Ribuan
kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintangan demi aku anakmu...
Ibuku
sayang masih terus berjalan, walau tapak kaki penuh darah penuh nanah...
Seperti
udara kasih yang engkau berikan tak mampu ku membalas...ibu...
Penggalan
syair lagu Iwan Fals ini kadang membuat saya terharu. Mungkin penggalan syair
lagu tersebut tidak akan sama persis dengan pengalaman kita bersama ibu kita
masing-masing. Namun apabila kita mengingat-ingat kembali memori sampai saat
ini, sepertinya bait syair lagu tersebut masih belum cukup untuk mewakili
derasnya curahan kasih sayang seorang ibu kepada kita.
Bisa
kita bayangkan, manusia yang pertama kali bersedia mengorbankan seluruh lelah
peluhnya untuk keselamatan kita adalah ibu kita. Selama 9 bulan ia membawa kita
dengan penuh kehati-hatian kemana pun ia berjalan. Semakin hari semakin
bertambah berat, bertambah pekan semakin melelahkan, bertambah bulan semakin
memberatkan. Namun tak sedikit pun keluhan terucap dari lisannya. Malah senyum
gembira dan cerita bahagia yang selalu ia sebarkan ke teman, tetangga atau siapapun yang menanyakan
kandungannya. “Alhamdulillah sehat!”, katanya dengan wajah ceria.
Bahkan
ialah manusia yang pertama kali rela mengorbankan darah, bahkan nyawanya
sekalipun hanya demi kelahiran kita. Tidak sedikit ibu yang meninggal saat ia
melahirkan, atau wafat sesaat setelah senyum bahagia melihat wajah ceria
bayinya. Subhanalloh ! baru dengan dua fakta saja, kita sudah merasa tak bisa
untuk membalasnya. Hanya Allah SWT saja yang bisa membalasnya, sebagaimana
sabda Rasulullah SAW, yang artinya :
“Wanita yang
meninggal karena melahirkan anaknya, anaknya menariknya dengan tali pusar untuk
masuk ke surga”. (Terj. H.R.
Ahmad dari Rashid bin Hubais)
Para
ibu mulia tersebut termasuk ke dalam salah satu di antara tujuh golongan yang
mati syahid selain di medan perang
“dan seorang
wanita yang meninggal karena melahirkan adalah syahid.” (Terj. HR. Malik, Ahmad, Abu Dawud, dan al-nasai, juga Ibnu
Majah).
Apa
yang tadi penulis sampaikan hanyalah fakta saat mengandung dan melahirkan, itu
pun masih sangat terlalu sederhana untuk mendeskripsikannya. Sungguh
berbahagialah kepada para ibu yang menikah, mengandung, melahirkan, mengasuh
dan mendidik anak-anaknya dengan penuh keikhlashan. Sungguh pahala dari Allah
senantiasa mengalir untuk ibu-ibu semua. aamiiin.
Namun
bila terbersit pertanyaan di benak kita, lalu adakah jalan bagi kita untuk membalas jasa-jasa seorang ibu?
Jawabannya adalah “Ada”. Yaitu dengan mengi’tikadkan diri kita menjadi amal
jariyah bagi ibu kita. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, yang artinya :
“Apabila
seseorang sudah meninggal maka seluruh amalannya terputus kecuali dari tiga
perkara (yaitu) dari sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih
yang mendoakannya.” (Terj. H.R.
Muslim dari Abu Hurairoh).
Sehingga
menjadi anak yang shalih/shalihah adalah jalan bagi kita untuk mengalirkan
pahala yang tak terputus walaupun ibu kita sudah meninggal. Dan tentunya hadits
di atas bukan dipahami pahala itu mengalir tatkala setelah wafat saja. Akan tetapi
anak shalih/shalihah akan menjadi pahala yang terus mengalir kepada ibunya,
bahkan tatkala ibunya wafat pun pahala kebaikan itu akan terus mengalir kepada
beliau.
Oleh
karena itu, kepada para muslimah kaum ibu dan calon ibu dimana pun berada,
khususnya mamih yang telah berjuang dengan derita dan darah untuk
keselamatan saya terlahir ke dunia, juga untuk istri tercinta yang telah
mengandung dan melahirkan ketiga anak saya. Semoga rahmat dan kasih sayang
Allah SWT tercurah untuk anda sekalian. aamiin.
Selanjutnya
kepada semua yang pernah menjadi anak dari seorang ibu, mari kita i’tikadkan
diri kita menjadi hamba yang shalih/shalihah yang selalu mendoakan orang tua
kita,. InsyaAllah hal tersebut akan memberikan pahala yang terus mengalir
kepada ibu kita, walaupun beliau sudah tiada. Selain itu, kita lanjutkan
kebaikan tersebut dengan mendidik anak-anak kita menjadi anak yang
shalih/shalihah, semoga dengannya menjadi amal yang terus mengalir walaupun
ajal telah menjemput kita. aamiiin. (ary.attasiky)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar