Jumat, 08 Januari 2016

Antara Sakitku dan Pengorbanan Ibu

Malam itu, Senin malam di awal Januari 2016. Sebuah musibah mendera diri ini. Aku berharap, hal itu merupakan salah satu tanda kasih sayang Allah untuk hamba-Nya. Karena, dikatakan dalam sebuah hadits bahwa jika Allah Swt mencintai hamba-Nya maka Ia akan timpakan musibah kepada-Nya.

Badan menggigil karena panas dingin, disertai pusing dan sakit kepala mungkin sudah dianggap biasa, karena itu hampir ada pada setiap reaksi tubuh melawan penyakit. Tetapi, rasa panas menjalar di sekeliling pinggang, disertai rasa pegal dan ngilu yang memenuhi seluruh bagian kaki, sungguh nyeri yang tiada terkira. Ku hadapkan badanku ke kanan, derita itu tiada sirna. Ku balik ke arah kiri pun tetap sama. Berbaring, nyeri tak terperi. Ku coba duduk pun pegal dan panas terus mendera tak terhenti. Rasa ingin buang air kecil menghebat, tetapi tatkala kupenuhi hanya sedikit yang keluar. Sisanya, tinggal rasa panas. Hanya istighfar, tahlil yang terus kubaca.

Semua rasa sakit itu aku rasakan sendiri dalam 2 malam 3 hari, dan menghebat dalam 1 malam. Setelah dirawat di RS, alhamdulillah semua rasa sakit itu sirna dan hanya tersisa lelah dan bahagia. Hasil diagnosa medis, apa yang ku derita karena infeksi saluran kencing, berpangkal pada peradangan pada kedua ginjal.

Mengapa kisah ini dihubungkan dengan seorang Ibu? Karena, ketika aku sedang dalam masa pemulihan di RS, seorang ibu bercerita kepadaku. Ia bercerita bahwa ia pun pernah menderita sakit yang sama dengan ku rasa. Katanya, sakitnya mirip dengan saat-saat menjelang melahirkan. Deg! Pikiranku langsung menerawang. Betapa besar derita dan pengorbanan seorang ibu, merasakan sakit yang seperti saat-saat menjelang melahirkan saja, sungguh diri ini lemah tak berdaya. Aku menjerit kepada Sang Penguasa langit. Sakit yang mungkin hanya mirip pada saat-saat menjelang melahirkan, karena tidak ada pengorbanan darah, derita luka sobek, disertai lelah dan capai yang berbulan-bulan sebelumnya dan bertahun-tahun sesudahnya pasti dirasa. Sebagaimana para ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui, menggendong dan banyak lagi yang tak bisa ku diktekan.

Sungguh setiap sakit itu ada hikmahnya. Hikmah bagiku selain menjaga pola hidup yang sehat, yaitu; yang pertama, betapa besar derita dan pengorbanan seorang ibu. Yang kedua dan ini yang utama, bersyukurlah hanya kepada Allah Swt yang menganugerahi sifat pelupa pada manusia. Karena separah apapun sakit yang dirasa, ketika sudah berlalu rasa itu akan hilang dan berganti dengan yang ia rasa kini. Derita pun langsung berganti bahagia. Dengan bahagia yang menghapus setiap derita inilah, Allah Swt melahirkan berbagai generasi terbaik melalui pengorbanan para ibu. Wallohu a'lamu bishshowwaab. (Ary Herawan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar