Pada tahun 18 H terjadi wabah Tha'un yang menyebar cepat di Syam. Saat itu, pasukan kaum muslim berencana untuk membebaskan wilayah tersebut, tetapi belum sampai ke lokasi.
Kabar ini sampai kepada Khalifah Umar bin Al Khaththab r.a. Beliau mengajak kaum muhajirin untuk bermusyawarah, terjadilah perselisihan, antara meneruskan laju pasukan menembus wabah atau menahan diri darinya dan kembali ke Madinah. Deadlock.
Khalifah meminta para tokoh Muhajirin untuk meninggalkannya lalu memanggil kaum Anshar untuk bermusyawarah, terjadi lagi perselisihan, antara meneruskan laju pasukan menembus wabah atau menahan diri darinya dan kembali ke Madinah. Deadlock.
Khalifah meminta para tokoh Anshar utk meninggalkannya lalu memanggil para tokoh muslim dari kalangan Quraisy untuk bermusyawarah, tetap terjadi juga perselisihan, antara meneruskan laju pasukan menembus wabah atau menahan diri darinya dan kembali ke Madinah. Deadlock.
Setelah 3 kali bermusyawarah dan tetap terjadi perselisihan, keputusan tetap berada di tangan Khalifah. Khalifah Umar pun mengambil pendapat untuk menarik pasukan dan kembali ke Madinah.
Abu Ubaidah r.a. bertanya, apakah engkau akan lari dari taqdir Allah?
(Mungkin kalau dalam bahasa kekinian, apakah engkau akan mendahulukan protokol bumi daripada langit?)
"Seandainya bukan engkau yang bertanya demikian wahai Abu Ubaidah? Iya, aku lari dari taqdir Allah menuju taqdir Allah yang lain!" Tegas Khalifah Umar.
Dari kisah ini kita bisa mengambil 'ibroh bahwa perselisihan terkait mendahulukan 'protokol langit' dan 'protokol bumi' dalam menghadapi bencana sudah terjadi sedari dulu. Jadi, tetaplah hadapi dengan bijaksana.
Bahkan ketika khalifah Umar memilih untuk melaksanakan keduanya secara bersamaan, antara protokol langit dan bumi, masih ada juga shahabat senior sekelas Abu 'Ubaidah yang mempertanyakan. Seolah yang dilakukan oleh Khalifah hanyalah fokus pada hitung-hitungan manusia semata, tanpa memperhatikan protokol langit atau keimanan.
Tapi Khalifah Umar r.a. menegaskan kepada Abu Ubaidah r.a., meluruskan pandangannya, bahwa yang beliau lakukan bukanlah hanya fokus pada protokol bumi semata, atau memilih antara protokol bumi atau langit yang harus didahulukan. Tetapi yang khalifah Umar r.a. pilih adalah memadukan antara protokol langit dan bumi secara bersamaan dan tidak memilah-milahnya atau bahkan membenturkannya.
Semoga kita bisa mengambil 'ibroh. Tetap bijaksana. Para shahabat sebagai generasi terbaik binaan Rasulullah Saw saja demikian, apalagi kita, yang ibaratnya dengan debu yang menempel di terumpah mereka saja, ah belum tentu setara.
Menulis kisah ini, saya jadi teringat sebuah perjalanan ke Yogyakarta beberapa pekan yang lalu. Saat mampir shalat Shubuh di sebuah masjid yang alhamdulillah masih mau menerima pendatang non warga sekitar untuk ikut berjamaah.
Setelah berwudlu saya benar-benar lupa memakai kembali masker hingga shalat sunnah qobliah selesai. Selesai shalat sunnah, saya ditegur dan diingatkan supaya maskernya dipakai. Alhamdulillah masih diingatkan.
InsyaAllah mereka sedang menerapkan perpaduan protokol langit dan bumi. Buktinya mereka masih mau menerima pendatang untuk ikut berjamaah, msh membuka masjid lebar-lebar sebagai sarana bermunajat kepada Allah serta syiar agama-Nya. Namun kita juga harus paham, penuhi juga protokol bumi. Supaya semua jamaah pun lebih tenang dalam beribadah. Baik apapun pendapatnya terkait protokol langit dan bumi.
Hasbunalloh wa ni'mal wakil ni'mal maula wa ni'mannashir. (At. Billah, 6 Dzulhijjah 1442 H.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar