Selasa, 09 September 2014

Surat Terbuka teruntuk Para Ibu Muslimah; Semoga Rahmat Allah untukmu

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintangan demi aku anakmu...
Ibuku sayang masih terus berjalan, walau tapak kaki penuh darah penuh nanah...
Seperti udara kasih yang engkau berikan tak mampu ku membalas...ibu...

Penggalan syair lagu Iwan Fals ini kadang membuat saya terharu. Mungkin penggalan syair lagu tersebut tidak akan sama persis dengan pengalaman kita bersama ibu kita masing-masing. Namun apabila kita mengingat-ingat kembali memori sampai saat ini, sepertinya bait syair lagu tersebut masih belum cukup untuk mewakili derasnya curahan kasih sayang seorang ibu kepada kita.
Bisa kita bayangkan, manusia yang pertama kali bersedia mengorbankan seluruh lelah peluhnya untuk keselamatan kita adalah ibu kita. Selama 9 bulan ia membawa kita dengan penuh kehati-hatian kemana pun ia berjalan. Semakin hari semakin bertambah berat, bertambah pekan semakin melelahkan, bertambah bulan semakin memberatkan. Namun tak sedikit pun keluhan terucap dari lisannya. Malah senyum gembira dan cerita bahagia yang selalu ia sebarkan ke  teman, tetangga atau siapapun yang menanyakan kandungannya. “Alhamdulillah sehat!”, katanya dengan wajah ceria.
Bahkan ialah manusia yang pertama kali rela mengorbankan darah, bahkan nyawanya sekalipun hanya demi kelahiran kita. Tidak sedikit ibu yang meninggal saat ia melahirkan, atau wafat sesaat setelah senyum bahagia melihat wajah ceria bayinya. Subhanalloh ! baru dengan dua fakta saja, kita sudah merasa tak bisa untuk membalasnya. Hanya Allah SWT saja yang bisa membalasnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya :
“Wanita yang meninggal karena melahirkan anaknya, anaknya menariknya dengan tali pusar untuk masuk ke surga”. (Terj. H.R. Ahmad dari Rashid bin Hubais)
Para ibu mulia tersebut termasuk ke dalam salah satu di antara tujuh golongan yang mati syahid selain di medan perang
“dan seorang wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (Terj. HR. Malik, Ahmad, Abu Dawud, dan al-nasai, juga Ibnu Majah).
Apa yang tadi penulis sampaikan hanyalah fakta saat mengandung dan melahirkan, itu pun masih sangat terlalu sederhana untuk mendeskripsikannya. Sungguh berbahagialah kepada para ibu yang menikah, mengandung, melahirkan, mengasuh dan mendidik anak-anaknya dengan penuh keikhlashan. Sungguh pahala dari Allah senantiasa mengalir untuk ibu-ibu semua. aamiiin.
Namun bila terbersit pertanyaan di benak kita, lalu adakah jalan bagi  kita untuk membalas jasa-jasa seorang ibu? Jawabannya adalah “Ada”. Yaitu dengan mengi’tikadkan diri kita menjadi amal jariyah bagi ibu kita. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya :
“Apabila seseorang sudah meninggal maka seluruh amalannya terputus kecuali dari tiga perkara (yaitu) dari sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang mendoakannya.” (Terj. H.R. Muslim dari Abu Hurairoh).
Sehingga menjadi anak yang shalih/shalihah adalah jalan bagi kita untuk mengalirkan pahala yang tak terputus walaupun ibu kita sudah meninggal. Dan tentunya hadits di atas bukan dipahami pahala itu mengalir tatkala setelah wafat saja. Akan tetapi anak shalih/shalihah akan menjadi pahala yang terus mengalir kepada ibunya, bahkan tatkala ibunya wafat pun pahala kebaikan itu akan terus mengalir kepada beliau.
Oleh karena itu, kepada para muslimah kaum ibu dan calon ibu dimana pun berada, khususnya mamih yang telah berjuang dengan derita dan darah untuk keselamatan saya terlahir ke dunia, juga untuk istri tercinta yang telah mengandung dan melahirkan ketiga anak saya. Semoga rahmat dan kasih sayang Allah SWT tercurah untuk anda sekalian. aamiin.
Selanjutnya kepada semua yang pernah menjadi anak dari seorang ibu, mari kita i’tikadkan diri kita menjadi hamba yang shalih/shalihah yang selalu mendoakan orang tua kita,. InsyaAllah hal tersebut akan memberikan pahala yang terus mengalir kepada ibu kita, walaupun beliau sudah tiada. Selain itu, kita lanjutkan kebaikan tersebut dengan mendidik anak-anak kita menjadi anak yang shalih/shalihah, semoga dengannya menjadi amal yang terus mengalir walaupun ajal telah menjemput kita. aamiiin. (ary.attasiky)

   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar