Kamis, 19 April 2018

Soal UNBK Susah, Pelajar Resah


Oleh. Tety Kurniawati
(Ibu dan Anggota Akademi Menulis Kreatif)

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SMA sederajat 2018 telah selesai. Namun yang menjadi perhatian para siswa, adalah sulitnya soal-soal yang disajikan dalam UNBK tersebut. Akibatnya, ribuan komentar protes atas kesulitan yang dialami siswa disalurkan di instagram (IG) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Terhitung hingga Sabtu (14/4/2018), 9.900 komentar membanjiri IG @kemendikbud.ri. ( sindonews.com 14/04/2018).

Lazimnya sebuah proses belajar mengajar pasti memerlukan evaluasi guna mengetahui sejauh mana penguasaan materi oleh peserta didik. Hal ini berlaku pula  pada UNBK.  Meski nilai UNBK  sudah tidak menjadi prasyarat kelulusan, namun menjadi  bahan pertimbangan ketika melamar pekerjaan dan mendaftar di perguruan tinggi. Alhasil, nilai ujian yang bagus masih menjadi incaran.

Sayangnya, harapan para pelajar untuk lulus dengan nilai memuaskan harus pupus di tengah jalan. Pasalnya, soal UN tahun ini dinaikkan level kesulitannya oleh Kemendikbud dengan menggunakan standar internasional yang disebut dengan HOTS (High Order Thingking Skills) atau ketrampilan berpikir tingkat tinggi. Dampaknya, jagat media sosial dibanjiri komentar terkait soal UN yang susah. Kesenjangan antara materi yang diujikan dengan apa yang telah diajarkan membuat para pelajar  resah.

Di lain sisi, Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia dan Asia Tenggara.  Hal ini tercermin dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA). Oleh karena itu Kemendikbud berusaha mengejar ketertinggalan  kualitas pendidikan anak bangsa,  yang salah satu caranya lewat peningkatan  level kesulitan soal UNBK.

Menanggapi pernyataan tersebut, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) berniat menemui Kemendikbud terkait soal UNBK yang dianggap susah.  Mereka menilai ada malpraktik pendidikan dalam pelaksanaan UNBK 2018. Senada dengan pernyataan KPAI,  Wakil Sekretaris Jenderal FSGI Fahriza Marta Tanjung menyebut aneh jika soal yang disajikan dalam UNBK menggunakan pendekatan Hight Order Thingking Skills (HOTS). Karena, selama ini siswa belum sepenuhnya menggunakan pendekatan itu dalam sistem belajar mengajar.

Jika dicermati lebih detail,  akar masalah keresahan para pelajar akan susahnya soal UNBK adalah penerapan paham sekulerisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Hingga agama (Islam) tidak lagi berperan sebagai pengendali motivasi manusia (driving integrating motive) atau faktor pendorong (unifying factor). Maka tak mengherankan jika kualitas pendidikan disandarkan hanya atas penilaian di atas kertas ( Nilai UNBK ).

Hasil belajar sekian tahun dianggap cukup dinilai dengan beberapa hari evaluasi ( ujian).  Bahkan tak semua mata pelajaran yang di ajarkan juga turut  di ujikan.  Kurikulum dan kebijakan pendidikan pun senantiasa berubah-ubah.  Alih-alih peningkatan kualitas pendidikan yang didapatkan, para pelajar justru jadi korban uji coba kebijakan.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan apa yang bisa kita temui dalam naungan Islam. Sistem pendidikan Islam mensyaratkan peserta didik untuk tidak sekedar menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi semata. Namun juga memiliki pemahaman ajaran agama yang mumpuni. Proses belajar didesain sedemikian rupa agar peserta didik mampu mengaktualisasikan penggabungan antara kecerdasan duniawi dan ukhrowi.

Para peserta didik tidak hanya menerima transfer ilmu dari para pendidik,  tapi dibimbing pemikirannya untuk selalu menjadikan  Islam sebagai qiyadah fikriyahnya. Tentu saja disertai proses tazkhif ( pembinaan) yang terus berkesinambungan agar bisa menghasilkan peserta didik yang berkepribadian Islam. Kurikulumnya pun disusun berdasarkan aqidah Islam. Harapannya setiap anak didik menemukan persoalan dalam kehidupan secara otomatis mereka akan mencari solusinya dari ajaran Islam.

Konsekuensinya, evaluasi dalam sistem pendidikan Islam dilakukan oleh para pendidik sesuai kebutuhan individu peserta didik. Karena Islam memahami benar bahwa tiap individu memiliki kemampuan dan potensi menyerap ilmu yang berberda-beda. Hal ini tidak berlaku jika materi yang dievaluasikan berupa pengetahuan umum yang wajib diketahui setiap individu rakyat. Maka proses evaluasi boleh dilaksanakan secara serentak bersama-sama.

Firman Allah : "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." ,(TQS Al Baqarah :155)

Lebih lanjut, proses evaluasi dalam sistem pendidikan Islam ditujukan untuk menghasilkan peserta didik yang bertakwa.

Firman Allah : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (TQS. Al Hasyr: 18).

Demikianlah jika negara ingin meningkatkan kualitas  pendidikan tanpa meresahkan para pelajar maka siatem pendidikan  Islamlah solusinya. Sistem pendidikan yang mampu mencetak generasi pemimpin peradaban gemilang.  Generasi yang mampu membawa kembali masa-masa kejayaan Islam. Wallahu a'lamu bishshawwab.

#KelasOpiniAMK
#AkademiMenulisKreatif
#PenulisBelaIslam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar