Sadar kebersihan lingkungan, hehehe
BalasHapusBudayakan hidup bersih. Sehat.