Kamis, 29 Desember 2016

Wujud Kasih Sayang

"Hati-hati Nak! Jalannya licin," seru kita jika berjalan bersama anak, lalu kita melewati jalan berlumut, berpasir atau berlumpur. Atau tulisan yang dipampang oleh warga, misal "Hati-hati, jalan banyak berlubang!" Karena merasa kasihan dan khawatir terjadi kecelakaan. Semua karena di dalam diri kita ada perasaan kasih dan sayang terhadap sesama, apalagi terhadap anak sendiri.

Secara tabiatnya manusia memang tak hanya hidup untuk dirinya sendiri. Ia mesti akan memikirkan orang lain bahkan bangsa lain. Manusia sering memikirkan bagaimana orang lain memenuhi kebutuhan hidup serta menyalurkan dorongan naluriahnya.

Terkisahkan dalam beberapa Sirah,  bahwa di masa Jahiliyyah ada sebuah tempat yang bernama Darun Nadwah. Tempat tersebut dibangun untuk membicarakan dan memutuskan urusan orang-orang Makkah. Bahkan, lelaki dan wanita Makkah tak bisa menikah jika tidak ke Darun Nadwah. Masa tersebut merupakan masa di mana manusia berada dalam kebodohan dari hidayah Allah. Tetapi tetap saja, mereka peduli akan sesamanya. Mereka memikirkan bagaimana orang lain hidup.

Peduli tentang bagaimana hidup orang lain, lalu sibuk mengurusinya, tidaklah menjadi pertanda adanya kasih sayang. Jika kepedulian yang dilakukan hanyalah untuk mengeksploitasi bangsa lain. Misal, kepedulian negara-negara kapitalis mengutangi negara-negara berkembang dan miskin. Semua itu hanya upaya agar negara berkembang dan miskin tetap terikat kepada mereka. Begitu pula dengan investasinya dan pandangan hidup yang diajarkannya. Semua dilakukan hanya untuk melanggengkan neoimperialisme.

Berbeda dengan dakwah, dakwah hadir dengan kepedulian dan kasih sayang. Ia sejalan dengan fithrah manusia yang sebenarnya. Tatkala Islam hadir di Makkah, ia mengajak masyarakat Jahiliyyah untuk mengesakan dan taat kepada Allah Swt. Padahal sebelumnya, kepercayaan mereka terhadap Allah hanya di bibir saja. Terucap dalam sumpah-sumpah mereka tetapi tercampur dengan kesyirikan serta menjauh dari perintah dan larangan-Nya. Terhadap mereka sudah diutus para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw, tetapi mereka sudah melenceng jauh darinya. Islam datang meluruskan tauhid dan ketaatan kepada Allah Swt. Islam hadir dengan kasih sayang, menyelamatkan pemikiran yang paling asasi.

Islam pun mengajarkan berlaku adil sesama manusia hatta kepada seorang budak sekalipun. Islam mempersaudarakan orang-orang yang tadinya saling bermusuhan. Islam menyambungkan tali silaturahmi padahal sebelumnya tak pernah dilakukan. Islam mengajak agar menyayangi anak-anak perempuan serta berlaku jujur dalam perdagangan. Padahal anak-anak perempuan saat itu tiada harganya, begitu pula kecurangan merupakan seauatu yang lumrah adanya.

Oleh karena itulah, ketika Islam menyentuh akal dan menembus hati musuh-musuh Islam, mereka berubah drastis menjadi pembelanya. Mereka menjadi orang-orang yang sangat mencintai Rasulullah Saw dan Islam. Sebut saja Umar bin Al Khaththab r.a., Khalid bin Walid r.a., Muawiyah bin Abu Sufyan r.a. Atau seorang Tsumamah bin Tsa’al yang berkata kepada Rasulullah SAW :

“Ya Muhammad, demi Allah, dulu tidak ada tidak ada satu wajah pun di muka bumi ini yang paling aku benci daripada wajahmu. Tapi akhirnya, wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada satu agama pun yang paling aku benci daripada agamamu, tetapi sekarang agamamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah, dulu tidak ada suatu negeri pun yang paling aku benci daripada negerimu, tapi sekarang negerimu adalah negeri yang paling aku cintai.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Begitulah dakwah Islam. Dakwah Islam merupakan wujud kasih sayang. Dan semua itu telah terbukti dalam perjalanan kehidupan manusia selama berabad-abad. Selama Islam dijadikan panduan dan masyarakat hidup dalam kehidupan Islam, maka manusia hidup tenteram di dalamnya. Ketentraman ini tak hanya dirasakan oleh kaum muslim namun juga oleh non muslim.

Karena itulah bagi umat Islam dakwah tak sekedar kewajiban, ia juga sebagai wujud kasih sayang, agar manusia tetap berada dalam derajatnya sebagai manusia. Mencegah manusia dari ketergelinciran pada suatu yang membahayakan atau keterpurukan pada suatu kebinasaan. Wallohu a'lamu bishshowwaab.

(Ary H. - Islamic Writer & Blogger)

#MudahNulis
#Muslim_berdakwah_melalui_nulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar